BANDUNG, balebandung.com – Kekayaan tidak berhenti pada materi dan aset yang berhasil dikumpulkan. Bagi Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) sekaligus CEO Sintesa Group Shinta Kamdani, kekayaan juga menyangkut nilai yang dibangun dan diteruskan kepada generasi berikutnya.
Pandangan itu disampaikan Shinta saat mengisi kelas “Beyond Wealth: A Legacy That Lasts” dalam Wealth Wisdom 2026 di Bandung. Memasuki tahun ke-12 penyelenggaraannya, Wealth Wisdom tahun ini mengusung tema “Finding Balance, Building Resilience” dengan semangat “Growing Together Through Changes”.
Shinta berbicara dari pengalaman meneruskan bisnis keluarga yang telah berkembang lintas generasi selama lebih dari satu abad. Menurut dia, keberlanjutan bisnis maupun kekayaan tidak terjadi dengan sendirinya, melainkan harus dipersiapkan sejak dini.
Salah satunya dengan mengenalkan generasi penerus kepada dunia usaha. Dari proses itu, generasi berikutnya tidak hanya diharapkan memahami bisnis, tetapi juga memiliki entrepreneurial mindset, kompetensi, etos kerja dan daya tahan menghadapi perubahan.
Nilai tersebut kemudian diterapkan dalam menjalankan bisnis melalui prinsip empowerment, entrepreneurship, excellence, dan empathy. Orientasinya tidak berhenti pada keuntungan, tetapi juga keberlanjutan usaha dan nilai yang dapat diwariskan.
“Bagi saya, wealth bukan hanya tentang materi, tetapi juga tentang nilai yang kita bangun dan teruskan kepada generasi berikutnya. Itulah yang membuat sebuah legacy dapat bertahan dan terus berkembang,” ujar Shinta.
Perspektif mengenai kekayaan dalam Wealth Wisdom 2026 tidak hanya berhenti pada persoalan legacy. Kesehatan ditempatkan sebagai fondasi untuk menjaga kemampuan seseorang tetap berkarya dan menjalani kehidupan dalam jangka panjang.
Dalam kelas “Healthy Body, Resilient Mind”, dokter dan penulis dr. Gia Pratama bersama dokter spesialis jantung dan pembuluh darah konsultan intervensi dan elektrofisiologi Dr. dr. Faris Basalamah, Sp.JP(K), membahas pentingnya menjaga kesehatan sebagai bagian dari kehidupan yang berkelanjutan.
Gia mengatakan menjaga kesehatan tidak selalu membutuhkan perubahan besar. Memperhatikan asupan makanan, menjaga kadar gula darah, mengelola stres dan rutin berolahraga dapat menjadi kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten.
“Menjaga kesehatan tidak selalu membutuhkan perubahan besar. Yang penting adalah membangun kebiasaan baik dan menjadikannya bagian dari keseharian,” ujar Gia.
Faris menyoroti pentingnya menjaga kesehatan jantung, termasuk mengontrol kolesterol dan memperhatikan perubahan kondisi tubuh seiring bertambahnya usia. Menurut dia, pencegahan dapat dimulai melalui perubahan gaya hidup sederhana, termasuk olahraga ringan yang dilakukan secara konsisten.
Sementara itu, aspek lain dari pengelolaan kekayaan dibahas melalui kemampuan membaca perubahan ekonomi dan pasar. Dalam sesi “Reading the Market, Building the Future”, Chief Economist & Investment Strategist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia Dr. Katarina Setiawan membahas dinamika ekonomi dan pasar. Investor saham Lo Kheng Hong berbagi perspektif mengenai cara membaca nilai dan peluang investasi dalam jangka panjang.
Katarina melihat kondisi ekonomi dari sejumlah sisi. Pertumbuhan ekonomi yang tetap resilien, inflasi yang terjaga dan stabilitas rupiah yang membaik menjadi faktor positif. Namun, arah kebijakan suku bunga global serta persepsi dan kepercayaan investor terhadap kebijakan dan tata kelola masih menjadi faktor yang perlu diperhatikan.
“Ketidakpastian tetap akan menjadi bagian dari perjalanan investasi. Karena itu, membangun kekayaan bukan hanya tentang mencari pertumbuhan, tetapi juga memastikan strategi yang dimiliki cukup resilient dalam menghadapi perubahan,” ujarnya.
Lo Kheng Hong menambahkan pentingnya kebiasaan reading and thinking dalam memahami pasar. Menurut dia, investor perlu membaca laporan keuangan, memahami bisnis di balik perusahaan serta melihat nilai dan prospek dalam jangka panjang.
Pengalaman investasi, kata Lo, juga menjadi bagian dari proses belajar untuk memperbaiki cara mengambil keputusan.
“Setiap pengalaman dalam investasi memberikan pelajaran. Bahkan dari kerugian, kita bisa belajar untuk menjadi lebih hati-hati dan tetap rendah hati dalam mengambil keputusan,” katanya.
Wealth Wisdom 2026 akhirnya membawa satu benang merah: membangun kekayaan tidak semata-mata soal menambah aset. Ada kesehatan yang harus dijaga, nilai yang perlu diwariskan, serta kemampuan membaca perubahan agar keputusan keuangan tetap bertahan dalam jangka panjang.
Melalui semangat “Growing Together Through Changes”, Permata Bank menempatkan pembahasan mengenai kekayaan dalam perspektif yang lebih luas, dari membangun hingga menjaga dan mempersiapkannya untuk berbagai tahap kehidupan.***







