Bale Bandung

Kualat Bubat: Saat Gajah Mada Gagal Taklukkan Sunda, Majapahit Retak dari Dalam

×

Kualat Bubat: Saat Gajah Mada Gagal Taklukkan Sunda, Majapahit Retak dari Dalam

Sebarkan artikel ini

balebandung.com – Perang Bubat bukan akhir Kerajaan Sunda. Yang gugur di Lapangan Bubat adalah rombongan kerajaan, bukan negara Sunda-Galuh. Setelah tragedi itu, Sunda-Galuh justru berlanjut di bawah Pangeran Niskala Wastu Kancana, Putra dari Prabu Wangi Linggabuana dan Kerajaan Sunda mencapai kegemilangan baru pada masa Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi. Sebaliknya, Majapahit membawa noda politik yang kelak tampak dalam retaknya kekuasaan setelah Hayam Wuruk mangkat.

Perang Bubat kerap ditulis sebagai tragedi diplomatik antara Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Sunda-Galuh. Tetapi dari sudut pandang Sunda, peristiwa itu lebih dari sekadar salah paham istana. Bubat adalah pelanggaran terhadap tata kehormatan kerajaan.

Rombongan Sunda datang ke Majapahit dalam konteks perkawinan agung antara putri Sunda Dyah Pitaloka dan Prabu Hayam Wuruk. Namun di tangan Mahapatih Gajah Mada, kedatangan itu dibaca sebagai kesempatan politik: Sunda harus tunduk.

Di sinilah Bubat berubah dari rencana pernikahan menjadi perang.

Dalam pembacaan semi-sejarah, Bubat bisa dianggap sebagai kualat politik Majapahit. Bukan kualat dalam arti mistik yang jatuh tiba-tiba dari langit, melainkan kualat sebagai retaknya moral dan legitimasi.

Gajah Mada memang berhasil menghancurkan rombongan Sunda di Bubat. Tetapi ia gagal menaklukkan Kerajaan Sunda sebagai negara. Setelah Bubat, Sunda tidak hilang, malah makin gemilang. Sebaliknya, Majapahit perlahan kehilangan wibaya dan kekuatan terlebih setelah perang saudara Paregreg. Rakyat tidak percaya lagi kepada kerajaan, hingga akhirnya Majapahit semakin padam dan runtuh oleh Kesultanan Islam.

Sunda-Galuh Bukan Kerajaan Kecil yang Mudah Ditundukkan

Salah satu alasan mengapa Bubat harus dibaca ulang adalah posisi Kerajaan Sunda sendiri. Sunda-Galuh bukan kerajaan pinggiran. Ia memiliki pusat kekuasaan, tradisi kerajaan, jaringan bangsawan, dan kemampuan militer. Dalam tradisi Sunda, Galuh dan Pajajaran dikenang sebagai pusat tua kekuasaan di Jawa bagian barat.

Kidung Sunda bahkan menyimpan bagian penting yang menunjukkan bahwa Gajah Mada dan Majapahit bukan tidak pernah mencoba menundukkan Sunda. Dalam Kidung Sunda tercatat, saat utusan Prabu Linggabuana, yaitu Patih Asepaken menemui Patih Gajah Mada di Kepatihan Wilwaktika untuk mempertanyakan soal pernikahan Putri Dyah Pitaloka dan Prabu Hayam Wuruk. Dalam dialog panas itu Patih Asepaken mengingatkan Gajah Mada bahwa pasukan Majapahit pernah masuk ke wilayah Sunda dan mendapat perlawanan keras.

Kutipan dari Kidung Sunda:

Mantrimu kalih tinigas anama Les Beleteng angemasi, bubar wadwamu malayu, anânibani jurang, amurug-murug rwi, lwir patining lutung, uwak setan pating burengik, padâmalakw ing urip.

“Saat pasukan Majapahit menyusup ke Kerajaan Galuh, kedua mantri Majapahit bernama Les dan Beleteng tewas; pasukan Majapahit bubar dan lari terbirit-birit. Ada yang kemudian jatuh ke jurang, tersangkut duri seperti lutung mati, berteriak-teriak meminta hidup,”.

Bagian ini penting karena memperlihatkan satu hal: Sunda bukan wilayah yang mudah disusupi atau dimasuki dan ditundukkan. Kalau Sunda mudah dikalahkan, Gajah Mada tidak perlu menunggu kesempatan rombongan pengantin datang ke Majapahit. Ia bisa mengirim pasukan langsung ke pusat kekuasaan Sunda. Tetapi yang terjadi justru sebaliknya: kesempatan diplomatik dipelintir menjadi tekanan politik.

