Bale Bandung

Gelar Pendidikan Politik Fungsionaris, Golkar Bandung Barat Siap Rebut Kemenangan 2024

×

Gelar Pendidikan Politik Fungsionaris, Golkar Bandung Barat Siap Rebut Kemenangan 2024

Sebarkan artikel ini

BANDUNG BARAT,balebandung.com – Ketua DPD Golkar Jawa Barat Ace Hasan Syadzily meminta seluruh pengurus Golkar Kabupaten Bandung Barat untuk merebut kembali kemenangan Golkar pada Pemilu 2024 mendatang. Hal itu disampaikan pada pembukaan Pendidikan Politik Fungsionaris Partai Golkar Kabupaten Bandung Barat (KBB) di Batujajar, Sabtu (25/2/2023).

Ace menyebut bahwa Partai Golkar penah mendapatkan 17 kursi di DPRD KBB. Namun kita jumlah tersebut menurun drastis.

“Saatnya Partai Golkar bangkit, melakukan konsolidasi dan merebut kemenangan 2024. Kita pada Rakerda memandatkan harus menang 10 kursi di Kabupaten Bandung Barat,” ujar Ace.

Untuk mencapai kemenangan, Ace meminta para bakal caleg melakukan kerja yang terstruktur dan terukur. Ia juga meminta para fungsionaris memanfaatkan media sosial sebagai alat kampanye dan sosialisasi.

Selanjutnya, Ace menegaskan bahwa Partai Golkar merupakan partai memiliki visi kebangsaan.

“Saya ingin dari pendidikan politik ini lahir kader-kader yang tangguh, yang militan, yang siap memenangkan Partai Golkar”.

“Partai Golkar itu menawarkan program, menawarkan ide, dan menawarkan gagasan. Partai Golkar menawarkan pemikiran dan solusi bagi bangsa. Partai Golkat punya orientasi pembangunan. Itu ciri Partai Golkar. Ingin menciptakan kesejahteraan,” tegas Ace.

Sementara itu, Ketua DPD Golkar Bandung Barat, Dadan Supardan mengingatkan seluruh kader Golkar untuk saling bekerja sama dalam memenangkan Pemilu 2024 nanti.

“Kita lakukan kolaborasi. Target menang adalah target kita semua. Perlu kerjasama dan gotong royong kita semua,” tegas Dadan.

Dadan optimis, dengan kerja-kerja yang terstruktur, Golkar KBB akan mampu meraih 10 kursi di DPRD.***

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bale Bandung

BALEBANDUNG.COM – Dalam naskah Kidung Sundayana, Bubat bukan sekadar perang. Ia adalah dakwaan berdarah terhadap mahapatih yang mengubah perkawinan menjadi penaklukan. Perang Bubat sering datang kepada kita dalam kalimat-kalimat pendek. Dalam Carita Parahyangan, ia hanya muncul sebagai jejak singkat: orang-orang berperang di Majapahit. Dalam Pararaton, ia dicatat lebih terang, tetapi tetap ringkas: ada peristiwa Pasunda […]

Bale Bandung

BALEBANDUNG.COM – Pangeran Wastu Kancana ditinggal wafat ayahnya, Prabu Maharaja Linggabuana, ketika ia berusia 9 tahun. Ayahnya meninggal dalam Perang Bubat tahun 1357 M. Karena Wastu masih terlalu muda untuk menjadi Raja Sunda, pemerintahan lalu dipegang oleh pamannya, Sang Bunisora, sebagai pejabat sementara raja. Perang Bubat bukan cuma tragedi gugurnya Prabu Linggabuana, Dyah Pitaloka, dan […]

Bale Bandung

BANDUNG, balebandung.com – Pusat Sumber Daya Komunitas atau PSDK DAS Citarum mendesak pemerintah mengevaluasi secara menyeluruh Peraturan Presiden Nomor 15 Tahun 2018 tentang Percepatan Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan DAS Citarum. Desakan itu disampaikan menjelang 10 Tahun Hari Citarum yang diperingati setiap 24 Mei. Ketua PSDK DAS Citarum Ahmad Gunawan mengatakan evaluasi diperlukan karena sejumlah program […]

Bale Bandung

PARARATON umumnya diartikan sebagai “Kitab Para Ratu”. Akar katanya adalah ratu. Dalam Jawa Kuno/Jawa Pertengahan, ratu tidak selalu berarti “ratu perempuan” seperti dalam bahasa Indonesia modern. Ratu bisa berarti penguasa, raja, raja perempuan, atau monark. Jadi lebih aman diterjemahkan sebagai penguasa kerajaan. Sumber ringkas juga menjelaskan Pararaton berasal dari “para ratu” yang berarti para penguasa, […]

Bale Bandung

balebandung.com – Tragedi Bubat tidak bisa terus-menerus dibaca sebagai kisah cinta yang gagal. Di balik rencana pernikahan Raja Majapahit, Hayam Wuruk, dengan putri Sunda, Dyah Pitaloka Citraresmi, ada perkara yang jauh lebih keras: kehormatan sebuah kerajaan yang dipaksa masuk ke dalam kalkulasi politik kekuasaan. Di titik itulah nama Gajah Mada tidak bisa dilepaskan. Ia bukan […]