Bale Jabar

Menyambut Tahun Baru 1441 H, Mengenang Nabi Muhammad SAW (570 – 632)

by HARJOKO SANGGANAGARADosen STIA Bagasasi Bandung dan Program Pascasarjana Universitas Galuh Ciamis.

Balebandung.com – Islam secara umum dipahami sebagai agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Karena itu beberapa penulis barat menyebutnya Mohammedanism. Istilah ini dipopulerkan oleh H.A.R. Gibbs yang menulis buku berjudul Mohammedanism an Historical Survey (1955). Umat Islam tidak sependapat dengan Gibb mengenai penggunaan istilah ini.

Berikut ini biografi singkat Nabi Muhammad SAW yang saya sarikan dari buku karya Ibnu Katsir (terjemahan bahasa Inggris) dan Heikal (terjemahan bahasa Indonesia). Khusus mengenai jumlah ekspedisi perang, saya ambil dari Atlas Alquran (Amakin-Aqwam-A’lam) karya Dr. Syauqi Abu Khalil.

Beliau adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdul Manaf bin Qushayy bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Luaiy bin Ghalib bin Fihir bin Malik bin Nadhar bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’ad bin Adnan bin ‘Addi’ bin ‘Addad bin Hamyasa bin Salaman bin Binta bin Sahail bin Jamal bin Haidar bin Nabi Ismail AS bin Nabi Ibrahim AS.

Beliau memiliki 201 nama nama suci. Setiap muslim wajib meyakininya sebagai nabi terakhir yang diutus untuk seluruh umat manusia. Beliau lahir di Kota Makkah pada 12 Rabiul Awal tahun Gajah, tahun di mana Allah menunjukkan rahmat-Nya kepada bangsa Arab, dengan diselamatkannya Ka’bah dari serbuan tentara bergajah yang dipimpin oleh Abrahah.

Pada hari ketujuh kelahirannya, Abdul Muttalib menyembelih unta dan mengundang makan orang Quraisy. Kakeknya memberi nama Muhammad dengan alasan “kuinginkan dia menjadi orang yang terpuji, bagi Tuhan di langit dan makhluk-Nya di bumi.”

Sejak kelahirannya, beliau disusui Ibunda Aminah lalu Halimah As Sa’diyah. Ayahnya meninggal dunia saat beliau dalam kandungan. Saat beliau berusia enam tahun, ibunya wafat. Kakeknya menyusul berpulang, saat beliau berusia delapan tahun. Kemudian pengasuhannya dipegang oleh pamannya Abu Talib. Abu Talib meskipun tidak kaya, tapi memiliki perasaan paling halus dan terhormat di kalangan Quraisy.

Muhammad pernah tinggal di desa bersama Halimah As Sa’diyah. Saat berusia 12 tahun ia ikut kafilah dagang ke Syam. Ia bertemu rahib Bahira yang melihat tanda-tanda kenabian pada dirinya.

Muhammad juga senang mendengar pembacaan puisi oleh penyair penyair Mudhahhabat dan Muallaqat, juga mendengarkan pidato orang Yahudi dan Nasrani yang membenci paganisme Arab.

Ia pun pernah angkat senjata bersama pamannya dalam Perang Fijar antara pihak Hawazin dan Quraisy. Meski begitu Muhammad tidak larut dalam kesenangan orang Quraisy. Ia mendambakan hidup yang berdasar kebenaran, sehingga nampak kejujuran dalam dirinya, sampai mendapat panggilan Al Amin.

Yang menyebabkan dia lebih banyak merenung dan berfikir ialah pekerjaannya menggembalakan kambing yang sering berada di alam lepas dan menyaksikan berbagai fenomena alam.

Suatu waktu pamannya mendengar berita bahwa Khadijah binti Khuwailid mengupah orang Quraisy untuk menjalankan perdagangannya. Ia menawarkan agar Muhammad mau bekerja untuk Khadijah. Muhammad yang sudah mulai dewasa setuju. Ia pun menjalankan usaha Khadijah menjual barang barang ke Syam dan membeli barang-barang untuk dibawa ke Mekah.

Usaha Khadijah memperoleh banyak keuntungan. Dari hubungan kerja berubah menjadi rasa cinta. Mereka menikah saat Muhammad berusia 25 tahun dan Khadijah 40 tahun dengan mas kawin 10 ekor unta. Mereka memiliki beberapa anak : Al Qasim, Abdullah, Zainab, Ruqayya, Umm Kulthum dan Fatimah.

