III Gambar Puteri Galuh
Pagi itu Majapahit tampak berseri. Para hadirin berkumpul. Sang Prabu Tua, Prabu Daha, dan Sang Nalendra Majapahit duduk di tempat kehormatan.
Sang Nalendra Majapahit tampil gagah tiada tanding. Cahayanya benderang terang. Gagah pembawaan, tampan dari kodrat, patut menjadi pengayom negara. Tajam pandang matanya yang elok, tanda berakal tajam.
Busana Sang Hayam Wuruk tidak berlebihan. Sungguh sederhana. Dodotnya tidak dipegang ketika sampai di setinggil, sebagai hormat kepada ayahanda. Ia bersembah kepada Prabu Tua, Prabu negeri Kahuripan.
Prabu Tua senang melihat putranda. Ia mengajak Sang Nalendra duduk bersama. Tetapi sebelum duduk, Sang Nalendra Majapahit bersembah dari jauh, bukan di kursi gading, melainkan di tempat orang menghadap, berbeda dari tempat duduk ayahanda.
Sekalian hadirin memandang terarah kepada Gusti.
Lebih riang Prabu Tua melihat putra Narpati yang agung berkuasa di negara Majapahit. Sukar tandingannya: tampan, cakap, berbudi.
Sang Prabu Tua bertanya kepada Patih Majapahit, “Patih, bagaimana kabar dari juru gambar? Belum datang juga membawa gambar Nyi Putri? Ratu tak sabar menanti, ingin mendapat berita. Kalau-kalau ditimpa aral melintang di laut, tiada angin.”
Arya Patih bersembah.
“Tepat betul sabda Gusti. Sebab mengarungi laut ikut arah tiup angin, berbeda dengan di darat. Sering ditimpa waswas. Gusti lebih-lebih maklum bahaya menempuh air.”
Sang Prabu Tua mengangguk, tanda mengiakan Patih. Para ponggawa ikut bersuka cita mendengarnya.
Asmaranata kemudian bersembah kepada Gusti.
“Ya, Gusti Maha Prabu, izinkanlah patih, puruhita Sang Nata, menyampaikan warta dari orang-orang kapal yang datang kemarin. Adapun utusan Ratu, berkat restu Prabu, sudah pulang semua. Kapal berlabuh di Terung, mendarat mencari air, lalu ke Mahibih. Agaknya sudah sampai ke Bubat. Menurut hemat patih, bila tak ada aral melintang, hari ini juru gambar dapat memperlihatkan karyanya ke hadapan Tuanku.”
Tersenyum Sang Prabu Tua. Prabu Daha suka cita mendengar Puruhita, karena mendapat warta jelas. Sekalian hadirin bermohon kepada Yang Widi, agar diluluskan niat sang juru gambar dan agar cepat datang, karyanya diterima Sang Prabu.
Belum usai yang dibicarakan, tampaklah tanda kedatangan utusan.
IV Gambar Putri Galuh di Hadapan Para Raja
Esok harinya, para tumenggung dan bupati berkumpul di pendopo. Mereka duduk tertib di tempat masing-masing. Tak lama kemudian, Maha Narpati, Prabu Sepuh, dan Prabu Daha keluar dari keraton.
Pakaian mereka serba indah, silau dipandang mata. Sang Nalendra Kahuripan tampak seperti raja yang sukar dicari tandingannya. Dodotnya buatan seberang, dihiasi bunga emas. Sabuknya giringsing kawung, sedap ditatap mata. Kerisnya keris kadipatian, gagangnya dari emas murni, ditaburi merah delima, mutiara, dan manik-manik. Cahaya permata itu menyala, bersinar adu manis seperti kunang-kunang hinggap.
Sanggulnya bergaya Keling, digenggam emas berkilau, ditaburi intan adi. Ia tampak bagai garuda membelakang, elok dipandang mata. Di telinganya terpasang hiasan bunga putih, molek di kanan kiri. Gelang lengannya atmaraksa. Makin gagahlah Sang Narpati.
Anting-anting Brahma Wisnu berkepala mirah adi berkilau samar-samar, tampak menyala merah. Gelangnya tiga warna, kinatelon lilit ubi. Patutlah ia disebut ratu mulia, perkasa menjadi raja, sabar, adil, paramarta, dipuja seluruh hamba di Janggala Kahuripan, menjadi pelindung negara.
