Bale Bandung

Pangdam Siliwangi: Lebih Banyak Ketersediaan Vaksin, Lebih Banyak Orang yang Divaksin

×

Pangdam Siliwangi: Lebih Banyak Ketersediaan Vaksin, Lebih Banyak Orang yang Divaksin

Sebarkan artikel ini
Pangdam III/Siliwangi Mayjen TNI Agus Subiyanto saat kegiatan Safari Vaksinasi dan Pembagian Sembako, di Halaman Masjid Jami Al-Karomah, Jalan Baranangsiang, Desa Gunung Leutik, Kec Ciparay Kab Bandung, Selasa (14/9/21). by bbcom

CIPARAY, Balebandung.com – Kodam III/Siliwangi siap membantu pemerintah untuk percepatan vaksinasi. Seperti dalam kegiatan Safari Vaksinasi dan Pembagian Sembako, di Halaman Masjid Jami Al-Karomah, Jalan Baranangsiang, Desa Gunung Leutik, Kec Ciparay Kab Bandung, Selasa (14/9/21).

“Lebih banyak ketersediaan vaksin akan lebih banyak orang yang kita vaksin,” tandas Pangdam III/Siliwangi Mayjen TNI Agus Subiyanto, usai meninjau vaksinasi.

Tujuan diselenggarakan vaksinasi ini, jelas Pangdam, untuk mendukung program pemerintah dan percepatan vaksinasi kepada warga masyarakat, agar terciptanya herd immunity dalam rangka mencegah terpaparnya Covid- 19.

Sedangkan bagi para pelajar diberikan dalam rangka menghadapi pembelajaran tatap muka. “Sementara vaksin bagi pelajar, untuk menghadapi PTM agar mereka lebih cepat melaksanakan tatap muka,” jelas Pangdam.

Selain 1.000 vaksin untuk di Ciparay ini, Kodam III/Slw memberikan sembako bagi masyarakat yang sudah divaksin, dalam rangka membantu ikut meringankan beban bagi warga yang terkena dampak Covid- 19.

Di Kec Ciparay Kab Bandung ini banyak terdapat tempat-tempat usaha (perusahaan) yang berdampingan dengan pemukiman masyarakat.

“Sehingga dengan diberikannya vaksinasi ini akan membantu untuk mudah bersosialisasi sekaligus akan meningkatkan geliat perekonomian masyarakat,” terang Pangdam.

Lebih lanjut Mayjen TNI Agus Subiyanto menuturkan, tentang Safari Vaksinasi yang telah dilaksanakan sejak hari Sabtu hingga hari Selasa ini, telah mengunjungi beberapa tempat. Pangdam melihat secara langsung pelaksanaan vaksinasi dimulai dari wilayah Kabupaten Garut, Tasikmalaya, Pangandaran, dan termasuk di Ciparay Kab. Bandung.***

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bale Bandung

BALEBANDUNG.COM – Dalam naskah Kidung Sundayana, Bubat bukan sekadar perang. Ia adalah dakwaan berdarah terhadap mahapatih yang mengubah perkawinan menjadi penaklukan. Perang Bubat sering datang kepada kita dalam kalimat-kalimat pendek. Dalam Carita Parahyangan, ia hanya muncul sebagai jejak singkat: orang-orang berperang di Majapahit. Dalam Pararaton, ia dicatat lebih terang, tetapi tetap ringkas: ada peristiwa Pasunda […]

Bale Bandung

BALEBANDUNG.COM – Pangeran Wastu Kancana ditinggal wafat ayahnya, Prabu Maharaja Linggabuana, ketika ia berusia 9 tahun. Ayahnya meninggal dalam Perang Bubat tahun 1357 M. Karena Wastu masih terlalu muda untuk menjadi Raja Sunda, pemerintahan lalu dipegang oleh pamannya, Sang Bunisora, sebagai pejabat sementara raja. Perang Bubat bukan cuma tragedi gugurnya Prabu Linggabuana, Dyah Pitaloka, dan […]

Bale Bandung

BANDUNG, balebandung.com – Pusat Sumber Daya Komunitas atau PSDK DAS Citarum mendesak pemerintah mengevaluasi secara menyeluruh Peraturan Presiden Nomor 15 Tahun 2018 tentang Percepatan Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan DAS Citarum. Desakan itu disampaikan menjelang 10 Tahun Hari Citarum yang diperingati setiap 24 Mei. Ketua PSDK DAS Citarum Ahmad Gunawan mengatakan evaluasi diperlukan karena sejumlah program […]

Bale Bandung

PARARATON umumnya diartikan sebagai “Kitab Para Ratu”. Akar katanya adalah ratu. Dalam Jawa Kuno/Jawa Pertengahan, ratu tidak selalu berarti “ratu perempuan” seperti dalam bahasa Indonesia modern. Ratu bisa berarti penguasa, raja, raja perempuan, atau monark. Jadi lebih aman diterjemahkan sebagai penguasa kerajaan. Sumber ringkas juga menjelaskan Pararaton berasal dari “para ratu” yang berarti para penguasa, […]

Bale Bandung

balebandung.com – Tragedi Bubat tidak bisa terus-menerus dibaca sebagai kisah cinta yang gagal. Di balik rencana pernikahan Raja Majapahit, Hayam Wuruk, dengan putri Sunda, Dyah Pitaloka Citraresmi, ada perkara yang jauh lebih keras: kehormatan sebuah kerajaan yang dipaksa masuk ke dalam kalkulasi politik kekuasaan. Di titik itulah nama Gajah Mada tidak bisa dilepaskan. Ia bukan […]