Qasim dan Abdullah wafat saat mereka masih kecil. Zainab dikawinkan dengan Abul Ash. Ruqayya dengan Utba dan Umm Kulthum dengan Utaiba. Keduanya anak Abu Lahab pamannya. Nantinya Fatimah dikawinkan dengan Ali sepupunya.

Beberapa peristiwa yang dialami Nabi SAW :
1. Muhammad dapat melerai perebutan pengaruh antara keluarga Abud Dar dan Adi dalam soal siapa memindahkan Hajar Aswad saat renovasi Ka’bah dengan cara menghamparkan kain, meletakkan Hajar Aswad di atasnya dan meminta setiap kabilah mengangkatnya dan ia sendiri yang meletakkan Hajar Aswad pada tempatnya.

2. Ketika berusia 40 tahun beliau menerima wahyu yang pertama di Gua Hira, setelah bertahannuf dan bertahanuth bertahun-tahun. Ayat yang turun saat itu adalah Surat Al Alaq 1-5.

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”

Mulai saat itu beliau terus mengajak keluarga dan kaumnya untuk beribadah kepada Allah. Liku-liku dakwah beliau yang penuh dengan ujian membuahkan hasil.

Jika di Mekah konsentrasi nabi adalah pembinaan akidah dan memantapkan keyakinan mereka akan kebenaran Islam, maka saat di Madinah di samping pembinaan akidah, nabi menitikberatkan pada aspek hukum dan ibadah. Ayat ayat Al Quran yang turun lebih banyak yang bersifat perintah dan larangan.

3. Isra Mi’raj. Peristiwa ini terjadi setelah Nabi SAW kehilangan pamannya Abi Thalib dan istri yang dicintainya Khadijah. Isra adalah perjalanan Nabi di malam hari dari Mekah ke Baitulmakdis di Palestina. Sedang Mi’raj (harfiah : tangga) adalah perjalanan dari Baitulmakdis ke langit. Baik Isra maupun Mi’raj menggunakan buraq, seekor hewan ajaib yang bersayap seperti garuda. Di langit Nabi bertemu dengan para nabi terdahulu dan mendapat perintah shalat lima waktu.

4. Hijrah. Hijrah pertama dilakukan para pengikut nabi ke Abisinia suatu negara Kristen di mana mereka diterima oleh raja yang adil. Hijrah kedua ke Yathrib (Madinah) dilakukan setelah ikrar Aqaba. Di Madinah nabi membuat masjid mempersaudarakan kaum anshar dan muhajirin. serta membuat perjanjian dengan kaum Yahudi yang dikenal dengan Piagam Madinah.

5. Peperangan. Di Madinah beliau mampu membentuk sebuah masyarakat Islam yang bisa berfungsi militer. Seluruh sahabatnya adalah mujahid yang sewaktu waktu perang dikumandangkan mereka siap berangkat. Selama 10 tahun di Madinah telah terjadi 47 gazwah dan 27 sariyah. Itu berarti dalam setahun terjadi sekitar 7-8 kali gazwah dan sariyah. Maka hampir sebagian besar catatan sejarah nabi berkisar pada kisah kepahlawanan kaum muslimin dalam berjihad fii sabilillah.

Gazwah adalah peperangan yang disertai Nabi, sedangkan sariyah peperangan yang tidak disertai Nabi. Gazwah berbentuk perang, ekspedisi dan razzia atau pembersihan. Gazwah yang terkenal adalah Badr, Uhud, Khandaq (Parit), Hudaibiya, Khaibar, Bani Quraiza, Muktah, Penaklukan Mekah, Hunain & Tahaif serta Tabuk.

6. Mengutus Duta kepada Raja-raja. Setelah melakukan perjanjian gencatan senjata dengan kaum kafir Quraisy (Perjanjian Hudaibiya) Nabi Muhammad SAW mengutus duta kepada Heraklius, Kisra, Muqauqis, Najashi,Harits al Ghasani dan Raja Yaman. Ini adalah langkah yang luar biasa, mengingat Persia dan Bizantium merupakan imperium raksasa dan kekuatan adidaya ketika itu.

7. Umratul Qadza. Umrah adalah haji kecil. Qadza : tertunda. Nabi dan sahabat-sahabatnya seluruhnya berjumlah 1.400 memasuki Mekah pertama kalinya setelah hijrah dan melakukan tawaf di depan Ka’bah.

8. Pembebasan Mekah. Setelah Ekspedisi Mu’ta Islam mulai menyebar di utara. Dalam pada itu orang Quraisy melanggar perjanjian Hudaibiya. Sekarang pasukan tentara muslimin bergerak dari Madinah ke Mekah dengan tujuan membebaskan kota itu dan menguasai Rumah Suci.

