Bale Bandung

Tak Ada Lagi Desa Tertinggal di Kab Bandung

×

Tak Ada Lagi Desa Tertinggal di Kab Bandung

Sebarkan artikel ini
Kepala DPMD Kab Bandung Tata Irawan.
Kepala DPMD Kab Bandung Tata Irawan.

SOREANG, Balebandung.com – Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kabuapten Bandung, Tata Irawan mengatakan, dari 270 desa yang ada di Kabupaten Bandung, kini sudah tak ada desa yang berstatus Desa Tertinggal apalagi Desa Sangat Tertinggal.

Tata menjelaskan penilaian desa yang paling tinggi disebut Desa Mandiri, lalu Desa Maju, Desa Berkembang, Desa Tertinggal, dan terakhir Desa Sangat Tertinggal.

“Kini di Kabupaten Bandung ada 85 Desa Berkembang, 129 Desa Maju, dan sudah ada 56 Desa Mandiri. Sudah tidak ada lagi Desa Tertinggal apalagi Desa Sangat Tertinggal,” kata Tata, di Soreang, Selasa (3/11/2020).

Tata mengungkapkan, target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Badung tahun 2016-2021 sebenarnya bisa mencetak 44 Desa Mandiri. “Sekarang sudah ada 56 Desa Mandiri, jadi sudah melampaui target,” ujarnya.

Bahkan kini Kabupaten Bandung sudah masuk lima besar tingkat Provinsi Jawa Barat kategori Desa Maju. “Untuk di tingkat nasional, Desa Maju Kabupaten Bandung masuk di 10 besar,” lanjutnya.

Tata menjelaskan, Desa Mandiri bukan berarti desa tersebut mandiri dalam ekonomi, keuangannya tanpa APBD. “Namun mandiri dalam pengelolaan keuangan, perekonomian. Dari Desa Mandiri diharapkan desa tersebut mendapatkan reward. Sehingga bisa mendapat bantuan di luar APBD. Dengan adanya bantuan dari luar, sehingga desa bisa leluasa mengelola keungannya,” terangnya.

Jadi, yang sudah menjadi Desa Mandiri, mereka harus terus merawatnya, dan terus meningkatkan pelayanan untuk tetap menjadi Desa Mandiri.

Saat ditanya target di tahun selanjutnya, Tata mengatakan harus melihat RPJMD nanti, yang diusung oleh bupati yang baru. “Besar kemungkinan untuk target akan diambil dari 129 Desa Maju akan dinaikan ke Desa Mandiri. Namun Desa Berkembang juga, statusnya bisa langsung ke Desa Mandiri,” ungkap Tata.

Hal tersebut menurutnya bisa saja terjadi jika indikatornya terpenuhi atau tercukupi oleh desa tersebut. “Jadi, dari Desa Berkembang tak harus ke tahapan Desa Maju dulu, bisa juga langsung ke Desa Mandiri,” jelasnya.

Tata mengungkapkan, setiap desa terdapat tenaga pendamping. “Sebab ada kemungkinan ada kesalahan dalam pelaporannya, maka ada pendamping desa. Dalam menyemangati kinerjanya kami beri mereka insentif pendamping tersebut. Sehingga mereka semangat saat bekerja,” ujarnya.

“Yang saya tahu pemberian insentif ini, hanya dilakukan oleh Kabupaten Bandung saja. Mungkin kabupaten lain, yang ada di Indonesia belum melakukan pemberian insentif bagi pendamping desa,” imbuh Tata.

Tata mengaku, pemberian insentif bagi pendamping desa baru dilakukan tahun ini. “Ketika kami mengusulkan itu (pemeberian insentif kepada pendamping desa), provinsi langsung mengikuti (untuk pendamping kabupaten).

Tata berharap, pihaknya bisa mengusung lebih banyak lagi Desa Mandiri dalam pembangunannya, bukan masalah statusnya. Tapi lebeih ke arah bagaimana desa memberikan pelayanan terbaik, kemasyarakatan, dan pemberdayaan. “Harus bisa mengembangkan apa yang didapat untuk masyarakat dan desa-desa sekitarnya,” kata Tata.***

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bale Bandung

BALEBANDUNG.COM – Dalam naskah Kidung Sundayana, Bubat bukan sekadar perang. Ia adalah dakwaan berdarah terhadap mahapatih yang mengubah perkawinan menjadi penaklukan. Perang Bubat sering datang kepada kita dalam kalimat-kalimat pendek. Dalam Carita Parahyangan, ia hanya muncul sebagai jejak singkat: orang-orang berperang di Majapahit. Dalam Pararaton, ia dicatat lebih terang, tetapi tetap ringkas: ada peristiwa Pasunda […]

Bale Bandung

BALEBANDUNG.COM – Pangeran Wastu Kancana ditinggal wafat ayahnya, Prabu Maharaja Linggabuana, ketika ia berusia 9 tahun. Ayahnya meninggal dalam Perang Bubat tahun 1357 M. Karena Wastu masih terlalu muda untuk menjadi Raja Sunda, pemerintahan lalu dipegang oleh pamannya, Sang Bunisora, sebagai pejabat sementara raja. Perang Bubat bukan cuma tragedi gugurnya Prabu Linggabuana, Dyah Pitaloka, dan […]

Bale Bandung

BANDUNG, balebandung.com – Pusat Sumber Daya Komunitas atau PSDK DAS Citarum mendesak pemerintah mengevaluasi secara menyeluruh Peraturan Presiden Nomor 15 Tahun 2018 tentang Percepatan Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan DAS Citarum. Desakan itu disampaikan menjelang 10 Tahun Hari Citarum yang diperingati setiap 24 Mei. Ketua PSDK DAS Citarum Ahmad Gunawan mengatakan evaluasi diperlukan karena sejumlah program […]

Bale Bandung

PARARATON umumnya diartikan sebagai “Kitab Para Ratu”. Akar katanya adalah ratu. Dalam Jawa Kuno/Jawa Pertengahan, ratu tidak selalu berarti “ratu perempuan” seperti dalam bahasa Indonesia modern. Ratu bisa berarti penguasa, raja, raja perempuan, atau monark. Jadi lebih aman diterjemahkan sebagai penguasa kerajaan. Sumber ringkas juga menjelaskan Pararaton berasal dari “para ratu” yang berarti para penguasa, […]

Bale Bandung

balebandung.com – Tragedi Bubat tidak bisa terus-menerus dibaca sebagai kisah cinta yang gagal. Di balik rencana pernikahan Raja Majapahit, Hayam Wuruk, dengan putri Sunda, Dyah Pitaloka Citraresmi, ada perkara yang jauh lebih keras: kehormatan sebuah kerajaan yang dipaksa masuk ke dalam kalkulasi politik kekuasaan. Di titik itulah nama Gajah Mada tidak bisa dilepaskan. Ia bukan […]