Bale Bandung

Pengamat Sarankan Pusat Buka Ruang Dialog Bagi APKASI dan APEKSI Soal Pemangkasan TKD 2026

×

Pengamat Sarankan Pusat Buka Ruang Dialog Bagi APKASI dan APEKSI Soal Pemangkasan TKD 2026

Sebarkan artikel ini
Pengamat dari Universitas Trisakti, Yayat Supriyatna saat jadi nara sumber di ajang Local Media Summit, JW Marriott Jakarta, Rabu (8/10/25)

JAKARTA, balebandung.com – Pemangkasan Transfer ke Daerah (TKD) dalam Rancangan APBN 2026 hingga sebesar 24,5%, bikin pemerintah daerah rada panik.  Untuk itu akademisi dan pengamat dari Universitas Trisakti, Yayat Supriyatna menyarankan agar pemerintah pusat dalam hal ini kementerian terkait untuk membuka ruang dialog sebagai sarana komunikasi dan evaluasi bagi pemda terkait pemangkasan TKD.

“Pertanyaannya, apakah pemerintah pusat atau Kementerian Keuangan membuka ruang enggak untuk pemda agar bisa berkomunikasi, berdialog soal aturan yang memberikan perlindungan bagi daerah untuk mencari sumber pendapatan alternatif tapi tidak melanggar parturan perundang-undangan yang berlaku,” ungkap Yayat kepada balebandung.com, usai jadi nara sumber di ajang Local Media Summit, JW Marriott Jakarta, Rabu 8 Oktober 2025,

Sebab dengan adanya pemangkasan TKD ini, sambung Yayat, artinya bagi pemda dituntut untuk bisa melakukan kreatif finansial untuk mendapatkan sumber pendapatan lain. Misalnya, sebut dia, bagaimana caranya agar Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) ini bisa dibiayai yang sumbernya dari non APBD, namun tidak sampai melanggar peraturan.

Yayat mengakui pengurangan TKD ini tentu sangat berpengaruh, apalagi terhadap daerah-daerah yang Pendapatan Asli Daerah (PAD)-nya terbatas, sehingga dikhawatirkan dapat mengganggu RKPD atau program kerja yang sudah disusun oleh pemda.

Termasuk bagi kepala daerah yang harus bisa memetakan kembali dan mengurangi target realisasi dari visi misi maupun janji politiknya semasa kampanye maupun pengurangan realisasi dari program-program yang sudah disusun dalam RKPD.

Belum lagi dari aspek keadilan, apakah bagi daerah yang berprestasi dan banyak berkontribusi ke keuangan negara yang berasal dari kekayaan sumber daya alam daerah bisa mendapatkan pemangkasan yang lebih proporsional?

“Sebagai solusinya, bisa tidak pemda mencari sumber-sumber pembiayaan alternatif lain. Misalnya yang bersumber dari dana Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan swasta yang beroperasi dan berkontirbusi ke daerah, atau dana bantuan dari pihak lain yang bersifat secara langsung maupun tidak langsung, ketimbang mengandalkan dana hibah dari pusat” kata dia.

Solusi kedua, imbuh  Yayat, pemda juga harus berani menanyakan akibat pemangkasan TKD. Misalnya dengan menanyakan kepada Kemenkeu, sektor mana yang perlu diperhatikan dan mendapatkan bantuan secara khusus oleh pemda apakah pendidikan, kesehatan atau infrastruktur.

“Tidak perlu kepala daerahnya yang mempertanyakan. Kan bisa disampaikan melalui Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (APKASI) maupan Asosiasi Pemerintahan Kota Seluruh Indonesia (APEKSI). Tanyakan anggaran apa saja yang ada di tiap kementerian yang bisa diserap oleh daerah,” sarannya.

Yayat juga mempertanyakan, apakah dana TKD yang dialihkan ke pemerintah pusat melalui kementerian untuk bantuan ke daerah bisa selaras dengan program atau rencana kerja pemerintah daerah.

“Misalnya saja bantuan untuk Kementerian Perhubungan terakit Program Buy The Service (BTS) untuk angkutan umum di daerah-daerah. Itu kan banyak anggarannya. Tapi apakah Program BTS ini bisa nyambung atau bersentuhan dengan program di daerah,” kata Yayat.***

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bale Bandung

SOREANG, balebandung.com – Sebagai bentuk komitmen dalam membangun generasi Qur’ani, BAZNAS Kabupaten Bandung turut mendukung kesejahteraan 1.012 guru ngaji melalui program bisyarah BAZNAS. Dukungan ini menjadi wujud kepedulian terhadap para pendidik Al-Qur’an yang selama ini berperan penting dalam membimbing anak-anak dan masyarakat mempelajari kitab suci. Di tengah besarnya tantangan pendidikan keagamaan, keberadaan guru ngaji menjadi […]

Bale Bandung

SOREANG, balebandung.com – Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026 menjadi momentum memperkuat peran santri sebagai calon pemimpin bangsa, penjaga nilai-nilai keislaman, dan benteng moralitas masyarakat Indonesia. BAZNAS Kabupaten Bandung menegaskan komitmennya mendukung kemajuan santri melalui penguatan pendidikan, kepedulian sosial, dan pemberdayaan ekonomi umat. Komitmen tersebut disampaikan Ketua BAZNAS Kabupaten Bandung, Dr. Yusuf Ali Tantowi, Lc., […]

Bale Bandung

SOREANG, balebandung.com – Bupati Bandung KDS mendorong sekitar 160.000 santri di Kabupaten Bandung untuk meningkatkan kapasitas diri, berani tampil, dan mengambil peran strategis dalam pembangunan. Santri dinilai memiliki potensi besar untuk menjadi pemimpin, pengusaha, aparat negara, hingga profesional yang berkontribusi bagi kemajuan Indonesia. Pesan tersebut disampaikan KDS saat menghadiri Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) ke-11 […]

Bale Bandung

MAJALAYA, balebandung.com – Sebanyak 11 perusahaan menyediakan lebih dari 300 lowongan kerja dalam Job Fair ke-4 Tahun 2026 yang digelar Dinas Ketenagakerjaan Kabupaten Bandung bersama SMKN 1 Majalaya, Rabu (21/10/2026). Bursa kerja ini menjadi kesempatan bagi pencari kerja untuk mengakses peluang rekrutmen sekaligus mempertemukan kebutuhan industri dengan kompetensi tenaga kerja. Ratusan pencari kerja dari Majalaya […]

Bale Bandung

SOREANG, balebandung.com – Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperindag) Kabupaten Bandung memperkuat koordinasi lintas instansi untuk menjaga ketersediaan pasokan dan stabilitas harga barang kebutuhan pokok. Langkah ini dinilai penting untuk memastikan distribusi pangan berjalan lancar sekaligus mengantisipasi potensi gangguan pasokan di pasar. Upaya tersebut dibahas dalam Kuliah Kerja Profesi (KKP) Sespimma Polri Angkatan ke-76 Tahun 2026 […]

Bale Bandung

SOREANG, balebandung.com — Wakil Ketua DPRD Kabupaten Bandung MA Hailuki mendukung penuh pembangunan Sekolah Rakyat di Kecamatan Soreang dan Ciwidey sebagai instrumen untuk memutus mata rantai kemiskinan. Program tersebut diharapkan menyasar warga miskin ekstrem sekaligus mendorong pemberdayaan ekonomi keluarga penerima manfaat. “Keberadaan Sekolah Rakyat akan menjadi salah satu instrumen ampuh untuk memutus mata rantai kemiskinan. […]