Bale Bandung

Pemkab Luncurkan 1.350 KIA untuk Siswa SMP Margahayu

×

Pemkab Luncurkan 1.350 KIA untuk Siswa SMP Margahayu

Sebarkan artikel ini
Ketua TP PKK Kab Bandung Hj. Kurnia Agustina Dadang M. Naser saat peluncuran 1.350 KIA kepada siswa-siswi SMP 1 Margahayu, di Aula Sekolah, Jumat (23/3/18). by Humas Pemkab Bdg

MARGAHAYU – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bandung meluncurkan 1.350 Kartu Identitas Anak (KIA) kepada siswa-siswi SMP 1 Margahayu, di Aula Sekolah, Jumat (23/3/18).

Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Drs. H. Shalimin, M.Si mengungkapkan, jumlah anak di Kabupaten Bandung usia 0-17 sekitar 1.1 juta orang. Sementara kemampuan pemerintah baru terpenuhi sekitar 43 ribu KIA, sejak tahun peluncuran pertama di tahun 2017 lalu.

“Kita sudah mengajukan di anggaran APBD 2016 perubahan untuk sosialisasinya, dan 43 ribu blanko untuk penggunaan tahun 2017. Sedangkan tahun ini kita akan mencetak 300 ribu lebih KIA. Dengan jumlah anak mencapai 1.1 juta, tentu kita akan penuhi secara bertahap dengan target di tahun 2020 bisa tuntas,” jelas Salimin di Soreang, Senin (26/3/18).

Salimin menyebut ada ada 2 tahapan dalam penerbitan KIA, yakni untuk anak usia 1 hari hingga 5 tahun jika belum memiliki akta kelahiran, persyaratannya sama, sehingga bisa terbit berbarengan. Sedangkan untuk anak 6 sampai 17 tahun mekanismenya sama seperti pengajuan akta kelahiran.

“Membuat KIA ini sangat mudah, tinggal bawa saja KK, KTP kedua orang tua, dan akta lahir anak. Tidak perlu lagi repot- repot bikin surat pengantar dari RT/ RW dan Desa, langsung saja datang ke Disdukcapil,” terangnya.

Menurut Salimin fungsi KIA ini sama halnya seperti KTP, yakni identitas anak sebagai warga negara yang memiliki hak tertentu. Secara sederhana KIA adalah KTP khusus anak-anak. “Kalau di sekolah ada kartu pelajar, sedangkan KIA ini sifatnya umum untuk seluruh anak di Indonesia,” kata dia.

Salimin pun membenarkan jika jelang Pilgub Jabar 27 Juni 2018, progres penerbitan KTP elektronik dipercepat. Namun karena KIA juga merupakan kewajiban pemerintah kepada seluruh anak-anak di Kabupaten Bandung, maka penerbitannya pun tetap harus dipenuhi.

“Kalau blangko-nya gampang, tetapi tinta untuk mencetaknya yang sangat sulit. Karena seluruh Indonesia baik KTP maupun KIA, menggunakan tinta yang sama. Makanya pemerintah pusat hanya mampu memberikan KIA ke Kabupaten percontohan di Jawa Barat, yakni Kota Cimahi sebagai percontohan. Itupun hanya 60.000, sementara kabupaten yang lain harus swadaya, harus APBD murni semuanya, tidak bisa dipenuhi oleh APBN,” papar Salimin.

Menanggapi hal itu, Ketua TP.PKK Kabupaten Bandung Hj. Kurnia Agustina Dadang M. Naser berharap, dengan hadirnya KIA, kemudahan dan keberpihakan terhadap anak bisa terwujud secara merata, baik dalam hal pendidikan, perlindungan juga pelayanan publik.

“Kita berharap, KIA bia meningkatkan pendataan, perlindungan dan pelayanan publik, serta sebagai upaya memberikan perlindungan dan pemenuhan hak konstitusional warga negara, khususnya anak-anak,” ucap Teh Nia.

Selain itu, imbuhnya, pelayanan publik berbasis KIA, harus diterapkan di berbagai lini. Mulai dari sekolah, pelayanan transportasi hingga layanan untuk pendidikan keterampilan, dan yang terpenting adalah semua anak di Kabupaten Bandung punya identitas.

“KIA juga berfungsi untuk pendidikan, perlu untuk kuliah. Selain itu berita baiknya pemerintah daerah akan mengupayakan KIA untuk beberapa kemudahan berbebagai akses, seperti beli buku harganya bisa murah, masuk ke tempat wisata dan tempat makan tertentu akan ada juga pertimbangan harga,” tutupnya. []

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bale Bandung

BALEBANDUNG.COM – Dalam naskah Kidung Sundayana, Bubat bukan sekadar perang. Ia adalah dakwaan berdarah terhadap mahapatih yang mengubah perkawinan menjadi penaklukan. Perang Bubat sering datang kepada kita dalam kalimat-kalimat pendek. Dalam Carita Parahyangan, ia hanya muncul sebagai jejak singkat: orang-orang berperang di Majapahit. Dalam Pararaton, ia dicatat lebih terang, tetapi tetap ringkas: ada peristiwa Pasunda […]

Bale Bandung

BALEBANDUNG.COM – Pangeran Wastu Kancana ditinggal wafat ayahnya, Prabu Maharaja Linggabuana, ketika ia berusia 9 tahun. Ayahnya meninggal dalam Perang Bubat tahun 1357 M. Karena Wastu masih terlalu muda untuk menjadi Raja Sunda, pemerintahan lalu dipegang oleh pamannya, Sang Bunisora, sebagai pejabat sementara raja. Perang Bubat bukan cuma tragedi gugurnya Prabu Linggabuana, Dyah Pitaloka, dan […]

Bale Bandung

BANDUNG, balebandung.com – Pusat Sumber Daya Komunitas atau PSDK DAS Citarum mendesak pemerintah mengevaluasi secara menyeluruh Peraturan Presiden Nomor 15 Tahun 2018 tentang Percepatan Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan DAS Citarum. Desakan itu disampaikan menjelang 10 Tahun Hari Citarum yang diperingati setiap 24 Mei. Ketua PSDK DAS Citarum Ahmad Gunawan mengatakan evaluasi diperlukan karena sejumlah program […]

Bale Bandung

PARARATON umumnya diartikan sebagai “Kitab Para Ratu”. Akar katanya adalah ratu. Dalam Jawa Kuno/Jawa Pertengahan, ratu tidak selalu berarti “ratu perempuan” seperti dalam bahasa Indonesia modern. Ratu bisa berarti penguasa, raja, raja perempuan, atau monark. Jadi lebih aman diterjemahkan sebagai penguasa kerajaan. Sumber ringkas juga menjelaskan Pararaton berasal dari “para ratu” yang berarti para penguasa, […]

Bale Bandung

balebandung.com – Tragedi Bubat tidak bisa terus-menerus dibaca sebagai kisah cinta yang gagal. Di balik rencana pernikahan Raja Majapahit, Hayam Wuruk, dengan putri Sunda, Dyah Pitaloka Citraresmi, ada perkara yang jauh lebih keras: kehormatan sebuah kerajaan yang dipaksa masuk ke dalam kalkulasi politik kekuasaan. Di titik itulah nama Gajah Mada tidak bisa dilepaskan. Ia bukan […]