Bale Bandung

Si Jalak Harupat Pemberani yang Kian Berkibar

×

Si Jalak Harupat Pemberani yang Kian Berkibar

Sebarkan artikel ini

SOREANG – Ketika kursi jabatan Bupati Bandung diduduki H. Obar Sobarna, S.IP (2000-2010), muncul gagasan dibangunnya sebuah stadion olahraga yang mampu menampung ribuan penonton.

Gagasan tersebut rupanya sejalan dengan keinginan masyarakat yang sudah sekian lama mendambakan hadirnya fasilitas olahraga nan megah, sehingga membawa nama harum daerah.

Rencana pun dibuat. Mulai dari gaya fisik bangunan stadion termasuk kebutuhan dana dan lahan yang dibutuhkan. Untuk lokasi stadion, panitia pembangunan waktu itu sepakat memilih Kampung Dano Desa Kopo Kecamatan Kutawaringin. Lokasi tersebut sengaja dipilih, karena tidak terlampau jauh dari pusat ibukota Kabupaten Bandung, Soreang (sekitar 4 kilometer dari arah Soreang).

Lahan sawah seluas ± 6 Ha milik penduduk setempat, akhirnya dibebaskan dengan uang ganti yang menguntungkan. Uang ganti tersebut, sebagian besar dibelikan lagi lahan sawah di daerah lain yang lebih luas.

“Dari hasil jual sawah di Kampung Dano seluas 2,5 hektar, dibelikan lagi sawah kira-kira tiga hektar di Katapang, lumayan sampai sekarang masih bisa dinikmati,” ungkap Ny Euis Nurhayat (49) warga Kampung Dano.

Awal Januari tahun 2005, bangunan stadion selesai dibuat nyaris tanpa hambatan. Seiring dengan itu, muncul pertanyaan mengenai nama stadion. Tanpa menunggu waktu lama, segera dibentuk panitia sayembara penamaan stadion yang terdiri unsur Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, BPID (Badan Pengembangan Informasi Daerah/Diskominfo/Humas Pemkab waktu itu), Dispertasih (Kimtawil-waktu itu) serta sejumlah unsur dinas lainnya.

Panitia sayembara kala itu mensyaratkan kepada calon peserta, agar nama yang diajukan ke panitia bukan nama orang, belum pernah digunakan di daerah lain, bersifat kedaerahan dan yang lebih penting nama itu harus mencerminkan lambang keberanian, gagah, pantang menyerah dan selalu menang sesuai dengan spirit olahraga.

Sayembara akhirnya disebar ke 45 kecamatan di Kabupaten Bandung (saat Kabupaten Bandung Barat belum berdiri). Sayembara dalam bentuk pamflet akhirnya di tempel disejumlah pasar, terminal, pertokoan dan perkantoran. Dengan harapan untuk menjaring para pengusul nama.

Untuk menentukan pemenang, panitia sayembara mengundang sejumlah tokoh perguruan tinggi mulai dari Unpad, Unpas, ITB dan Paguyuban Pasundan. Mereka bertugas untuk menyeleksi nama yang masuk, di samping melakukan wawancara dengan si pengusul nama. Cara ini ditempuh agar terhindar dari unsur subyektifitas.

Dari ribuan nama yang muncul, terselip nama ‘Si Jalak Harupat’ yang diusulkan oleh salah seorang reporter radio swasta di Bandung, Agustin Purnawan yang akrab disapa Mang Apun. Menurut Apun, Si Jalak Harupat merupakan sebutan bagi pahlawan nasional Rd. Oto Iskandardinata karena keberaniannya mengkritik pemerintah Belanda yang menjajah Indonesia.

Oto Iskandardinata lahir di Bojongsoang Kabupaten Bandung, 31 Maret 1897. Selepas menjadi guru di HIS Banjarnegara Jawa Tengah, Oto pernah mengajar di HIS bersubsidi dan Perkumpulan Perguruan Rakyat di Bandung.

Terjun di bidang politik, menjadi salah satu pilihan bagi Oto Iskandardinata dikemudian hari. Di bidang yang satu ini, ia pernah menduduki jabatan sebagai Wakil Ketua Boedi Oetomo Cabang Bandung periode 1921-1924, dan Boedi Oetomo Cabang Pekalongan tahun 1924.

Sebelum kemerdekaan, ia pun sempat menjadi salah seorang anggota Volkstaad (semacam DPR) pada tahun 1930-1945. Selama menjadi anggota senatlah, Oto dikenal berani mengkritik kebijakan pemerintah kolonial Belanda yang dinilai banyak merugikan Indonesia.

Setelah Indonesia merdeka, tokoh yang satu ini pernah menduduki jabatan Menteri Negara yang bertugas mempersiapkan terbentuknya BKR (Badan Keamanan Rakyat) dari berbagai laskar rakyat di Indonesia.