Dengan kata lain, Bubat bukan strategi ksatria. Bubat adalah siasat.

Bubat: kemenangan medan, kegagalan politik

Di Bubat, rombongan Sunda jelas kalah secara militer. Mereka berada jauh dari pusat kekuasaan sendiri, berhadapan dengan kekuatan Majapahit di wilayah Majapahit. Jumlah dan posisi tidak seimbang. Tetapi kekalahan itu tidak sama dengan takluknya Kerajaan Sunda.

Ini perbedaan penting.

Yang hancur di Bubat adalah rombongan kerajaan: Prabu Linggabuana, para bangsawan, pengawal, dan putri Sunda. Tetapi struktur Kerajaan Sunda tidak ikut runtuh. Pusat kekuasaan Sunda-Galuh tetap berdiri. Tidak ada bukti kuat bahwa setelah Bubat, Sunda menjadi wilayah taklukan stabil Majapahit. Tidak ada tanda bahwa Kawali atau bahkan Pakuan kemudian jatuh sebagai daerah bawahan Majapahit.

Maka Bubat lebih tepat disebut sebagai kemenangan militer sesaat Majapahit, bukan keberhasilan penaklukan Sunda. Sumpah Palapa Gajah Mada pun gagal karena tidak mampu menaklukan Kerajaan Sunda.

Di Bubat, Gajah Mada hanya menang atas rombongan pengantin, bukan atas negara Sunda. Itu pun karena kalah jumlah. Prabu Linggabuana hanya mengandalkan 300 pasukan elitnya saat perang di Lapangan Bubat, terdiri dari pengawal pilihan dan prajurit yang menjaga kehormatan raja, termask patih di dalamnya. Ini seperti 300 pasukan Spartans melawan imperium Persia di Celah Thermopylae.

Kidung Sundayana dan Kehormatan Orang Sunda di Medan Perang

Kidung Sundayana memberi gambaran lain yang penting. Dalam bagian perang, naskah ini tidak menampilkan orang Sunda sebagai rombongan yang lari hina. Seperti di Kitab Pararaton ada frasa:

bubar wong Su??a mangke
orang Sunda kini tercerai-berai

Tetapi frasa itu tidak boleh dibaca sendirian. Bagian lanjutannya menggambarkan bahwa sisa yang belum gugur bergerak menuju raja dan mereka dihujani anak panah:

?e?aning pejah padha mengsi n?pati
sisa yang belum gugur sama-sama menuju sang raja

tinut ing ngudanan ?ara
mereka diikuti/dihujani anak panah

Jadi “bubar” dalam konteks ini bukan berarti lari karena takut. Barisan Sunda pecah karena perang, kematian, dan hujan panah. Sisa pasukan masih menuju pesanggrahan (kemah) raja Prabu Lianggabuana. Dalam logika kerajaan, raja adalah pusat kehormatan. Ketika barisan pecah tetapi masih merapat kepada raja, itu bukan tanda pengecut. Itu tanda bahwa tata kehormatan masih dijaga sampai akhir.

Kidung Sundayana juga menyebut tokoh-tokoh Sunda di medan, seperti Mahapatih Asepaken dan Larang Agung. Asepaken digambarkan sebagai patih Sunda yang termasyhur:

sira kryan apatih, adining Su??a Asepaken kaky?ti
dialah sang patih, utama Sunda, Asepaken yang termasyhur

Ia tampil di atas kuda:

munggwing kuda
berada di atas kuda

Larang Agung juga muncul dengan simbol kebesaran perang:

kalih Ken Larang Agung, humunggwing liman
bersamanya Ken Larang Agung, berada di atas gajah

Kuda dan gajah dalam sastra perang lama bukan detail kosong. Itu tanda status, tata militer, dan kehormatan kerajaan. Kidung Sundayana tidak menggambarkan Sunda sebagai massa tanpa bentuk. Mereka tetap hadir sebagai rombongan kerajaan yang memiliki pemimpin, simbol, dan keberanian.

Bahkan ada bagian yang menunjukkan arah serangan Sunda menuju Patih Majapahit yaitu Gajah Mada:

kang den ungsi ring yonggwanika apatih Majapahit
yang dituju adalah tempat Patih Majapahit

Gajah Mada jadi sasaran utama. Artinya, kemarahan Sunda punya alamat politik yang jelas. Mereka tidak sekadar berperang membabi buta. Mereka bergerak ke arah tokoh yang dianggap menjadi sumber perkara.

