SOREANG, balebandung.com – Pembukaan Pekan Olahraga dan Seni Antar Diniyah (PORSADIN) VIII Tingkat Kabupaten Bandung bukan hanya menjadi panggung unjuk kemampuan para santri. Kegiatan tersebut juga menjadi momentum untuk menanamkan keseimbangan antara kesalehan ritual dan kepedulian sosial.
Pesan itu disampaikan Ketua BAZNAS Kabupaten Bandung, Dr. KH. Yusuf Ali Tantowi, Lc., M.A., saat menghadiri pembukaan PORSADIN VIII di Gedung Ormas Islam Kabupaten Bandung, Sabtu (19/9/2026).
Kegiatan yang digelar DPC Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah (FKDT) Kabupaten Bandung tersebut bertujuan memberikan apresiasi sekaligus dorongan semangat kepada para santri madrasah diniyah dalam mengembangkan kemampuan olahraga, seni, dan karakter.
Penyelenggaraan PORSADIN VIII dipimpin Ketua Panitia Dr. H. Furqon Arifin, M.M.Pd., bersama Sekretaris H. Hidayat, M.Pd., serta didukung Ketua DPC FKDT Kabupaten Bandung Dr. H. Daud Nurdin, M.H.
Rangkaian pembukaan diisi dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars Madrasah Diniyah Takmiliyah, laporan panitia, sambutan, serta pembukaan resmi.
Di tengah kemeriahan kegiatan, Yusuf Ali Tantowi mengingatkan bahwa prestasi sejati seorang santri tidak hanya diukur dari kemampuan memenangkan perlombaan, tetapi juga dari akhlak, kedisiplinan, kejujuran, dan kepeduliannya terhadap sesama.
“Santri yang hebat bukan hanya santri yang menjadi juara. Santri yang hebat adalah mereka yang tetap rendah hati ketika menang, sabar ketika kalah, menghormati lawan, dan senang membantu orang lain,” ujarnya.
Menurut Yusuf, pendidikan diniyah harus melahirkan generasi yang memiliki keseimbangan antara ibadah badaniyah dan ibadah maaliyah. Ibadah badaniyah diwujudkan melalui salat, puasa, membaca Al-Qur’an, belajar, dan berbagai amal yang dilakukan dengan anggota badan. Adapun ibadah maaliyah diwujudkan melalui zakat, infak, sedekah, dan berbagi rezeki kepada sesama.
Untuk menegaskan eratnya hubungan antara salat dan zakat, ia mengutip atsar yang dinisbatkan kepada sahabat Abdullah bin Mas‘ud r.a.:
?????????? ????????? ?????????? ?????????? ??????????? ?????? ???? ??????? ????? ??????? ????
“Kalian diperintahkan mendirikan salat dan menunaikan zakat. Barang siapa tidak menunaikan zakat, maka tidak sempurna salatnya.”
Yusuf menjelaskan, pesan tersebut menunjukkan bahwa ajaran Islam tidak memisahkan hubungan dengan Allah dari tanggung jawab kepada sesama manusia. Salat mendidik manusia agar taat kepada Allah, sedangkan zakat membebaskan manusia dari sifat kikir dan menumbuhkan kepedulian sosial.
“Rajin salat harus melahirkan pribadi yang peduli. Jangan sampai seseorang tekun beribadah, tetapi membiarkan tetangganya kelaparan atau menutup mata ketika orang lain membutuhkan pertolongan,” katanya.
Karena itu, budaya berbagi perlu diperkenalkan kepada para santri sejak dini. Meskipun belum seluruh santri berkewajiban menunaikan zakat mal, mereka dapat mulai membiasakan diri menyisihkan sebagian uang saku untuk berinfak dan bersedekah.
“Kita tidak melihat besar atau kecilnya pemberian anak-anak. Hal yang paling penting adalah tumbuhnya rasa ikhlas, empati, dan kebiasaan berbagi. Dari kebiasaan kecil inilah kelak akan lahir generasi muzaki yang amanah,” ungkapnya.
Ia berharap guru diniyah dan orang tua tidak hanya mengajarkan tata cara ibadah, tetapi juga memberikan teladan nyata dalam menolong orang lain. Pendidikan agama akan semakin bermakna apabila ilmu yang dipelajari menghadirkan perubahan dalam perilaku sehari-hari.
Yusuf juga menilai PORSADIN memiliki nilai strategis karena mengintegrasikan pendidikan jasmani, kreativitas, spiritualitas, dan persaudaraan. Olahraga melatih kekuatan dan kedisiplinan, sedangkan seni menumbuhkan kreativitas serta kehalusan rasa.
“Jika kekuatan fisik, kecerdasan, iman, akhlak, dan kepedulian sosial tumbuh bersama, insyaallah para santri akan menjadi generasi yang paripurna dan siap memberikan manfaat bagi masyarakat,” jelasnya.
Melalui PORSADIN VIII, ia optimistis madrasah diniyah akan terus melahirkan generasi unggul yang tidak hanya membanggakan dalam bidang prestasi, tetapi juga memiliki kepekaan terhadap persoalan umat.
“Jadilah santri yang kuat ibadah badaniyahnya dan kuat pula ibadah maaliyahnya. Jadilah generasi yang rajin bersujud kepada Allah sekaligus ringan tangannya dalam membantu sesama,” pungkas Ketua BAZNAS Kabupaten Bandung.***