Karena keberaniannya, Oto Iskandardinata diibaratkan ayam jantan yang berani bertarung di berbagai palagan. Lambang ayam jantan ini, kala itu disebut Si Jalak Harupat. “Sebutan Si Jalak Harupat tersebut, diharapkan bisa menginspirasi jiwa para atlet yang tengah bertanding,” ucap seorang budayawan sunda asal Kabupaten Bandung yang enggan disebut namanya.

Panitia sayembara kemudian menetapkan, Si Jalak Harupat menjadi nama resmi stadion yang berdiri di Kabupaten Bandung. Dan tidak lama kemudian, sekitar pertengahan tahun 2005, Ketua KONI Jawa Barat waktu itu H. Agum Gumelar meresmikan Stadion Si Jalak Harupat.

Nama Si Jalak Harupat kian berkibar di persada nusantara. Menyusul digunakannya stadion tersebut sebagai tempat berlangsungnya pertandingan sepakbola tingkat nasional.

Mengingat keamanan bangunannya yang sudah teruji, Si Jalak Harupat terpilih menjadi lokasi pembukaan turnamen sepakbola ‘Bhayangkara Cup 2016’ yang dibuka langsung Presiden Joko Widodo. Stadion ini juga dijadikan salah satu venue PON XIX September 2016 Jawa Barat dan menjadi salah satu venue Asean Games 2018.

Kini kawasan stadion sudah dilengkapi bangunan gymnasium, kolam polo air, gedung indoor, lapang softball, lapang hockey outdoor lengkap dengan sarana perparkiran yang luas dan aman. ***

Sumber: Humas Setda Pemkab Bandung

Example 300250

Respon (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bale Bandung

SOREANG, balebandung.com – Bandung Bedas Run 2026 makin menunjukkan potensinya sebagai penggerak sport tourism di Kabupaten Bandung. Hingga Sabtu (8/8/2026), sebanyak 3.242 peserta telah mendaftar dan sekitar 20 persen di antaranya berasal dari luar Jawa Barat. Bupati Bandung Dadang Supriatna mengatakan tingginya peserta dari luar daerah menunjukkan Bandung Bedas Run yang bakal digelar 6 September […]

Bale Bandung

SOREANG, balebandung.com – Dandim 0624 Kabupaten Bandung Letkol Kav Samto Betah mengimbau masyarakat menghindari aktivitas di luar rumah pada malam hari jika tidak memiliki keperluan yang penting. Imbauan tersebut disampaikan sebagai bagian dari upaya bersama menjaga keamanan dan kenyamanan masyarakat Kabupaten Bandung. “Kalau tidak ada kepentingan yang terlalu penting, kalau bisa dihindari untuk keluar malam. […]

Bale Bandung

SOREANG, balebandung.com – Wakil Ketua DPRD Kabupaten Bandung M.A. Hailuki menilai Operasi Berkala Besar yang digelar aparat gabungan TNI-Polri bersama unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) merupakan bentuk responsivitas dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat, terutama di tengah maraknya aksi begal. “Operasi Berkala Besar yang dilaksanakan semalam adalah wujud responsivitas aparat keamanan bersama Forkopimda untuk […]

Bale Bandung

balebandung.com – Komitmen dalam memperkuat kerja sama internasional di bidang pendidikan, komunikasi, dan pemberdayaan masyarakat kembali diwujudkan melalui kegiatan Community Service International Collaborationyang melibatkan Forum Komunikasi Masyarakat Muslim Indonesia (FORKOMMI) Malaysia, Sanggar Bimbingan (SB) Broga, Negeri Sembilam, Malaysia serta Dosen FKS, Bandung, Telkom University, Indonesia. Kegiatan yang berlangsung pada Minggu, (2/8) diselenggarakan di Sanggar Bimbingan […]

Bale Bandung

BOJONGSOANG, balebandung.com – Bupati Bandung Dadang Supriatna menargetkan 172 Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) di Kabupaten Bandung dilengkapi mesin motah sehingga mampu mengolah sedikitnya 600 ton sampah per hari. Target tersebut disampaikan usai meresmikan TPS3R Tegalluar Lestari di Kampung Sapan, Desa Tegalluar, Kecamatan Bojongsoang, Jumat (7/8/2026). “Saat ini ada 172 TPS3R di Kabupaten […]

Bale Bandung

BOJONGSOANG, balebandung.com – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bandung terus memperkuat upaya penanganan banjir melalui program Pentahelix dengan melibatkan pemerintah pusat, pemerintah provinsi, pemerintah daerah, pemerintah desa, TNI-Polri, dunia usaha, hingga masyarakat. Salah satu lokasi yang menjadi perhatian adalah Sungai Cikeruh di Desa Tegalluar, Kecamatan Bojongsoang. Bupati Bandung Dadang Supriatna melakukan monitoring dan peninjauan langsung kegiatan normalisasi […]