Pasukan Elit Sunda dan Bayangan “300” di Bubat

Dalam tradisi lama, prajurit elite tidak hanya dinilai dari jumlah, tetapi juga dari keberanian, kesetiaan, dan kemampuan berperang atau bela diri. Karena itu, Bubat tidak layak dibayangkan sebagai pembantaian rombongan lemah yang tidak mampu melawan. Kidung Sunda dan Kidung Sundayana justru memperlihatkan perlawanan sengit dari Pasukan Kerajaan Sunda. Orang Sunda kalah karena posisi dan jumlah, tetapi bukan karena tidak punya keberanian.

Setelah Bubat, Sunda Tidak Padam

Kalau Bubat dimaksudkan Gajah Mada sebagai siasat licik untuk menundukkan Kerajaan Sunda, sejarah justru memperlihatkan hasil sebaliknya. Setelah Prabu Linggabuana gugur, garis kerajaan tidak putus. Takhta Sunda-Galuh berlanjut melalui Pejabat Raja Sementara yaitu Bunisora, adik dari Prabu Linggabuana, saat pewaris raja, Pangeran Niskala Wastu Kancana, masih belia sekitar umur 9 tahun.

Wastu Kancana adalah putra Prabu Linggabuana atau adik dari Putri Dyah Pitaloka. Menurut Carita Parahyangan, ia memerintah Kerajaan Sunda-Galluh sangat lama, dari 1371 sampai 1475 dengan pusat pemerintahan di Kawali/Galuh (Ciamis-Jawa Barat). Prasasti Kawali juga dikaitkan dengan Prabu Niskala Wastu Kancana, yang membangun atau menata pertahanan, parit, dan Karaton Surawisesa di Kawali.

Faktanya, Sunda-Galuh bukan melemah sampai hilang. Justru muncul masa panjang pemerintahan Niskala Wastu Kancana. Dalam ingatan Sunda, ia dikenang sebagai raja besar yang menjaga kesinambungan kerajaan setelah tragedi Bubat.

Dengan kata lain, Bubat bukan akhir Sunda. Bubat adalah luka besar, tetapi bukan keruntuhan kerajaan.

Dari Kawali ke Pakuan: Kegemilangan Prabu Siliwangi

Garis Sunda-Galuh kemudian mencapai masa gemilangnya saat Kerajaan Sunda-Pakuan pada masa Prabu Siliwangi yang bergelar Sri Baduga Maharaja Ratu Haji di Pakuan Pajajaran, yang semasa mudanya dikenal dengan nama Raden Pamanah Rasa atau Prabu Jaya Dewata. Ia adalah cucu dari Prabu Niskala Wastu Kancana.

Prasasti Batutulis menyebut Sri Baduga sebagai tokoh besar yang kemudian dikenang oleh putranya, Prabu Surawisesa. Sumber sejarah juga menyebut Sri Baduga mempersatukan kembali Sunda dan Galuh, lalu memindahkan pusat pemerintahan dari Kawali ke Pakuan Pajajaran, Bogor. Karena itu di masa Prabu Siliwangi ini Kerajaan Sunda baru kerap disebut Kerajaan Pakuan Pajajaran atau Kerajaan Pajajaran.

Pada masa Sri Baduga, Pakuan Pajajaran menjadi pusat kekuasaan yang kuat. Dalam ingatan Sunda, inilah salah satu puncak kejayaan Pajajaran. Kalau Majapahit pernah berharap Sunda tunduk setelah Bubat, kenyataan sejarah berkata lain: Sunda tetap berdaulat, bertahan, dan kemudian berjaya lagi di Pakuan.

Sunda baru perlahan meredup ketika peta politik Nusantara berubah. Kekuatan Islam pesisir, terutama Banten, Cirebon, dan Demak, makin berpengaruh. Pajajaran tidak padam karena ditaklukkan Majapahit. Pajajaran perlahan padam dalam babak sejarah yang berbeda, ketika pusat-pusat Islam pesisir mengubah keseimbangan politik Jawa Barat.

Majapahit Setelah Bubat: Retak dari Dalam

Sementara Sunda-Galuh berlanjut ke Sunda-Pakuan atau Pajajaran,… Majapahit membawa noda Bubat. Hayam Wuruk memang masih memerintah setelah 1357 dan Majapahit tetap menjadi kerajaan besar di bawah kepemimpinannya.

Tetapi proyek Gajah Mada untuk menundukkan Sunda tidak menghasilkan ketundukan politik. Setelah Bubat, nama Gajah Mada jadi tercela. Sumpah Palapa yang sering dipuja sebagai cita-cita penyatuan Nusantara memiliki sisi gelap: ambisi menaklukkan kerajaan yang menolak ditundukkan.

