Oleh: Iwa Ahmad Sugriwa
Seorang anak, sudah mahasiswi, mendapatkan THR dari orangtuanya saat Lebaran 2026. Anak itu ditanya sama ayahnya, “buat apa Kak uang THR-nya?” Si anak menjawab, “buat ditabung!”
Sebulan berselang si anak itu menerima lagi sejumlah uang dari orangtuanya sebagai hadiah ulang tahunnya. Si anak ditanya lagi sama ayahnya, buat apa Kak uangnya? Si anak menjawab, “buat investasi di reksadana”.
Kali ini si ayah jadi bengong, hah? reksadana? Memangnya, apa itu reksadana?
Si anak menjawab, itu investasi. Simpan uangnya di reksadana biar beranak pinak berkembang dan tidak berkurang.
“Kak, sebaiknya sebelum berinvestasi itu kamu harus punya dana cadangan dulu, dana darurat. Investasi itu harus uang dingin,” saran ayahnya.
Si anak menjawab, “lah, aku kan sudah punya dana cadangan yang THR dari ayah itu. Sekarang kan dapat lagi, ya diinvestasikan di reksadana,” tukasnya.
“Ayah juga berinvestasi, di bitcoin tapi,” ujar si ayah.
“Kripto kayak bitcoin itu fundamentalnya nggak jelas, Kakak belum paham bagaimana chart di bitcoin naik turun, fundamental apa yang mempengaruhinya. Terus volatilitasnya tinggi banget,” timpal si anak.
Si ayah mulai terpengaruh dengan argumen anaknya dan mulai tertarik dengan reksadana. Ternyata anak-anak muda jaman now sudah tertarik berinvestasi, kebanyakan mereka pilih reksadana.
Saat si ayah masih bengong, si anak malah balik menyerang dengan beberapa pertanyaan.
“Ayah sendiri, berinvestasi di kripto apa itu uang dingin? Apa masih punya utang? apa sudah tidak ada cicilan? apa sudah punya dana darurat?”
Karena dicecar, si ayah ngga mau jawab panjang lebar, cukup bilang: rahasia!
Alih-alih menjawab pertanyaan sang anak, si ayah malah bilang, “Ya, baguslah kamu mulai terjun investasi di reksadana. Daripada nyimpen uang di rekening tabungan bank, kena inflasi, kena admin, kena potongan segala macam. Lebih penting lagi, daripada kamu boros jajan mulu,” ujarnya.
Si ayah mending lebih menjelaskan bahwa reksa dana artinya wadah untuk menghimpun dana masyarakat guna diinvestasikan dalam portofolio efek oleh Manajer Investasi.
“Reksa dana jadi alternatif investasi aman untuk pemula karena dengan modal terjangkau bisa berpotensi menghasilkan keuntungan di atas deposito,” jelas ayah.
Perbincangan antara ayah dan anaknya ini menggambarkan ternyata anak muda sekarang lebih menggandrungi investasi di reksadana, ketimbang ikut arus investasi di kripto dengan embel-embel bisa cepat kaya. Padahal berinvestasi itu memerlukan waktuuntuk merasakan keajaiban compounding.
Lebih bengong lagi, saat si ayah membaca berita bahwa jumlah investor reksa dana di Indonesia terus bertambah dan kini semakin didominasi generasi muda.
Tercatat hingga akhir 2025, jumlah investor reksa dana tercatat mencapai 19,2 juta single investor identification (SID), naik 3,23 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang sebanyak 18,6 juta SID.
Menariknya, lebih dari separuh investor tersebut berasal dari kalangan muda. Sebanyak 54,24 persen investor reksa dana di Indonesia tercatat berusia di bawah 30 tahun.
Hal ini terungkap saat Sosialisasi dan Edukasi Reksa Dana 2026 (SOSEDU APRDI 2026) di Kantor OJK Jabar, Kota Bandung, Senin 20 April 2026.
