SOLOKANJERUK, balebandung.com – Direktur Utama Bank bjb Ayi Subarna menyatakan kesiapan bank bjb mendukung pembiayaan pengembangan perkebunan kopi hingga 1.000 hektare di kawasan Perhutani Kamojang, Kabupaten Bandung. Dukungan tersebut diarahkan untuk memperkuat produktivitas petani, meningkatkan pendapatan, serta memperluas akses pasar kopi spesialti Java Preanger hingga mancanegara.
Komitmen itu disampaikan Ayi dalam kegiatan Pelepasan Ekspor Kopi Speciality Java Preanger dan Penyediaan Akses Perlindungan Hari Tua melalui Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) bagi Kelompok Tani Kopi yang diselenggarakan Bank bjb bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di Center of Excellence (CoE) Kopi, Kecamatan Solokan Jeruk, Kabupaten Bandung, Selasa (27/10/2026).
“Ke depan, tambah jadi 1.000 hektare, bank bjb siap men-support untuk pendanaannya,” ujar Ayi.
Ia menegaskan, keberhasilan kemitraan Wanoja Coffee tidak cukup diukur dari besarnya kredit yang disalurkan, tetapi juga dari manfaat pembiayaan terhadap peningkatan produktivitas, penguatan pendapatan petani, dan keberlanjutan usaha kopi. Menurutnya, petani masih menghadapi tantangan berupa keterbatasan modal, kebutuhan sarana produksi, serta kepastian pemasaran hasil panen.
“Oleh karena itu, pembiayaan perlu didukung oleh ekosistem usaha yang terintegrasi dengan melibatkan para petani, offtaker, pemerintah daerah, dan perbankan,” katanya.
Ayi menjelaskan, pola kemitraan Wanoja Coffee menjadi salah satu contoh kolaborasi yang dapat memperkuat rantai usaha kopi. Petani memperoleh akses permodalan, offtaker mendapatkan dukungan terhadap kesinambungan pasokan, sedangkan perbankan dapat menyalurkan pembiayaan secara lebih terarah dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian.
Dalam kegiatan tersebut, pengembangan kopi di lahan Perhutani Kamojang telah mencakup sekitar 136 hektare. Pengembangan hingga 1.000 hektare diproyeksikan membutuhkan waktu tiga sampai lima tahun. Dengan asumsi kebutuhan pembiayaan Rp50 juta per hektare, potensi pembiayaan untuk pengembangan tersebut dapat mencapai Rp50 miliar. Angka ini merupakan estimasi kebutuhan pembiayaan berdasarkan luas lahan dan asumsi biaya per hektare, bukan nilai kredit yang telah disetujui atau dicairkan.
Ayi juga menyebut kehadiran Bank bjb Cabang Majalaya diharapkan semakin mendekatkan layanan perbankan kepada petani kopi di kawasan Kamojang. Ia berharap kemitraan tersebut dapat menjadi fondasi penguatan program kerja Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPKAD) pada 2027, sekaligus mendorong pengembangan potensi perkebunan Jawa Barat melalui akses pembiayaan dan layanan keuangan yang lebih luas.
Pada kesempatan yang sama, Bank bjb menyerahkan pembiayaan senilai Rp2,3 miliar. Namun, peruntukan dan rincian penerima pembiayaan tersebut perlu dipastikan berdasarkan data resmi kegiatan.
Kepala OJK Jawa Barat Darwisman turut mendorong perluasan akses pembiayaan bagi petani kopi, terutama untuk pengembangan kopi arabika yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Ia menilai pengembangan kopi di lahan Perhutani Kamojang dapat menjadi momentum awal pemberdayaan petani melalui akses keuangan yang mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Pelepasan ekspor dalam kegiatan tersebut mencapai 19,2 ton kopi spesialti Java Preanger. Pengiriman berikutnya direncanakan sebesar 19,2 ton pada pekan berikutnya, sehingga total volume dari dua pengiriman itu mencapai 38,4 ton. Kopi yang diekspor disebut telah melalui pengujian laboratorium lokal. Kegiatan ini juga disebut sebagai ekspor keempat dalam rangkaian usaha kopi yang dikembangkan.
Selain pembiayaan usaha, Bank bjb dan OJK turut mendorong pengenalan program DPLK bagi petani kopi. Program tersebut diharapkan membuka kesempatan bagi petani untuk mempersiapkan dana hari tua setelah tidak lagi aktif bertani. Petani juga didorong menerapkan pengelolaan keuangan keluarga secara lebih sehat, antara lain dengan memisahkan keuangan usaha dan rumah tangga, menyisihkan dana sejak awal, serta menghindari aktivitas keuangan ilegal.
Ayi berharap rangkaian kegiatan tersebut tidak berhenti pada seremoni pelepasan ekspor, tetapi berlanjut menjadi langkah konkret dalam memperkuat pembiayaan, produktivitas, kepastian pasar, dan perlindungan finansial petani kopi di Kabupaten Bandung.***