Gajah Mada tercatat wafat pada 1364 karena sakit. Hayam Wuruk wafat pada 1389, juga karena sakit. Setelah itu, Majapahit menghadapi konflik suksesi yang berat. Perang Paregreg pecah pada awal abad ke-15, sekitar 1404–1406, antara kubu Prabu Wikramawardhana: penerus takhta Majapahit yang merupakan menantu Hayam Wuruk (suami dari Putri Kusumawardhani, anak Hayam Wuruk dari permaisuri yang sah), dengan Bhre Wirabhumi (Putra Hayam Wuruk yang berasal dari istri selir).

Perang saudara ini menjadi salah satu pukulan besar yang makin melemahkan Majapahit dari dalam. Di sinilah tesis “kualat politik” menemukan bentuknya. Majapahit tidak runtuh sehari setelah Bubat. Tetapi setelah melukai kehormatan Sunda, Majapahit tidak pernah benar-benar bebas dari keretakan politiknya sendiri.

Kerajaan yang memaksa Sunda tunduk itu, akhirnya gagal menjaga keutuhan keluarganya sendiri. Dalam bahasa sejarah, itu konflik suksesi. Dalam bahasa moral, itu kualat politik.

Kualat Leluhur Nusantara: Tafsir Moral atas Bubat

Ada satu lapis lain yang membuat Bubat lebih pahit. Dalam tradisi babad Jawa (Babad Tanah Jawi), khususnya kisah Raden Susuruh, Majapahit pernah dihubungkan dengan Kerajaan Sunda. Raden Susuruh dikisahkan sebagai putra Kerajaan Sunda yang terusir, lalu membuka wilayah Majapahit setelah menemukan buah maja yang pahit. Kisah ini bukan sejarah akademik yang bisa diterima mentah-mentah sebagai kronologi, tetapi penting sebagai ingatan budaya.

Artinya, dalam sebagian tradisi babad, Kerajaan tidak ditempatkan sebagai kerajaan asing yang hina. Sunda justru menjadi sumber tua, karuhun simbolik, asal wibawa yang melahirkan Majapahit dalam imajinasi babad.

Jika begitu, Bubat menjadi lebih tajam. Gajah Mada bukan hanya menyerang rombongan Sunda. Ia mencederai kerajaan tua yang dalam sebagian ingatan justru berdiri sebagai karuhun simbolik. Maka “kualat karuhun” di sini tidak harus dibaca sebagai kutukan mistik. Ia bisa dibaca sebagai metafora politik: ketika kekuasaan melukai sumber kehormatan, ia kehilangan legitimasi moral.

Majapahit menang di Bubat, tetapi tidak mendapatkan Sunda. Sunda kalah di medan, tetapi tidak kehilangan kerajaan.

Membaca Ulang Gajah Mada

Masalah utama dalam banyak penulisan Bubat adalah kecenderungan memutihkan atau bahkan membela Gajah Mada. Ia sering diposisikan sebagai tokoh besar penyatu Nusantara, sementara Bubat dianggap sekadar insiden tragis. Padahal dari sudut Sunda, Gajah Mada adalah aktor politik yang mengubah perkawinan menjadi penaklukan.

Kritik terhadap Gajah Mada bukan berarti membenci Jawa. Justru Kidung Sunda dan Kidung Sundayana sendiri dikenal dari tradisi naskah Bali/Jawa Pertengahan. Ini menunjukkan bahwa tidak semua tradisi sastra Jawa-Bali membela Gajah Mada. Ada suara dalam tradisi itu yang menyimpan simpati kepada Sunda dan melihat Bubat sebagai tragedi akibat ambisi politik Majapahit.

Kalau pun ada kitab Nagara Kertagama yang dituis Mpu Prapanca semasa Majapahit berjaya yang tidak mencantumkan Perang Bubat, hal itu lebih karena merupakan aib bagi Kerajaan Majapahit. Sementara Nagara Kertagama merupakan kitab yang isinya memuji-muji kejayaan Majapahit dan memuja-muja Prabu Hayam Wuruk.

Dengan kata lain, masalahnya bukan Jawa melawan Sunda secara etnis. Masalahnya adalah ambisi kekuasaan Gajah Mada.

Kalaupun ada orang Jawa yang jujur terhadap sumber seperti penulis Kitab Kidung Sundayana, justru bisa membaca Bubat sebagai noda Majapahit, bukan sebagai kemenangan yang patut dibanggakan.