Kondisi ini menunjukkan semakin banyak generasi muda yang mulai sadar pentingnya berinvestasi sejak dini. Selain dianggap lebih praktis, reksa dana juga dinilai sesuai bagi anak muda karena bisa dimulai dengan modal kecil dan dikelola secara profesional.
Seiring meningkatnya minat tersebut, dana kelolaan industri reksa dana di Indonesia juga tumbuh signifikan. Pada akhir 2025, total dana kelolaan atau asset under management (AUM) reksa dana mencapai Rp679,24 triliun, naik 35,06 persen dibanding akhir 2024 yang sebesar Rp502,92 triliun.
Jenis reksa dana yang paling banyak tumbuh adalah Reksa Dana Pendapatan Tetap, disusul Reksa Dana Pasar Uang, Reksa Dana Terproteksi, dan Reksa Dana Saham.
Hal itu menunjukkan sebagian besar investor Indonesia, termasuk generasi muda, masih cenderung memilih investasi dengan risiko rendah hingga menengah.
Direktur Eksekutif Dewan Asosiasi Pengelola Reksa Dana Indonesia (APRDI), Mauldy Rauf Makmur, mengatakan meningkatnya jumlah investor muda menjadi momentum penting untuk memperluas literasi investasi.
“Pertumbuhan investor, khususnya generasi muda, menjadi momentum penting bagi industri untuk terus memperluas literasi dan inklusi. Kami ingin semakin banyak masyarakat memahami pentingnya investasi yang terencana melalui reksa dana,” kata Maudy.
Karena itu, APRDI bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) menggelar program Sosialisasi dan Edukasi Reksa Dana 2026 (SOSEDU APRDI 2026).
Di Bandung, rangkaian kegiatan digelar pada 20-21 April 2026. Kegiatan diawali dengan kelas edukasi investasi reksa dana bagi jurnalis di Kantor OJK Provinsi Jawa Barat.
Selain itu, edukasi juga diberikan kepada mahasiswa di sejumlah perguruan tinggi di Jawa Barat, di antaranya Universitas Muhammadiyah Bandung, UIN Bandung, Universitas Sangga Buana YPKP, UPI, dan UNIBI.
Kepala OJK Provinsi Jawa Barat, Darwisman mengatakan, media dan kalangan muda memiliki peran penting dalam meningkatkan literasi keuangan di masyarakat.
Menurutnya, semakin banyak masyarakat memahami investasi yang aman dan sesuai profil risiko, maka semakin besar pula peluang tumbuhnya investor yang cerdas dan bertanggung jawab.
“Program PINTAR Reksa Dana bukan sekadar kampanye, tetapi gerakan untuk membangun budaya investasi yang disiplin, terencana, dan berorientasi jangka panjang,” kata Darwisman.
Sementara itu, Kepala Direktorat Pengawasan Pengelolaan Investasi 2 dan Pasar Modal Regional OJK, Evie Sulistyani, menilai jumlah investor reksa dana di Indonesia sebenarnya masih berpotensi terus bertambah.
Sebab, jumlah investor saat ini masih relatif kecil jika dibandingkan dengan total penduduk usia produktif di Indonesia.
“Masih terbuka ruang yang sangat besar untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam investasi. Karena itu, dibutuhkan edukasi dan penguatan kepercayaan masyarakat,” ujar Evie.
Sebagai bagian dari kampanye tersebut, APRDI juga meluncurkan program PINTAR Reksa Dana dan gerakan #ReksaDanaAja yang puncaknya akan digelar pada 27 April 2026 di Bursa Efek Indonesia, Jakarta.
Melalui berbagai kegiatan PINTAR Reksa Dana, APRDI berharap semakin banyak generasi muda di Indonesia, termasuk di Jawa Barat, yang mulai mengenal dan memanfaatkan reksa dana sebagai pilihan investasi masa depan.
Si ayah kemudian me-WA anaknya yang sedang kuliah, “Kak, tingkatkan literasi investasimu. Ini ada berita tentang Reksa Dana,” kata si ayah sambil menyertakan link atau tautan artikel ini. ***







