Catatan Redaksi: Serial ini merupakan saduran prosa dari Kidung Sunda, karya sastra Jawa Pertengahan yang dikenal melalui tradisi manuskrip Bali/Jawa-Bali. Pengarangnya tidak diketahui secara pasti. Ada keterangan yang mengaitkan teks ini dengan kemungkinan pengarang berlatar Jawa yang pindah dan tinggal menetap di Bali, tetapi hal itu tetap perlu dibaca sebagai dugaan, bukan fakta final. Menariknya, meski bukan teks berbahasa Sunda, Kidung Sunda justru berpihak kuat kepada martabat Sunda dalam tragedi Bubat.
Kolofon naskah menyebut cerita ini selesai ditulis pada Senin Kliwon, wuku Kuruwelut, tanggal tujuh awal bulan Magha, tahun 1800 Saka, kira-kira sekitar 1878–1879 Masehi, kemungkinan awal 1879. Keterangan ini dipahami sebagai tanggal penulisan atau penyalinan naskah yang sampai kepada kita, bukan tanggal peristiwa Bubat. Saduran ini bukan edisi filologis, melainkan penulisan ulang berbentuk prosa agar pembaca modern lebih mudah mengikuti kisahnya.***
I. Kabar tentang Putri Galuh
Dangdanggula menjadi pemanis reka. Ia mengikuti tambo kuna, menukil dari buku lama, dirakit menjadi tembang kidung, gending Sunda masa kini, membahas sebagian babad leluhur dahulu, tentang zaman yang telah silam.
Kangjeng Prabu Maharaja Linggabuana unggul, moyang tanah Sunda. Konon Maha Sunda Aji mengembara ke luar negara, diiringi wadya bala. Ia berniat memungut mantu. Semua menuju Majapahit, memenuhi janji ratu dengan ratu. Perjalanan itu lewat laut (memakan waktu tujuh hari tujuh malam). Amat banyak kapal mengiringi Baginda, semuanya bermuatan lengkap.
Namun Ratu Sunda sebentar kita tinggalkan. Mari uraikan sejarah yang menjadi pokok lelakon.
Di Majapahit bertahta seorang raja maha kuasa: Ratu Agung Majapahit, harum masyhur juluknya, Ratu Hayam Wuruk. Ia tersohor pandai dan arif, sakti tiada tara, tenar bijaksana.
Ia dikasihi ningrat maupun rakyat seisi Pulau Jawa. Mereka setia menghadap Baginda. Bahkan yang jauh pun—Wandan, Koci, Tumasik, Bali, Sawangkung, Tanjung Pura—semua tunduk takluk, menanti perintah. Tiap tahun tak putus sembah upeti kepada kuasa Sang Nata Wisesa.
Sejahtera Sri Narpati. Ia bagai Dewa Kamajaya: tampan, pandai bersolek, tegap, gagah perkasa. Berdarah bangsawan Keling, ramah budi bahasanya. Maklum putera ratu, jelas ahli bertapa, tinggi agung keturunan satria, patut dipuja-puja.
Meski Ratu kaya harta dan ilmu, bijak memerintah negara, masih ada satu cela: tempat tenun tetap hening, taman sari tampak lengang. Bukan karena kurang sahaya untuk mengatur dan mengurus. Tetapi belum ada puteri yang patut menjadi pendamping Sang Nata.
Tak terhitung gadis cantik, puteri raja dari pelbagai negara. Namun tak satu pun berkenan di hati Baginda. Agaknya kurang serasi. Tak sesuai dengan angan-angan Sang Prabu. Ia masih saja mencari. Ia memilih yang unggul: pandai, elok, berdarah narpati, sederajat dengan Baginda.
Para mantri, tumenggung, dan bupati keras berupaya memenuhi kehendak Sang Prabu. Gambar-gambar puteri elok, karya pelukis ternama, dideretkan di hadapan Sri Baginda.
Patih Mada, pepatih Majapahit, bingung tak terhingga. Tiap negeri sudah diteliti. Puteri Palembang, puteri Madura, semua dilukis. Tetapi kalbu Sang Prabu tak tergerak oleh gambar puteri mana pun. Dimintanya puteri yang lebih molek lagi.
Syahdan, suatu ketika tersiar kabar terbawa pawana: Maha Ratu Sunda mendapat karunia Yang Maha Esa. Ia bangga memandang puterinya, yang dijuluki Puteri Galuh. Elok muda mempesona, bagai Dewi Sinta. Bukan sembarang cantik. Tak puas mata memandang. Bercahaya gemilang.
Mendengar kabar itu, Ratu Majapahit segera mengutus panggawa untuk membuktikan kata orang. Juru gambar ikut serta, sebagaimana biasa. Peralatan pun lengkap. Usai berkemas, mereka bertolak menuju pelabuhan, naik kapal, mengangkat jangkar. Para kelasi memasang layar.
Kebetulan angin baik berhembus. Perjalanan laut tak disebut panjang. Pendeknya, tibalah mereka di negara yang dituju.
Juru gambar telah siap melaksanakan tugasnya. Ia menggambar Putri Galuh tepat dengan aslinya, seolah sang Puteri sedang bercermin di air dan yang tampak hanyalah bayang-bayangnya.
