BANDUNG — Gelak tawa pecah di Gedung Kesenian Sunan Ambu ISBI Bandung, Rabu malam, 16 September 2026. Teater Laskar Panggung membawa lakon “Pabrik Begal” dalam rangkaian Teater Interkultural ISBI Bandung.
Alih-alih menghadirkan cerita kejahatan secara serius, Laskar Panggung mengolahnya menjadi satire. Humor, absurditas, dan permainan aktor yang ekspresif dipakai untuk menyentil kerasnya kehidupan, keserakahan, dan keinginan manusia mengubah nasib.
Cerita berpusat pada seorang bos pengusaha pabrik kerupuk yang terdesak keadaan. Ingin memperoleh kehidupan lebih baik, ia memilih jalan pintas: mengubah pabrik kerupuk menjadi “pabrik begal”.
Caranya tak biasa. Sang bos memanfaatkan robot yang dirancang khusus untuk menjadi mesin kejahatan.
Robot itu dibuat seorang profesor yang digambarkan sebagai sosok jahat. DNA para bajingan dan “syaetan” ditanamkan ke dalam tubuh robot, kemudian sistem otaknya diaktifkan untuk menjalankan tugas sebagai pembegal.
Sang bos berharap robot tersebut menjadi mesin pencetak kekayaan.
Namun rencana itu tidak berjalan seperti yang diharapkan.
Robot membawa memori dari profesor yang menciptakannya. Profesor tersebut rupanya telah bertobat sebelum meninggal. Kesadaran yang tertinggal dalam robot kemudian membuatnya justru memberikan nasihat kepada manusia yang menjadikannya alat kejahatan.
Premis absurd itu menjadi pintu masuk Laskar Panggung untuk membangun kritik. Kejahatan, keserakahan dan keinginan memperbaiki kehidupan bertemu dalam permainan yang mengundang tawa.
Para pemain menjaga ritme pertunjukan dengan permainan yang ekspresif. Kelucuan muncul dari situasi dan karakter, tetapi di baliknya terselip persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Tawa sebagai Cara Membaca Kehidupan
“Pabrik Begal” tidak berhenti sebagai cerita tentang robot pembegal. Laskar Panggung menggunakan humor sebagai cara membaca fenomena kehidupan.
Penonton diajak tertawa, tetapi pada saat yang sama berhadapan dengan pertanyaan tentang pilihan manusia ketika berada dalam tekanan kehidupan.
Bagi Laskar Panggung, panggung menjadi ruang untuk mengeksplorasi berbagai sisi kehidupan dan mengubahnya menjadi bahan perenungan.
Teater Interkultural ISBI Bandung sendiri mempertemukan sejumlah karya dengan latar budaya dan pendekatan artistik berbeda. Selain “Pabrik Begal”, hadir “Teater Film” karya dan sutradara Erwin Sirajuddin serta “Oemoen dengan Sepoetjoek Soeratnja” dari Wayang Nganjor Indonesia, Pandeglang, Banten.
Karya-karya tersebut membawa warna tradisi dari sejumlah daerah, antara lain Yogyakarta, Bandung, Padang Panjang, Sulawesi Selatan dan Banten.
Panggung Sunan Ambu pun menjadi ruang perjumpaan berbagai ekspresi seni pertunjukan.
Rangkaian kegiatan diawali seminar pada Selasa, 15 September 2026 pukul 09.00 WIB. Pertunjukan teater berlangsung tiga malam, 15–17 September 2026, mulai pukul 19.30 WIB.
Pertemuan tersebut mempertemukan pengetahuan, tradisi, kreativitas dan pengalaman seniman lintas generasi. Tradisi teater tidak hanya ditempatkan sebagai peninggalan masa lalu, tetapi terus dimainkan, ditafsirkan dan menemukan bentuk baru.
Puluhan Seniman di Balik “Pabrik Begal”
“Pabrik Begal” disutradarai Yusep Muldiyana, dengan Shendi Septiandi sebagai asisten sutradara dan Apiw sebagai stage manager.
Musik digarap Reza Rizky, Rasyid Vanadi, Farhan Fvenyol, Yayan Katho dan Agoy. Penata gerak Laras Yoseph Iskandar, penata artistik Muhammad Lukman, penata lampu Rizgy Pratama Putera, multimedia Sangiaji dan penata rias Kori Yoseph Iskandar.
Sejumlah pemain dan kru turut terlibat, di antaranya Irwan Jamal, Irwan Guntari WK, Tonny Broer, Apip Chatrix, Mita Kultsum, Ipit S Dimyati, Yayas Yoseph Iskandar, Muhamad Lukman, Yayan Katho, Bigdado Firmansyah, Ayie S Bukharry, Bey Triya, Iyang Lidya, Arga Maulana Pratama, Dinda Meyna Saputra, Hizha Azura Modisty, Nadwa Rizky Fathiah, Frisha Putri Nurlani, Raia Raisya Khofiana dan Siti Ananda Saputri.
Turut terlibat Rafa Alaika Syahputra, Syakhizinda Sufy Mahendra, Nasywa Khumaira Putri, Calista Putri Fakhira, Najla Tamimah Akhyar, Henydhar Nur, Messi Fauziyyah Kamil, Naila Putri Nuraeni, Sipa Nopianti, Nazzala Bilbina Febiola, Zahra Fitri Andini, Zeiza Zahira dan Nezha Emeralda Desta.
Yusep mengatakan Laskar Panggung akan terus hadir di berbagai ruang pertunjukan, termasuk dalam momentum Teater Interkultural ISBI Bandung.
“Teater Laskar Panggung selalu akan hadir, khususnya pada acara-acara sakral seperti saat ini. Para pelakonnya merupakan para seniman yang percaya bahwa hidup itu adalah proses kebaikan untuk memberi nilai,” kata Yusep.
Menurut dia, fenomena kehidupan dapat menjadi bahan permainan sekaligus perenungan melalui peran dan eksplorasi berbagai sisi kehidupan.
Pada akhirnya, “Pabrik Begal” meninggalkan persoalan yang lebih besar dari sekadar robot dan kejahatan: ketika kehidupan terasa semakin keras, apa yang terjadi ketika manusia mulai mencari jalan pintas untuk mengubah nasib?
Laskar Panggung tidak menjawabnya lewat ceramah. Jawaban itu dibiarkan bergerak di antara gelak tawa, absurditas dan permainan para aktor di panggung Sunan Ambu.***