Sang Prabu Daha pun tegap bagai narpati. Dodotnya sutera berbunga, disulam warna emas, banyumasan kemerahan, membuatnya makin gagah. Sabuk giringsing wayang serasi bagi ratu. Keris pusakanya tampak, gagangnya berukir, direka seperti panglima buta, gagah, mata terbelalak, sedang memegang kembang yang menyala keemasan.
Para raja duduk. Para mantri dan hadirin menunduk hormat. Lalu diperlihatkanlah gambar Putri Ratu Sunda.
Prabu Daha memandang gambar itu. Sekali pandang saja, wajahnya berubah. Ia memuji keelokan sang putri.
“Tak ada taranya,” ujarnya, “di masa dewasa ini.”
Ia puas benar memiliki calon mantu seperti itu. Tak perlu mencari lagi.
Setelah puas memandang, Sang Prabu Tua berkata, “Ambillah gambar ini, hasil karya juru gambar.”
Ratu Agung Hayam Wuruk sekilas saja memandang gambar Putri Ratu Sunda. Tetapi sekilas itu cukup membuat hatinya terguncang. Dalam hati ia memuji. Baru kini ia melihat potongan putri yang demikian molek, tegap, berisi, sampai bisa tertukar dengan peri.
Semakin lama ditatap, semakin tergila ia kepada Putri Galuh. Alam mayapada seakan lenyap. Yang tinggal hanya si jelita.
“Dikau putri maha molek,” bisiknya dalam hati. “Sungguh ratu para putri. Tiada ada taranya. Dikau bagai Dewi Ratih. Mungkin bukan sembarangan. Mungkin peri gentayangan. Atau dewi yang menyamar. Dewi segala wangian, puspa-puspa petamanan, inti sari kasih, dewi dari kahyangan yang menggoda ratu prihatin.”
Sang Prabu bersuka cita. Raja Daha pun suka hati. Mereka paham bahwa gambar itu diterima baik.
Prabu Tua tertawa sambil mengangguk. Lalu ia berkata kepada patih, para mantri, dan semua hadirin agar bubar. Para ponggawa pun keluar.
Ketiga raja masuk ke dalam keraton. Mereka duduk di made soka, ruang tempat musyawarah.
Sang Raja Tua bertanya kepada Prabu Majapahit, “Sekarang bagaimana keputusanmu? Ayah ingin ketegasan mengenai Putri Galuh, putri Maha Ratu Sunda.”
Sang Narpati bersembah.
“Berkat doa ayahanda serta rama Prabu Daha, perkara Nyi Putri Sunda hamba kira memadai. Ia layak dinaungi payung agung. Layak menjadi permaisuri.”
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan suara lebih tegas.
“Malah andaikan ada yang menghalang-rintang agar Dewi gagal dijadikan permaisuri, niscaya ia akan hamba anggap lawan, musuh turun-temurun.”
Maka segera Patih dipanggil. Cepat-cepat ia datang, khidmat menghadap Ratu.
Patih diperintah bersiap-siap melamar Nyai Putri Galuh kepada Ratu Sunda.
Patih Mada mohon diri. Ia cepat keluar dari pendopo karena gembira diperintah Sang Prabu. Ia menghimpun wadya bala, memilih mantri dan tumenggung yang patut dibawa pergi.
Tak lama, surat dan barang bawaan siap. Mereka bertolak ke pelabuhan, lalu naik kapal. Para kelasi sibuk mengangkat jangkar dan memasang layar.
Kebetulan angin datang. Layar kapal melembung. Kapal meluncur ke arah barat. Pelabuhan makin jauh di belakang. Perjalanan lancar. Tampaklah pesisir Sunda.
Patih Mada bersiap-siap mengatur barang bawaan menuju ibu kota.
V Patih Mada Tiba di Sunda
Rombongan Majapahit mengunjungi kepatihan. Ki Anepaken kaget menerima kabar kedatangan tamu. Ia cepat menyambut, lalu menghadap Raja, mewartakan bahwa ada patih utusan Wilatikta, Majapahit.
Sang Prabu berkata, “Suruh istirahat dulu. Besok kita berkumpul. Hadapkan tamu-tamu itu.”
Ki Anepaken Patih bersembah mohon diri. Ia segera menyuruh orang berbenah, menyediakan segala sesuatu sebagaimana biasa. Titah Ratu diumumkan: esok harus bersidang.
Keesokan harinya, para mantri sudah berkumpul. Mereka berderet di tempat masing-masing. Tak lama kemudian Sri Baginda keluar dari keraton, berpakaian serba indah.