Pasukan ini bergerak dalam jumlah yang belum pernah dialami oleh kota Madinah. Pasukan dibagi empat kelompok. Mereka dilarang bertempur dan meneteskan darah, kecuali jika sangat terpaksa sekali.

Saat memasuki hulu Kota Mekah Nabi Muhammad SAW membangun kemah. Ia berdiri melepas pandang ke lembah-lembah dan rumah-rumah yang bertebaran dan di tengahnya Rumah Suci. Air matanya menitik. Saat itu ia merasa tugasnya sebagai komandan telah selesai.

Dinaikinya untanya Al Qashwa’ dan ia meneruskan perjalanan ke Ka’bah. Ia bertawaf di Ka’bah tujuh kali dan menyentuh sudut Hajar Aswad dengan sebatang tongkat (mihjan) di tangannya. Selesai thawaf ia memanggil Uthman bin Talha dan pintu Ka’bah dibuka. Sekarang Muhammad berdiri di depan pintu. Sementara itu orang sudah berkumpul di masjid. Ia berkhutbah di hadapan mereka itu serta membacakan firman Tuhan :

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal ” (Qs 49:13).

9. Amnesti. Setelah berkhutbah, Nabi bertanya kepada orang-orang Quraisy. “Menurut pendapat kamu, apa yang akan kuperbuat terhadap kamu sekarang ?” Mereka menjawab, “Yang baik baik. Saudara yang pemurah. Sepupu yang pemurah.”  

Nabi membalas : 

 

“Pergilah kamu sekalian. Kamu sekarang sudah bebas.” Dengan ucapan itu maka Quraisy dan seluruh penduduk Mekah telah ia beri pengampunan umum (amnesti). Alangkah indahnya pengampunan itu di kala ia mampu ! (Haekal, 2002:464).

10. Kematian Ibrahim. Dalam usia 60-an, Nabi tak berharap punya anak. Tapi ia begitu bahagia ketika mendapat seorang anak laki-laki yang diberi nama Ibrahim. Anak itu diperolehnya dari Maria, budak Koptik hadiah dari Raja Mesir. Anak itu begitu disayang nabi, sehingga menimbulkan kecemburuan dari istri-istrinya.

Sayang usia anak itu tak panjang. Saat anak itu meninggal, Maria dan Sirin adiknya menangis meraung. Nabi pun menangis. Pada saat itu terjadi gerhana matahari. Penduduk Madinah mengaitkannya dengan kematian Ibrahim, tapi nabi membantahnya.

11. Ibadah Haji Perpisahan. Pada 25 Zulkaidah 10 H, Nabi berangkat dengan membawa semua istrinya masing masing dalam hodahnya. Ia berangkat dengan 90.000 orang -sumber lain menyebutkan 114.000 orang.

Mereka mengenakan ihram dan mengucapkan talbiyah. Mereka tawaf, mengusap Hajar Aswad, melakukan sai, pergi ke Mina, kemudian ke bukit Arafah. Di Namira dengan masih duduk di atas unta, Nabi mengucapkan khutbah perpisahannya.

“Wahai manusia sekalian ! Perhatikan kata-kata ini. Aku tidak tahu kalau-kalau sesudah tahun ini, dalam keadaan seperti ini, tidak lagi aku akan bertemu dengan kamu sekalian …

Bahwa setiap muslim adalah saudara muslim yang lain dan kaum muslimin semua bersaudara. Tetapi seseorang tidak dibenarkan mengambil sesuatu dari saudaranya, kecuali jika dengan senang hati diberikan kepadanya. Janganlah kamu menganiaya diri sendiri… Ya Allah saksikanlah ini !”

Selesai nabi mengucapkan pidato ia turun dari Al Qashwa. Ia shalat dzuhur, kemudian menaiki untanya menuju Shakarat. Pada waktu itulah, Nabi membacakan firman Tuhan ini kepada mereka :
“Hari inilah kusempurnakan agamamu ini untuk kamu sekalian, dengan kucukupkan nikmatKu kepada kamu, dan yang Kusukai Islam inilah menjadi agama kamu.” (Qs 5:3).

Abu Bakr menangis mendengarkan ayat itu. Ia merasa bahwa risalah Nabi sudah selesai dan sudah dekat pula saatnya Nabi hendak menghadap Tuhan.

Setelah meninggalkan Arafat, Nabi bermalam di Muzdalifa. Pagi-paginya turun ke Masy’ar’l Haram. Kemudian ia pergi ke Mina dan melemparkan batu-batu kerikil.

Sesampai di kemah ia menyembelih 63 ekor unta, masing-masing untuk setiap tahun umurnya. Sisanya 37 ekor lagi disembelih oleh Ali. Kemudian ia mencukur rambutnya dan menyelesaikan ibadah hajinya.

