Bale Bandung

Kang DS Santuni 1.800 Orang Jompo, Kaum Dhuafa dan Anak Yatim

×

Kang DS Santuni 1.800 Orang Jompo, Kaum Dhuafa dan Anak Yatim

Sebarkan artikel ini
Anggota DPRD Kab Bandung Dadang Supriatna saat memberi santunan kepada 1.800 orang jompo, kaum dhuafa dan anak yatim di Desa Tegalluar, Kec Bojongsoang, Kamis (1/6). by ist
Anggota DPRD Kab Bandung Dadang Supriatna saat memberi santunan kepada 1.800 orang jompo, kaum dhuafa dan anak yatim di Desa Tegalluar, Kec Bojongsoang, Kamis (1/6). by ist
Anggota DPRD Kab Bandung Dadang Supriatna saat memberi santunan kepada 1.800 orang jompo, kaum dhuafa dan anak yatim di Desa Tegalluar, Kec Bojongsoang, Kamis (1/6). by ist

BOJONGSOANG – Sebanyak 1.800 orang jompo, kaum dhuafa dan anak yatim mengikuti acara buka bersama di 14 masjid jami Desa Tegalluar Kecamatan Bojongsoang Kabupaten Bandung. Selain bukber (buka puasa bersama), kegiatan tersebut langsung disambung solat sunah tarawih dan pembagian zakat setiap hari oleh anggota DPRD Kabupaten Bandung Dadang Supriatna.

“Kegiatan ini untuk lebih meningkatkan silaturahmi dengan buka bersama sambil menyampaikan zakat mal. Ini memang kegiatan rutin kami setiap tahunnya,” kata Kang DS, sapaan Dadang Supriatna dalam rilisnya, Kamis (1/6/17).

Ia menambahkan kegiatan itu pun merupakan wujud kepeduliannya terhadap masyarakat yang kurang beruntung. “Karena itu fokus kegiatan kami pada Ramadhan dan menjelang Lebaran ini yakni bisa berbagi dengan kaum dhuafa dan masyarakat yang sudah jompo. Apalagi di bulan Ramadan dianjurkan untuk memperbanyak amalan kebaikan seperti berbagi kepada sesama,” imbuhnya.

Kang DS mengaku dirinya telah melakukan hal tersebut sejak menjadi Kepala Desa Teggalluar tahun 1998 hingga kini menjadi anggota DPRD Kabupaten Bandung. “Sejak itu tak pernah putus melakukan buka bersama, tarawih keliling dan pembagian zakat secara massal,” ungkapnya.

Ia menambahkan, kegiatan itu dimulai pukul 5 sore yang sudah rutin setiap tahunnya. Apalagi, kata dia, mendapat dukungan dari Kepala Desa Hj. Emma Dety Permanawati Supriatna. Pada kesempatan itu, DS yang kerap mengikuti Tarawih Keliling (Tarling) memberikan kultum sebelum salat tarawih. Dalam kultumnya, diselipkan program pemerintah yang perlu diketahui para jamaah.

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bale Bandung

BALEBANDUNG.COM – aum awighnam?stu (semoga tiada halangan / semoga selamat) Pupuh DHINGDANG  ndan kawana h sang r narendra haneng wilatika nagari hanma r hayamuruk prabhu subala…maka dikisahkanlah sang Sri Narendra yang berada di negeri Wilwatikta, bernama Sri Hayam Wuruk, raja yang perkasa… *** Dalam naskah Kidung Sundayana, Bubat bukan sekadar perang. Ia adalah dakwaan berdarah […]

Bale Bandung

BALEBANDUNG.COM – Pangeran Wastu Kancana ditinggal wafat ayahnya, Prabu Maharaja Linggabuana, ketika ia berusia 9 tahun. Ayahnya meninggal dalam Perang Bubat tahun 1357 M. Karena Wastu masih terlalu muda untuk menjadi Raja Sunda, pemerintahan lalu dipegang oleh pamannya, Sang Bunisora, sebagai pejabat sementara raja. Perang Bubat bukan cuma tragedi gugurnya Prabu Linggabuana, Dyah Pitaloka, dan […]

Bale Bandung

BANDUNG, balebandung.com – Pusat Sumber Daya Komunitas atau PSDK DAS Citarum mendesak pemerintah mengevaluasi secara menyeluruh Peraturan Presiden Nomor 15 Tahun 2018 tentang Percepatan Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan DAS Citarum. Desakan itu disampaikan menjelang 10 Tahun Hari Citarum yang diperingati setiap 24 Mei. Ketua PSDK DAS Citarum Ahmad Gunawan mengatakan evaluasi diperlukan karena sejumlah program […]

Bale Bandung

PARARATON umumnya diartikan sebagai “Kitab Para Ratu”. Akar katanya adalah ratu. Dalam Jawa Kuno/Jawa Pertengahan, ratu tidak selalu berarti “ratu perempuan” seperti dalam bahasa Indonesia modern. Ratu bisa berarti penguasa, raja, raja perempuan, atau monark. Jadi lebih aman diterjemahkan sebagai penguasa kerajaan. Sumber ringkas juga menjelaskan Pararaton berasal dari “para ratu” yang berarti para penguasa, […]

Bale Bandung

balebandung.com – Tragedi Bubat tidak bisa terus-menerus dibaca sebagai kisah cinta yang gagal. Di balik rencana pernikahan Raja Majapahit, Hayam Wuruk, dengan putri Sunda, Dyah Pitaloka Citraresmi, ada perkara yang jauh lebih keras: kehormatan sebuah kerajaan yang dipaksa masuk ke dalam kalkulasi politik kekuasaan. Di titik itulah nama Gajah Mada tidak bisa dilepaskan. Ia bukan […]