Mahkota emasnya mengkilap, membuat mata silau. Pentol mahkota bertatah intan berkelip, dikelilingi mutiara, diselingi biduri. Semuanya serasi dengan sanggul mayang mekar. Terlebih manis dengan kembang anggrek bulan yang cocok dengan pemakainya.
Antingnya dari mutiara. Dodot sanebabnya panjang, bagus, makin menampakkan ketampanan. Batiknya beremas menyala. Sabuknya pun indah.
Setelah Baginda duduk, Patih Mada dihadapkan.
Ia membawa surat ini.
“Mohon perkenan Jeng Gusti,” demikian bunyi permohonan itu, “sudi Gusti mengasihi nanda dalem yang hina, ikut mengakui rama kepada Sri Nalendra, menyampaikan permohonan semoga diterima.”
Surat itu berlanjut dengan kata-kata yang merendah, seolah suara seorang anak kepada ayah.
“Hanya berkah rama Aji yang nanda mohonkan sebagai penawar hati nanda Dalem yang prihatin dewasa ini, bagaikan burung malam rindu terang bulan. Atau bagai burung elang yang melayang di angkasa, berbunyi di awan hijau, haus menantang hujan musim kemarau.”
Lalu sampailah pada maksud utama.
“Nanda Gusti mohon angin, mohon diberi berkah. Perkenankanlah nanda melamar Sang Ayu Ratna, pujaan jimat keraton, mustika keputran Sunda, Putri Galuh yang mulia. Ia akan diangkat, dijadikan permaisuri di Keraton Majapahit, membawahi para wanita, semua hamba istana yang menantikan bakal gusti, jimat sanggar pujaan.”
Selain menyampaikan surat, Patih Mada juga diminta menjawab pertanyaan ramanda Prabu.
Seusai membaca surat, Ratu Sunda merenung. Ia merasa belas kasih membaca bunyi surat itu. Baginda ikut bersedih, merasa gundah gulana, menaruh belas yang sangat.
Setelah dipikir baik-baik, ia tersenyum dan bangkit. Ia meminta Patih Mada bercerita.
“Ceritakanlah, Arya Patih,” ujar Ratu Sunda. “Bagaimana keadaan Majapahit? Betulkah Sri Nalendra yang begitu pandai terkena sakit pikiran? Bagaimana mulanya? Aku tak mengerti. Dengan Putri belum jumpa, bukan? Jangan-jangan tertukar atau salah cipta. Terpesona kabar angin, kabar tak nyata. Dari sini sejari, sampai di sana sedepa.”
Arya Patih bersembah.
“Wahai, Gusti Maha Nalendra,” katanya, “patih yang teramat bodoh akan menyampaikan sebenarnya keadaan Putra Gusti yang mulia. Betul beliau tergila-gila. Menurut hemat patih, obat penyembuhnya hanya mesti terlaksana permohonan yang tersurat.”
Ia melanjutkan bahwa selain itu, Rakanda Maha Prabu, Ratu besar Kahuripan, setia memegang janji, disaksikan Prabu Daha, saudara Sang Prabu. Andai terlaksana, seusai akad nikah, Ratu besar bernazar memangku pengantin baru sebagai tanda suka cita dan kasih sayang.
Mendengar itu, Sang Raja Sunda tersenyum.
“Syukur kalau demikian,” katanya. “Aku merasa senang mendengar akan bernazar. Tandanya setuju penuh. Mungkin maklum akan putri yang masih kanak-kanak, jauh dari orang tua, kurang ilmu pengalaman. Moga-moga Maha Kuasa memberi selamat, beres berumah tangga.”
Suka cita memenuhi kalbu Prabu.
VI Putri Galuh dan Keputusan Ayahanda
Segera Baginda masuk ke puri. Ia hendak menemui Permaisuri dan Putri Galuh. Kabar lamaran itu harus disampaikan sendiri.
Di dalam puri, suasana berubah menjadi hening. Para wanita menunduk. Permaisuri mendengarkan dengan hati-hati. Putri Galuh duduk di hadapan ayah-bundanya, malu dan berat hati.
Sang Prabu menyampaikan bahwa lamaran Sri Nalendra Majapahit telah datang. Suratnya baik, bahasanya merendah, dan maksudnya jelas: Putri Galuh dimohon untuk dijadikan permaisuri di Keraton Majapahit.
Putri Galuh diam. Ia bukan anak yang berani membantah ayah-bunda. Ia tahu dirinya putri raja. Hidupnya bukan hanya miliknya sendiri. Ia adalah jimat keraton, mustika keputran Sunda, tempat kehormatan negara ikut dipertaruhkan.
