BANDUNG, balebandung.com — Dukungan terhadap Festival Al Jabbar terus mengalir. Kali ini datang dari maestro tari Sunda sekaligus budayawan nasional, Mas Nanu Munajar Dahlan atau Abah Nanu, yang menyatakan siap bergabung memperkuat penyelenggaraan festival tersebut.
Kehadiran dosen Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung yang selama puluhan tahun dikenal sebagai penggerak seni pertunjukan Sunda itu diyakini menjadi energi baru bagi Festival Al Jabbar yang tengah dipersiapkan sebagai panggung seni, budaya, dan peradaban Islam berskala internasional.
Tak hanya bergabung sebagai bagian dari tim penguatan konsep budaya, Abah Nanu membawa gagasan besar agar Festival Al Jabbar menjadi ruang pertemuan para pendekar pencak silat dunia.
“Insyaallah Festival Al Jabbar bisa menjadi momentum monumental bagi pewarisan seni pencak silat. Saat ini saya juga mendapat amanah membuka Program Studi Pencak Silat di ISBI Bandung,” kata Abah Nanu.
Ia mengungkapkan tengah membangun komunikasi dengan komunitas pencak silat internasional agar para pendekar dari berbagai negara dapat hadir di Jawa Barat.
“Saya ingin menghadirkan pendekar-pendekar silat dari puluhan negara dalam Festival Al Jabbar. Ini momentum yang baik untuk menunjukkan bahwa pencak silat merupakan kebanggaan bangsa Indonesia,” ujarnya.
Menurut Abah Nanu, Festival Al Jabbar tidak cukup hanya menjadi panggung pertunjukan seni, tetapi juga harus menjadi ruang penghormatan bagi para maestro dan guru besar pencak silat yang selama puluhan tahun menjaga warisan budaya Indonesia hingga akhirnya diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Tak Benda Dunia.
“Kita wajib memberikan penghormatan kepada para tokoh pencak silat yang sepanjang hidupnya menjaga dan mengembangkan warisan budaya bangsa,” katanya.
Nama Abah Nanu sendiri bukan sosok asing di dunia seni pertunjukan Indonesia. Selama lebih dari empat dekade, ia dikenal sebagai koreografer, peneliti, sekaligus pendidik yang aktif merevitalisasi berbagai kesenian tradisi Sunda seperti Doger Kontrak, Cikeruhan, Topeng, hingga Gaplek.
Karya-karyanya telah dipentaskan di berbagai negara, di antaranya Jepang, Korea Selatan, Amerika Serikat, Italia, dan Australia. Atas dedikasinya, ISBI Bandung menganugerahkan penghargaan Maestro Koreografer pada 2024.
Ketua Pelaksana Festival Al Jabbar, Bambang Melga, menyebut bergabungnya Abah Nanu menjadi penanda bahwa Festival Al Jabbar mulai mendapat kepercayaan dari tokoh-tokoh seni nasional.
“Kami bersyukur satu per satu tokoh budaya ikut bergabung. Kehadiran Abah Nanu bukan hanya memperkuat konsep festival, tetapi juga membuka peluang menghadirkan jaringan pencak silat dunia ke Jawa Barat,” kata Bambang.
Menurutnya, Festival Al Jabbar memang dirancang tidak sekadar menjadi agenda seni dan budaya, tetapi menjadi ruang kolaborasi lintas disiplin yang mempertemukan seniman, budayawan, akademisi, ulama, hingga komunitas budaya dari dalam dan luar negeri.
Dengan bergabungnya Abah Nanu, panitia optimistis Festival Al Jabbar akan berkembang menjadi salah satu festival budaya Islam terbesar di Indonesia, sekaligus menjadi panggung diplomasi budaya yang memperkuat posisi Jawa Barat sebagai pusat seni, budaya, dan pencak silat dunia.***