12. Sakit dan wafatnya Nabi. Saat nabi sakit, ia pergi ke pemakaman Baqi pada suatu malam dan berdoa memintakan ampun bagi penghuni Baqi. Ia pun masih bisa bergurau dengan istrinya Aisyah. Kemudian mengunjungi istri-istrinya dan kembali ke rumah Aisyah. Demamnya makin panas, tapi ia masih pergi ke masjid. Masih memberikan khutbah dan memerintahkan Usama memimpin pasukan ke medan perang. Ia pun menyiratkan pesan akan kembali kepada Tuhan. Ia turun dari mimbar, lalu menoleh ke jamaah dan berpesan agar orang Muhajirin menjaga Kaum Anshar baik-baik.

Keesokan harinya saat sakitnya makin bertambah, ia meminta Abu Bakr memimpin shalat. Ia berbisik pada Fatimah, maka Fatimah pun menangis. Ia berbisik sekali lagi, maka Fatimah pun tertawa.

Saat sakitnya makin parah ia meminta Aisyah menyedekahkan hartanya yang masih tersisa sebanyak tujuh dinar.

Saat sang maut menjemput nabi menatap ke atas seraya berkata :

“Ya handai tertinggi dari surga.”

Usia Nabi saat itu 61 tahun M atau 63 tahun H.
Orang-orang berselisih mengenai wafatnya Nabi. Orang orang terkejut sekali karena paginya Nabi masih nampak sehat. Umar tidak percaya Nabi telah wafat. Ia berteriak menimbulkan keributan. Jamaah pun tidak percaya bahwa Nabi telah wafat.

Abu Bakr memasuki kamar Aisyah. Dilihatnya Nabi telah diselubungi burd hibara (sejenis kain bersulam buatan Yaman). Ia menyibak selubung itu dan mencium Nabi lalu berkata, “alangkah sedapnya di waktu engkau hidup, alangkah sedapnya di waktu engkau mati.”

Setelah itu ia keluar menghampiri Umar yang masih resah. Abu Bakr berkata “Saudara-saudara ! Barangsiapa mau menyembah Muhammad, Muhammad telah wafat. Tetapi barangsiapa mau menyembah Allah, Allah hidup selalu tak pernah mati.” Kemudian ia membacakan sebuah ayat dari Al Quran :

“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah kika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (Qs 3:144).

Umar pun jatuh tersungkur. Ia sadar Nabi telah wafat. Orang-orang pun dapat menerima kenyataan itu. Meski begitu kaum muslimin kebingungan. Mereka berkelompok-kelompok.

Saat berkumpul di Saqifa Banu Saida kaum Anshar dan Muhajirin berbeda pendapat tentang siapa yang akan menjadi khalifah sepeninggal Nabi. Akhirnya Umar membaiat Abu Bakr. Keesokan harinya orang-orang membaiat Abu Bakr sebagai khalifah.

Usai baiat di Saqifa Banu Saida, barulah mereka ke rumah Nabi. Dua hari telah berlalu sejak Nabi wafat. Nabi kemudian dimandikan oleh Ali dan kerabat dekat dengan tetap memakai bajunya. Tubuh Nabi yang wangi kemudian dibungkus dengan dengan tiga lapis kain, dua shuhari dan satu burd hibara. Setelah itu jenazah Nabi dishalatkan tanpa imam.

Setelah itu mereka berargumentasi mengenai di mana Nabi dimakamkan. Ada yang memilih Mekah, Baitulmaqdis dan Medinah. Akhirnya diputuskan dimakamkan di kamar Aisyah tempat Nabi menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Pada tengah malam liang lahat digali dengan pola Madinah dengan lekukan di dasar lubang. Kemudian pada dasar lubang itu dihamparkan syal warna merah yang biasa digunakan Nabi. Jenazah Nabi Muhammad SAW dimasukkan dan ditutup dengan bata kemudian diuruk tanah. Itu terjadi pada tanggal 14 Rabiulawal (Ibn Kathir, Stories of the Prophets, 2003, Riyadh, KSA : Darussalam).

Makam Nabi Muhammad SAW kini masih dipertahankan di dalam komplek Masjid Nabawi yang diperluas di Madinah dan menjadi salah satu pusat kunjungan jamaah haji. Adapun rumah tempat kelahiran Nabi -saat saya kunjungi tahun 2002/3- sudah disamarkan menjadi sebuah perpustakaan. Belakangan saya dengar, tempat itu menjadi bagian dari perluasan Masjidil Haram.***

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close