Permaisuri menatap anaknya dengan kasih. Ratu Sunda pun menunggu jawaban.
Dengan suara lirih, Putri Galuh menyatakan tunduk kepada kehendak orang tua. Jika itu jalan yang dipilih ayah-bunda, ia akan menjalaninya sebagai bakti.
Maka keputusan pun bulat. Lamaran Majapahit diterima.
VII Sunda Bersiap Berlayar ke Majapahit
Keesokan harinya, para mantri berkumpul lagi sebagaimana biasa. Sang Ratu Sunda bersabda kepada mereka.
“Wahai, mantri-mantri,” katanya, “kalian tentulah maklum bahwa lamaran Sang Raja Nalendra Majapahit sementara sudah kuterima baik. Adapun niatku, aku akan mengantarkan Nyi Putri. Aku ingin menyaksikan sendiri ia dinobatkan sebagai permaisuri.”
Baginda memerintahkan semua ponggawa dan mantri yang perlu ikut segera bersiap. Mereka harus berlayar ke Majapahit, lengkap membawa bekal dan senjata.
“Dan macam-macam tontonan jangan ketinggalan,” titahnya. “Keanehan tanah Sunda, pendeknya bawa segala. Kapal-kapal mesti bersih, dihiasi serba indah.”
Semua ponggawa yang mendengar sabda Ratu riang. Mereka ingin segera bertolak. Sudah terbayang meriahnya penobatan permaisuri. Tiap pembesar Tatar Sunda bernazar menghormat Putri.
Kemudian Sri Narpati menyuruh memanggil Ki Mada, patih perutusan. Ki Anepaken Patih segera menghadapkan Ki Utusan.
Setelah utusan tiba dan khidmat menghadap Prabu, Sang Ratu Sunda berkata, “Wahai Patih Majapahit, surat yang dibawa Patih dan segala kiriman lamaran Sri Nalendra, Ratu Agung Majapahit, hari ini resmi kuterima.”
Ia melanjutkan, “Sekarang aku minta agar Patih lekas pulang. Sampaikan bakti dan hormat pada Aji Kahuripan. Sampaikan oleh Patih, aku amat suka cita karena Sang Ratu besan bernazar memangku Putri dan Sang Nata habis menikah.”
Kepada Sri Nalendra, Ratu Agung Majapahit, ia berpesan: tak lama lagi ia dan Permaisuri akan mengantarkan Putri bersama semua pembesar pemerintahan kerajaan. Mereka ingin menyaksikan upacara pernikahan Sang Raja.
“Dan mengenai surat yang dibawa Patih,” kata Ratu Sunda, “tidak kubalas, sebab aku akan datang sendiri. Malah semua mantri sedang berunding, bersiap berkemas. Seusainya lekas berangkat. Demikian amanatku kepada Sang Nata.”
Sang utusan bersembah.
“Daulat Tuanku. Segala amanat untuk putranda Gusti dan kakanda Gusti tentu akan disampaikan. Selain itu, dengan perkenan Gusti, patih mohon diri pulang.”
“Memang betul,” ujar Raja. “Mesti cepat-cepat pergi. Tentu Prabu Kahuripan dan Sang Ratu Majapahit selalu menanti.”
Segera Sang Ratu memerintahkan Patih tuan rumah menyiapkan keberangkatan tamu. Makanan dan minuman lengkap. Karena perintah Raja, tak lama semuanya tersedia. Pendeknya tak kekurangan hormat Patih tuan rumah.
Maka berangkatlah tamu. Di jalan tak diceritakan. Jauh pun pastilah sampai.
Kisah lamaran Nyi Putri kita tunda sejenak.
Syahdan, Ratu Sunda sedang sibuk berembuk. Ia mengatur segala yang aneh dan indah untuk dibawa serta. Tak lama, semuanya beres. Hampir semua pembesar ikut bersama istrinya. Priyayi kecil pun ikut, bagai raja yang hendak pindah negara.
Kira-kira dua ratus kapal berhias indah, serta perahu Madura berderet di tepi pesisir. Lebih kurang dua ribu semuanya siap sedia.
Sang Narpati berangkat dari puri bersama anak dan istri. Ia diiringi para dayang dan segenap isi puri menuju pelabuhan. Disusul para pengiring, patih dan para mantri, demang, rangga, dan tumenggung. Mereka beriring joli dan jampana, dikawal para prajurit, sampai ke pelabuhan.