Kesimpulan: Bubat Bukan Akhir Sunda, Melainkan Awal Noda Majapahit

Bubat harus dibaca dengan lebih adil. Peristiwa itu bukan bukti bahwa Gajah Mada berhasil menaklukkan Kerajaan Sunda. Yang terjadi adalah penghancuran rombongan kerajaan di wilayah Majapahit tepatnya di Lapang Bubar. Negara Sunda-Galuh tetap berdiri. Pewaris Prabu Linggabuana yaitu Niskala Wastu Kancana memerintah lama di Kawali Galluh. Sri Baduga Maharaja rabu Siliwangi kemudian membawa Pakuan Pajajaran ke masa gemilang.

Sebaliknya, Majapahit setelah Prabu Hayam Wuruk memasuki masa retak. Perang saudara Paregreg melemahkan kerajaan dari dalam. Pada masa-masa berikutnya, Majapahit perlahan padam di tengah perubahan politik Nusantara dan naiknya kekuatan Islam pesisir.

Bubat bukan kutukan gaib, melainkan kualat politik. Gajah Mada menang dengan siasat liciknya, tetapi gagal memperoleh ketundukan Kerajaan Sunda. Sunda kalah di medan Bubat, tetapi tetap hidup sebagai kerajaan dan makin membersar hingga bernama Kerajaan Pajajaran. Sementara Kerajaan Majapahit menang di Bubat, tetapi membawa noda yang kelak tampak dalam retaknya kekuasaan.

Bubat bukan akhir Sunda. Bubat adalah awal noda Majapahit. Gajah Mada tidak menaklukkan Sunda; ia hanya membantai rombongan Sunda. Sejarah kemudian memperlihatkan ironi pahit: Sunda tetap berdiri, sementara Majapahit retak dari dalam.*** by iwa

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bale Bandung

CIMENYAN, balebandung.com – Pimpinan Cabang Fatayat NU Kabupaten Bandung menyalurkan bantuan paket sembako kepada warga terdampak angin puting beliung di Kampung Cibanteng, Desa Mandalamekar, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung yang terjadi pada Senin 11 Mei 2026. Bantuan tersebut disalurkan langsung kepada lebih dari 60 kepala keluarga yang rumah maupun penghidupannya terdampak bencana. Ketua PC Fatayat NU […]

Bale Bandung

BALEBANDUNG.COM – aum awighnamastu (semoga tiada halangan / semoga selamat) Pupuh DHINGDANG  ndan kawana h sang r narendra haneng wilatika nagari hanma r hayamuruk prabhu subala…maka dikisahkanlah sang Sri Narendra yang berada di negeri Wilwatikta, bernama Sri Hayam Wuruk, raja yang perkasa… *** Dalam naskah Kidung Sundayana, Bubat bukan sekadar perang. Ia adalah dakwaan berdarah terhadap […]

Bale Bandung

BALEBANDUNG.COM – Pangeran Wastu Kancana ditinggal wafat ayahnya, Prabu Maharaja Linggabuana, ketika ia berusia 9 tahun. Ayahnya meninggal dalam Perang Bubat tahun 1357 M. Karena Wastu masih terlalu muda untuk menjadi Raja Sunda, pemerintahan lalu dipegang oleh pamannya, Sang Bunisora, sebagai pejabat sementara raja. Perang Bubat bukan cuma tragedi gugurnya Prabu Linggabuana, Dyah Pitaloka, dan […]

Bale Bandung

BANDUNG, balebandung.com – Pusat Sumber Daya Komunitas atau PSDK DAS Citarum mendesak pemerintah mengevaluasi secara menyeluruh Peraturan Presiden Nomor 15 Tahun 2018 tentang Percepatan Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan DAS Citarum. Desakan itu disampaikan menjelang 10 Tahun Hari Citarum yang diperingati setiap 24 Mei. Ketua PSDK DAS Citarum Ahmad Gunawan mengatakan evaluasi diperlukan karena sejumlah program […]

Bale Bandung

PARARATON umumnya diartikan sebagai “Kitab Para Ratu”. Akar katanya adalah ratu. Dalam Jawa Kuno/Jawa Pertengahan, ratu tidak selalu berarti “ratu perempuan” seperti dalam bahasa Indonesia modern. Ratu bisa berarti penguasa, raja, raja perempuan, atau monark. Jadi lebih aman diterjemahkan sebagai penguasa kerajaan. Sumber ringkas juga menjelaskan Pararaton berasal dari “para ratu” yang berarti para penguasa, […]