Kagum orang melihat karya Arya Prabangkara, juru gambar tersohor, kekasih Sang Prabu. Betul-betul karunia Yang Maha Suci dalam hal menggambar. Jelas unggul, tiada bandingan. Gambar itu bisa tertukar dengan yang asli karena indahnya.
Usai menggambar sang Rajaputri, ia cepat naik kapal lagi agar gambar itu segera dilihat Sang Prabu.
II Prabu Tua Datang ke Majapahit
Dalam pada itu, Sang Ratu Kahuripan meninggalkan keraton bersama dindanya, Raja Daha. Mereka menuju Majapahit karena rindu kepada kang putra.
Raja Tua datang tanpa berkabar lebih dulu.
Maha Prabu Muda terkejut. Ia turun dari keraton untuk menyongsong yang baru datang. Dodotnya menggapai ke belakang, lepas dari pegangan sahaya. Bagian atas badannya telanjang. Prabu Muda segera bersembah.
Kedua tamu yang baru datang dipersilakan duduk. Baginda kembali bersembah.
Sang Raja Tua berkata, “Silakan engkau pun duduk bersama kami.”
Sang Prabu bersembah. Sebelum duduk, tuan rumah didekap oleh kedua tamu. Mereka tersenyum sambil membelai.
Lalu Prabu Tua berkata, “Kau bagai bunga layu. Apakah yang kau derita? Badanmu pun agak kurus, seperti tak sehat. Rama ikut bingung. Ramamu dari Daha pun datang bersama rama kemari karena waswas nian. Kami penasaran ingin tahu jelas penyebab penyakitmu. Katakanlah cepat.”
Sang Prabu Daha menyambung, “Nanda, ketahuilah. Kami datang ke sini bersama rama Prabu, selain karena lama tak jumpa, juga ingin bertanya: apa sebab kesusahanmu?” Ia memandang putra muda itu dengan heran.
“Kurang apa lagi anugerah yang ada pada ananda? Pandai, kaya, muda, tampan, termasyhur tiada banding, tersohor ke mana-mana. Dapat rama rasakan, ananda Prabu bagai Dewa dari Kayangan.”
Namun justru itulah yang membuat mereka bingung.
“Sayang, tak masuk akal. Yang rama tidak mengerti, putra belum juga ingin mengecap nikmat hidup. Ibaratnya bagai kembang di taman puspa, menuruti nafsu di bulan purnama, kala bunga-bunga rekah dan semerbak harum baunya.”
Prabu Daha tersenyum, tetapi kata-katanya tetap menyelidik.
“Namun heran, bau harum beribu jenis bunga hanya dicium belaka, madunya tak dihisap. Sungguh kumbang ganjil. Itulah ibaratnya. Maka rama bingung: bilakah kiranya engkau bergairah berahi, ataukah lagi bertapa?”
Prabu Muda menjawab lirih. Ia menyembah sambil tersenyum.
“Sudilah ayah memaafkan segala khilaf nanda.”
Ia berhenti sejenak, lalu menerangkan sebab-musababnya.
“Sesungguhnya, nanda lama tak beristri bukan karena bertapa. Bukan pula karena gundah. Tetapi belum sampai waktu. Masih ada yang dinanti, yakni Puteri Galuh, terkenal gadis pilihan, puteri Sang Prabu Sunda. Kabarnya tiada tara.”
Ia mengaku telah mengutus juru gambar untuk mengetahui rupanya.
“Tak sedikit gambar para putri, putra raja mancanegara, tetapi satu pun tak cocok. Tampak dari air muka, dari wajah dan martabat putri, belum patut dihias, dinaungi payung agung, menjadi ratu wanita, menguasai puri keraton Majapahit yang besar nian.”
Prabu Tua tersenyum.
“Syukurlah kalau begitu. Rama suka cita. Rama punya nazar: bila engkau jadi beristri, kedua mempelai akan kududukkan di pangkuan sesudah akad nikah, tanda suka, enyah sedih.”
Prabu Daha tertawa. Arya Patih pun suka cita.
Sang Prabu Tua lalu melirik kepada Patih.
“Setujukah Patih kalau Ratu beristri?”
Patih menyembah dengan wajah cerah.
“Gusti Prabu, suka cita tak terhingga. Siang malam hamba memohon kepada Maha Suci agar cepat terlaksana. Hamba bersedih hati karena belum juga menemukan yang padan bagi permaisuri. Utara dan selatan telah dijelajah, susah payah sia-sia. Mudah-mudahan sekarang maksud tercapai. Mohon restu Nalendra, pula Kanjeng Prabu Daha.”
Prabu Daha berkata, “Sekarang mari kita masing-masing berdoa agar berhasil, agar diterima Puteri Galuh.”
Seusai bercakap-cakap, mereka masuk ke puri. Tuan rumah dan tamu tetap bersama. Alangkah suka citanya.
Malam hari tamu-tamu minta diri. Esok harinya, semua menanti kedatangan gambar Puteri Galuh.(bersambung ke Bag III)







