Bale Bandung

Si Jalak Harupat: Anak Menak dari Bojongsoang

×

Si Jalak Harupat: Anak Menak dari Bojongsoang

Sebarkan artikel ini

balebandung.com – Pagi belum benar-benar terang ketika aktivitas mulai terlihat di sebuah rumah keluarga menak di Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung. Embun masih menempel di ujung daun padi. Dari kejauhan terdengar suara orang-orang yang berangkat ke sawah.

Priangan pada akhir abad ke-19 masih didominasi hamparan kebun dan persawahan. Bandung memang mulai berkembang menjadi kota penting bagi pemerintah kolonial Belanda, tetapi kehidupan desa-desa di sekitarnya masih berjalan dengan irama yang lebih tenang.

Di rumah itu tumbuh seorang anak laki-laki bernama Oto Iskandar di Nata, lahir pada 31 Maret 1897. Ia dibesarkan dalam lingkungan yang menjunjung tata krama, disiplin, dan kehormatan keluarga.

Ayahnya, Raden Haji Iskandar di Nata, dikenal sebagai tokoh yang dihormati masyarakat. Sebagai keluarga menak, mereka memiliki kedudukan yang berbeda dibanding sebagian besar penduduk desa. Orang-orang datang untuk meminta bantuan, menyampaikan persoalan, atau mencari pertimbangan dalam urusan kampung. Oto kecil sering memperhatikan ayahnya menerima tamu. Meski belum memahami seluruh percakapan orang dewasa, ia mulai mengenal berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.

Dari ibunya, Oto belajar kesabaran dan kedisiplinan. Sejak kecil ia dibiasakan menghormati orang yang lebih tua, menjaga sopan santun, dan memegang tanggung jawab. Nilai-nilai itu menjadi fondasi penting dalam pembentukan karakternya.

Namun dunia Oto tidak hanya berada di lingkungan keluarga menak. Seperti anak-anak lain seusianya, ia senang bermain di luar rumah. Sawah, pematang, sungai kecil, dan jalan-jalan kampung menjadi bagian dari kesehariannya. Ia melihat para petani bekerja sejak pagi, menyaksikan kerbau membajak sawah, dan mendengar percakapan tentang panen, harga hasil bumi, serta kerasnya kehidupan pedesaan.

Pada masa itu Bojongsoang berada di tengah perubahan besar. Jalur kereta api mulai menghubungkan wilayah Priangan dengan kota-kota lain. Bandung berkembang pesat sebagai pusat administrasi kolonial. Sekolah-sekolah mulai dibuka dan dunia lama perlahan bertemu dengan dunia baru.

Perubahan itu ikut memengaruhi keluarga Oto. Ayahnya percaya pendidikan akan menjadi bekal penting bagi masa depan anak-anaknya. Karena itu Oto dibiasakan membaca dan belajar sejak usia dini. Kesempatan tersebut tidak dimiliki banyak anak pribumi pada masa itu. Di saat sebagian keluarga masih memandang sekolah sebagai sesuatu yang jauh dari kehidupan sehari-hari, keluarga Oto melihat pendidikan sebagai jalan menghadapi zaman yang sedang berubah.

Sebagai anak menak, Oto memperoleh akses pendidikan yang lebih baik dibanding kebanyakan rakyat pribumi. Namun pendidikan justru membuatnya melihat kenyataan yang tidak selalu disadari banyak orang di sekitarnya: adanya ketimpangan antara penguasa kolonial dan masyarakat bumiputra.

Meski dibesarkan dalam lingkungan yang teratur, Oto bukan anak yang selalu diam dan patuh. Ia memiliki rasa ingin tahu yang besar. Ia sering bertanya tentang hal-hal yang dianggap tidak penting oleh orang dewasa. Mengapa orang Belanda memiliki sekolah sendiri? Mengapa ada kampung yang lebih makmur daripada kampung lain? Mengapa sebagian orang harus bekerja lebih keras dibanding yang lain?

Pertanyaan-pertanyaan itu belum selalu mendapatkan jawaban yang memuaskan. Namun kebiasaan mengamati dan mempertanyakan keadaan di sekitarnya perlahan membentuk cara pandangnya.

Saat itu masyarakat Hindia Belanda hidup dalam struktur sosial yang tegas. Orang Eropa berada di lapisan teratas, disusul kelompok Timur Asing seperti Tionghoa dan Arab, sementara bumiputra menempati lapisan paling bawah. Bahkan di kalangan bumiputra sendiri masih terdapat struktur sosial yang kuat, termasuk kaum menak yang menjadi penghubung antara pemerintah kolonial dan rakyat.

