Bale Bandung

Ada Pihak Swasta, Pedagang dan Pengelola Wisata Walini Resah

×

Ada Pihak Swasta, Pedagang dan Pengelola Wisata Walini Resah

Sebarkan artikel ini
Obyek wisata pemandian air panas alam Walini Kec Rancabali Kab Bandung.
Obyek wisata pemandian air panas alam Walini Kec Rancabali Kab Bandung.

RANCABALI – Pengelola dan para pedagang yang sehari-harinya menggantungkan hidup di pemandian air panas Walini di Kecamatan Rancabali Kabupaten Bandung, resah dengan adanya kerjasama antara managemen Pusat Koperasi Karyawan (Puskopkar) PTPN VIII dengan CV Graha Tunggal Elektronika.

Hadirnya perusahaan tersebut dalam pengelolaan pemandian air panas Walini dikhawatirkan akan menggusur para pengelola, pedagang serta warga setempat lainnya yang sejak puluhan tahun lalu jadi mitra di tempat objek wisata tersebut.

“Sebagai bagian dari pengelola di lapangan, kami sama sekali tidak dilibatkan oleh pihak managemen Puskopkar PTPN VIII soal kesepakatan kerjasama dengan perusahaan itu. Tiba-tiba pada 27 Desember lalu orang dari perusahaan itu mulai masuk ke sini dan memasang pintu tiket elektronik. Nah, sebelumnya pada 24 Desember mereka juga datang dengan pengawalan puluhan polisi bersenjata lengkap, seolah-olah kami ini akan melakukan aksi atau tindakan kriminal kepada mereka,” kata Herman Rubiana, Rabu (3/1/18).

Herman adalah salah seorang pengelola yang sehari-hari bertugas sebagai Humas dan Informasi di objek wisata alam Pemandian Air Panas Ciwalini.

Kehadiran perusahan tersebut, kata Herman, sampai sejauh ini memang belum berasa mengganggu pengelola dan para pedagang dan warga sekitar. Pihak PT. Graha Tunggal Elektronika baru memasang alat pintu tiket elektronik saja. Namun kedepannya tidak menutup kemungkinan akan menyingkirkan pengelola lama, mitra serta para pedagang dan mitra yang selama ini telah berjalan di objek wisata air panas tersebut. Dengan begitu, otomatis para pengelola dan orang orang yang notabene warga asil Rancabali ini bisa kehilangan mata pencahariannya.

“Kami para pengelola juga tidak begitu tahu kesepakatannya seperti apa managemen Puskopkar PTPN VIII dengan perusahaan tersebut, karena memang kami yang merintis dari awal pembangunan objek wisata ini tidak dilibatkan. Yah, cuma dengar sepintas saja kalau sekarang pengelolaan tempat ini dikerjasamakan dengan perusahaan itu. Nah, posisi kami juga nantinya seperti apa? Begitu juga dengan para pedagang juga resah takut diusir. Padahal mereka ini juga sama sama merintis dan juga mereka itu sama-sama warga asli dan pegawai perkebunan. Bahkan sampai saat ini juga ada yang masih aktif bekerja di perkebunan,”kata Herman.

Padahal, lanjut Herman, selama ini kondisi perusahaan berjalan dengan baik. Target pendapatan tahunan yang diberikan oleh managemen Puskopkar PTPN VIII bisa dipenuhi oleh pengelola. Seperti target 2017 lalu sebesar Rp 4,9 miliar. Jadi sebenarnya selama ini perusahaan berjalan dengan baik. Karena biasanya, suatu perusahaan bisa diambil alih atau bahkan dilikuidasi jika tidak sehat atau bahkan kolaps.

“Kami juga enggak tahu alasannya apa sampai harus dikerjasamakan dengan pihak lain. Yah kalau ada dugaan kecurangan atau kebocoran kan di internal di PTPN VIII juga selama ini kami diperiksa oleh Satuan Pengawas Internal (SPI) dan Badan Pemeriksa. Ini kok tiba tiba dikerjasamakan dengan pihak lain, hanya karena janji bagi hasil yang lebih besar tapi belum tentu benar,”ujarnya.

Herman melanjutkan, para pengelola dan warga lainnya juga menyesalkan tidak adanya upaya perlindungan dari pemerintah. Mulai dari tingkat desa, kecamatan hingga Kabupaten Bandung sama sekali tidak memberikan perlindungan atau paling tidak membuat warganya tenang. Padahal, saat ini mata pencaharian yang telah turun temurun digeluti oleh warganya itu tengah terancam oleh hadirnya perusahan swasta.

“Kekhawatiran kami ini sangat beralasan, karena melihat contoh-contoh yang sudah terjadi di beberapa objek wisata Kecamatan Rancabali ini. Setelah diambil alih swasta, kami warga asli di sini disingkirkan, bahkan dikriminalisasi. Nah, saya juga heran kemana para pemimpin kami dari mulai tingkat desa hingga kabupaten,”kata Herman.

Hal senada dikatakan oleh salah seorang pedagang di stan di lokasi kolam air panas Walini, Dedi Permana (52). Dengan masuknya swasta di tempat tersebut, Dedi bersama para pedagang lainnya khawatir suatu saat disingkirkan dari tempat itu. Padahal, kios yang ditempatinya satu satunya tempat mencari nafkah.

Di tempat itu, kata Dedi, ada 29 stan yang menjual berbagai jenis makanan dan minuman. Sedangkan di luar area kolam terdapat kurang lebih 50 an stan serupa yang menjual makanan, minuman, cendera mata, mainan anak dan lain sebagainya.

“Kami lihat contoh yang sudah terjadi di tempat lain di Rancabali ini. Pedagang lama dengan sendirinya terusir dari tempat usahanya. Dan ketika mencoba mempertahankan haknya malah dikriminalisasi oleh pihak kepolisian. Kondisi serupa bisa terjadi juga kepada kami para pedagang di sini,” ungkap Dedi. []

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bale Bandung

SOREANG, balebandung.com – Bupati Bandung Dadang Supriatna mendorong gerakan pemberantasan narkoba yang digalakkan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Bandung, dalam Konferensi Cabang (Konfercab) ke-XXV PC PMII Kabupaten Bandung di Gedung Moh Toha, Soreang, Sabtu (25/4/2026). Bupati Kang Dadang Supriatna (KDS) menegaskan bahwa persoalan narkoba merupakan ancaman serius bagi masa depan generasi muda dan harus menjadi […]

Bale Bandung

BANDUNG, balebandung.com – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Jawa Barat secara resmi mengukuhkan kepengurusan Komisi, Lembaga, dan Badan MUI Jabar masa khidmat 2025–2030. Pelantikan berlangsung di Masjid Raya Al-Jabbar, Gedebage, Kota Bandung, pada Minggu 19 April 2026 lalu. Ada 10 nama di antaranya diisi jajaran Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Bandung. Salah satunya Ketua […]

Bale Bandung

SOREANG, balebandung.com – Bupati Bandung Dadang Supriatna mengapresiasi pelatihan Standarisasi Imam dan Khatib yang digelar Pimpinan Daerah Dewan Masjid Indonesia (PD DMI) Kabupaten Bandung, di Aula SLRT Dinsos Kabupaten Bandung, Sabtu (25/4/2026). Menurut Bupati Kang Dadang Supriatna (KDS), DMI Kabupaten Bandung saat ini sudah eksis dan aktif berkegiatan, bahkan sudah terbentuk 31 Pimpinan Cabang DMI […]

Bale Bandung

SOREANG, balebandung.com – Sebanyak 31 Dewan Pengurus Kecamatan (DPK) Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) Kabupaten Bandung secara aklamasi memilih H. Abdul Rouf, M.Pd sebagai Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) BKPRMI Kabupaten Bandung periode 2026-2031. Abdul Rouf yang sebelumnya menjabat Sekretaris Umum DPD BKPRMI Kabupaten Bandung terpilih sebagai Ketua dalam Musyawarah Daerah (Musda) ke-VII […]

Bale Bandung

SOREANG, balebandung.com – Bupati Bandung Dadang Supriatna menegaskan pentingnya peran strategis Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) dalam menyerap tenaga kerja baru di Kabupaten Bandung. Hal itu disampaikannya saat menghadiri pelantikan pengurus DPD Himpunan Lembaga Latihan Seluruh Indonesia (HILLSI) Kabupaten Bandung periode 2026–2031 di Soreang, Jumat (24/42026). Dalam arahannya, Bupati Kang Dadang Supriatna (KDS) menekankan bahwa LPK […]

Bale Bandung

SOREANG, balebandung.com – Bupati Bandung Dadang Supriatna mengapresiasi Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda (PC GP) Ansor yang membentuk Satuan Tugas Penanganan Sampah berbasis pesantren. Satgas Penanganan Sampah Ansor ini merupakan bentuk aksi nyata dalam menjaga lingkungan hidup (ekologi) yang digerakkan oleh kader muda Nahdlatul Ulama (NU), yang juga dikenal sebagai Ansor Hijau atau satgas relawan sampah. […]