Bale Bandung

Mahasiswa KKN STAI Baitul Arqom Al-Islami Bantu Petani Bertanam Kentang Pangalengan

×

Mahasiswa KKN STAI Baitul Arqom Al-Islami Bantu Petani Bertanam Kentang Pangalengan

Sebarkan artikel ini

PANGALENGAN, Balebandung.com –  Mahasiswa KKN Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Baitul Arqom Al-Islami, Kecamatan Ciparay, Kabupaten Bandung, aktif berpartisipasi dalam kegiatan berkebun kentang, di Desa Pulosari Kecamatan Pangalengan.

Kegiatan berkebun ini juga merupakan bagian dari program pengabdian pemberdayaan masyarakat sekitar. Kegiatan bertujuan untuk meningkatkan keterampilan bertani, sekaligus membantu warga sekitar dalam mengoptimalkan pemanfaatan lahan.

Selain sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan, kegiatan ini juga sejalan dengan visi STAI Baitul Arqom dalam menciptakan generasi yang memiliki wawasan luas dan mampu berkontribusi dan berkolaborasi bagi masyarakat.

Menurut Kang Yosep, salah seorang petani, menanam kentang memerlukan jenis tanah tertentu agar bisa tumbuh dengan baik.

“Tanah yang ideal untuk kentang adalah tanah gembur, berpasir, dan kaya akan unsur hara dengan tingkat keasaman (pH) sekitar 5–5,5,” jelas Kang Yosep di lokasi perkebunan, Senin (3/2/2025.

Sebab jika tanah terlalu keras, kata dia, umbi kentang sulit berkembang. Sehingga perlu dilakukan pengolahan tanah terlebih dahulu.

Kegiatan ini diharapkan dapat terus berlanjut dan berkembang, tidak hanya dalam skala kecil, tetapi juga dalam program yang lebih luas. Jika dilakukan secara konsisten, mahasiswa bisa mengembangkan program agribisnis walaupun berbeda bersama masyarakat. Sehingga tidak hanya meningkatkan keterampilan bertani, tetapi juga membuka peluang usaha yang berkelanjutan.

Selain itu, kegiatan semacam ini bisa menjadi inspirasi bagi perguruan tinggi lain untuk lebih aktif dalam program pemberdayaan masyarakat di berbagai bidang.
Dengan adanya kolaborasi antara mahasiswa dan masyarakat, diharapkan pertanian tidak hanya menjadi sektor ekonomi semata, tetapi juga menjadi bagian dari solusi dalam membangun kesejahteraan bersama.*** by Neng Asti.

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bale Bandung

BALEBANDUNG.COM – Dalam naskah Kidung Sundayana, Bubat bukan sekadar perang. Ia adalah dakwaan berdarah terhadap mahapatih yang mengubah perkawinan menjadi penaklukan. Perang Bubat sering datang kepada kita dalam kalimat-kalimat pendek. Dalam Carita Parahyangan, ia hanya muncul sebagai jejak singkat: orang-orang berperang di Majapahit. Dalam Pararaton, ia dicatat lebih terang, tetapi tetap ringkas: ada peristiwa Pasunda […]

Bale Bandung

BALEBANDUNG.COM – Pangeran Wastu Kancana ditinggal wafat ayahnya, Prabu Maharaja Linggabuana, ketika ia berusia 9 tahun. Ayahnya meninggal dalam Perang Bubat tahun 1357 M. Karena Wastu masih terlalu muda untuk menjadi Raja Sunda, pemerintahan lalu dipegang oleh pamannya, Sang Bunisora, sebagai pejabat sementara raja. Perang Bubat bukan cuma tragedi gugurnya Prabu Linggabuana, Dyah Pitaloka, dan […]

Bale Bandung

BANDUNG, balebandung.com – Pusat Sumber Daya Komunitas atau PSDK DAS Citarum mendesak pemerintah mengevaluasi secara menyeluruh Peraturan Presiden Nomor 15 Tahun 2018 tentang Percepatan Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan DAS Citarum. Desakan itu disampaikan menjelang 10 Tahun Hari Citarum yang diperingati setiap 24 Mei. Ketua PSDK DAS Citarum Ahmad Gunawan mengatakan evaluasi diperlukan karena sejumlah program […]

Bale Bandung

PARARATON umumnya diartikan sebagai “Kitab Para Ratu”. Akar katanya adalah ratu. Dalam Jawa Kuno/Jawa Pertengahan, ratu tidak selalu berarti “ratu perempuan” seperti dalam bahasa Indonesia modern. Ratu bisa berarti penguasa, raja, raja perempuan, atau monark. Jadi lebih aman diterjemahkan sebagai penguasa kerajaan. Sumber ringkas juga menjelaskan Pararaton berasal dari “para ratu” yang berarti para penguasa, […]

Bale Bandung

balebandung.com – Tragedi Bubat tidak bisa terus-menerus dibaca sebagai kisah cinta yang gagal. Di balik rencana pernikahan Raja Majapahit, Hayam Wuruk, dengan putri Sunda, Dyah Pitaloka Citraresmi, ada perkara yang jauh lebih keras: kehormatan sebuah kerajaan yang dipaksa masuk ke dalam kalkulasi politik kekuasaan. Di titik itulah nama Gajah Mada tidak bisa dilepaskan. Ia bukan […]