Oto tumbuh di tengah situasi tersebut. Dunia menak memberinya pelajaran tentang kepemimpinan dan tanggung jawab. Kehidupan masyarakat pedesaan memperlihatkan kepadanya kenyataan yang dihadapi rakyat kebanyakan. Sementara pendidikan membuka matanya terhadap perubahan sosial yang sedang berlangsung.

Pada saat yang sama, Politik Etis mulai memperluas akses pendidikan bagi pribumi. Meski dirancang untuk mendukung administrasi kolonial, kebijakan itu justru melahirkan generasi baru bumiputra terdidik yang mulai mempertanyakan sistem yang ada. Kelak, generasi inilah yang menjadi pelopor berbagai organisasi pergerakan nasional.

Oto termasuk bagian dari generasi tersebut. Namun sebelum dikenal sebagai tokoh pergerakan dan pejuang kemerdekaan, ia terlebih dahulu adalah seorang anak Bojongsoang yang tumbuh di tengah perubahan besar di tanah Priangan.

Pada akhir abad ke-19, tidak banyak yang mengenal namanya. Ia hanyalah seorang anak dari keluarga menak di pinggiran Bandung. Namun sejarah sering bergerak dari tempat-tempat yang tampak biasa. Dari Bojongsoang yang tenang itu, lahir seorang tokoh yang kelak memainkan peran penting dalam perjalanan bangsa menuju kemerdekaan.

Perjalanan itu baru saja dimulai.*** bersambung

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bale Bandung

SOREANG, balebandung.com – Ketua Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Bandung, KH. Dr. Yusuf Ali Tantowi, Lc., M.A., menyampaikan khutbah Jumat di Masjid Al-Fathu, Soreang Jumat (6/11/2026). Dalam khutbahnya, ia mengajak jamaah memahami hakikat keberuntungan dan kesuksesan hidup berdasarkan tuntunan Al-Qur’an. Mengangkat Surah Al-‘Ashr dan Surah Al-Mu’minun ayat 1–10, ia menjelaskan bahwa kesuksesan sejati tidak […]

Bale Bandung

SOREANG, balebadung.com – Bupati Bandung, Dadang Supriatna (KDS) meminta Galih Hendrawan yang terpilih sebagai Ketua DPC APDESI Merah Putih Kabupaten Bandung periode 2026–2031 untuk merangkul seluruh kepala desa dan menjaga soliditas organisasi. Kepemimpinan baru ini diharapkan mampu memperkuat sinergi antara pemerintah desa dan pemerintah daerah dalam mendukung pembangunan Kabupaten Bandung. Pesan tersebut disampaikan KDS seusai […]

Bale Bandung

SOREANG, balebandung.com – Kepala Desa Tegalluar, Kecamatan Bojongsoang Kabupaten Bandung, Galih Hendrawan, terpilih sebagai Ketua DPC Asosiasi Pemerintah Desa Seluruh Indonesia Merah Putih (APDESI MP) Kabupaten Bandung periode 2026–2031. Galih meraih kemenangan telak dalam Musyawarah Cabang (Muscab) VI yang digelar di Gedung Moh. Toha, Soreang, Jumat (6/11/2026). Berdasarkan hasil rekapitulasi dan penghitungan suara, Galih yang […]

Bale Bandung

BANDUNG, balebandung.com – Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto menegaskan komitmen negara untuk memenuhi seluruh hak keluarga prajurit yang gugur saat menjalankan tugas penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Komitmen tersebut disampaikan Agus saat menjadi Inspektur Upacara (Irup) pemakaman militer Letkol Cpn Anumerta Dudi Firmansyah di Taman Makam Pahlawan (TMP) Bandung, Kamis (5/11/2026). Agus menyebut […]

Bale Bandung

SOREANG, balebandung.com – Bupati Bandung Dadang Supriatna mengukuhkan kepengurusan Forum Kabupaten Bandung Sehat (FKBS) periode 2026–2030 sekaligus menghadiri rapat koordinasi bersama jajaran pengurus dan pemangku kepentingan terkait, di Gedung M Toha Soreang, Kamis (5/11/2026). Dalam sambutannya, KDS menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh pengurus FKBS yang telah dikukuhkan. Ia menegaskan pembangunan Kabupaten Sehat tidak dapat hanya […]

Bale Bandung

BANDUNG, balebandung.com – Perkembangan pasar modal Indonesia belakangan ini menjadi perhatian publik, terutama setelah munculnya berbagai isu terkait Morgan Stanley Capital International (MSCI) dan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Dinamika tersebut tidak hanya menjadi perhatian investor, tetapi juga memunculkan pertanyaan mengenai kondisi ekonomi nasional dan dampaknya terhadap kehidupan masyarakat. Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis […]