Bale Bandung

Kang Darus; Gak Ada Itu Kebangkitan PKI !

×

Kang Darus; Gak Ada Itu Kebangkitan PKI !

Sebarkan artikel ini
Anggota DPR RI Fraksi Hanura H. Dadang Rusdiana,SE.M.Si
Anggota DPR RI Fraksi Hanura H. Dadang Rusdiana,SE.M.Si

BANDUNG – Kesaktian Pancasila harus memperkokoh keyakinan kita bahwa Pancasila itu ideologi dan dasar negara yang merupakan kesepakatan bersama. Pancasila itu yang mempersatukan Indonesia yang beragam.

“Oleh karena itu, tidak boleh ada pikiran atau gerakan yang menginginkan pergantian ideologi Pancasila dengan faham yang lain,” kata anggota Komisi X DPR RI H. Dadang Rusdiana,SE.M.Si kepada Balebandung.com, Minggu (1/10/17).

Fenomena yang menarik saat ini, kata Dadang, ada “global paradoks”, di mana di satu sisi bahwa kita menjadi warga dunia yang tidak terbatas oleh teritori negara karena perkembangan teknologi informasi. Sementara di sisi lain ada fenomena sektarianisme yang menguat dan pudarnya toleransi.

Maka menurut Darus, sapaan Dadang Rusdiana, disini lah tantangan yang kita hadapi terutama bagaimana menguatkan ideologi bangsa ini pas bagi generasi milenial.

“Pemutaran atau Nobar G 30 S PKI atas inisiatif Panglima TNI tentu harus kita apresiasi sebagai upaya konstruktif dalam mengenalkan dan memperkuat ingatan kita tentang sejarah, terutama penghianatan PKI terhadap NKRI,” tandas Darus.

Sekretaris Fraksi Hanura DPR RI itu menerangkan, dengan film, masyarakat tahu kenapa kita haramkan PKI ada di bumi Indonesia ini. Maka menurutnya persoalan PKI sudah usai, dan isu kebangkitan tidak usah digoreng-goreng untuk kepentingan politik sesaat.

“Gak ada itu kebangkitan PKI ! Jangan mengada-ada. Malu kita sama orang yang cerdas. Habis energi kita untuk membahas takhayul politik yang tak cerdas ini,” tandas legislator dapil Kabupaten Bandung-Bandung Barat ini.

Jadi, imbuh Darus, yang penting bahwa Kesaktian Pancasila memberikan pelajaran pada kita bahwa siapapun yg mencoba-coba ingin mengganti idiologi negara, apakah itu komunis atau kelompok agama yang radikal. “Janganlah mimpi, Rakyat dan TNI akan bersatu mengalahkan,” tegasnya.

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bale Bandung

BALEBANDUNG.COM – aum awighnam?stu (semoga tiada halangan / semoga selamat) Pupuh DHINGDANG  ndan kawana h sang r narendra haneng wilatika nagari hanma r hayamuruk prabhu subala…maka dikisahkanlah sang Sri Narendra yang berada di negeri Wilwatikta, bernama Sri Hayam Wuruk, raja yang perkasa… *** Dalam naskah Kidung Sundayana, Bubat bukan sekadar perang. Ia adalah dakwaan berdarah […]

Bale Bandung

BALEBANDUNG.COM – Pangeran Wastu Kancana ditinggal wafat ayahnya, Prabu Maharaja Linggabuana, ketika ia berusia 9 tahun. Ayahnya meninggal dalam Perang Bubat tahun 1357 M. Karena Wastu masih terlalu muda untuk menjadi Raja Sunda, pemerintahan lalu dipegang oleh pamannya, Sang Bunisora, sebagai pejabat sementara raja. Perang Bubat bukan cuma tragedi gugurnya Prabu Linggabuana, Dyah Pitaloka, dan […]

Bale Bandung

BANDUNG, balebandung.com – Pusat Sumber Daya Komunitas atau PSDK DAS Citarum mendesak pemerintah mengevaluasi secara menyeluruh Peraturan Presiden Nomor 15 Tahun 2018 tentang Percepatan Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan DAS Citarum. Desakan itu disampaikan menjelang 10 Tahun Hari Citarum yang diperingati setiap 24 Mei. Ketua PSDK DAS Citarum Ahmad Gunawan mengatakan evaluasi diperlukan karena sejumlah program […]

Bale Bandung

PARARATON umumnya diartikan sebagai “Kitab Para Ratu”. Akar katanya adalah ratu. Dalam Jawa Kuno/Jawa Pertengahan, ratu tidak selalu berarti “ratu perempuan” seperti dalam bahasa Indonesia modern. Ratu bisa berarti penguasa, raja, raja perempuan, atau monark. Jadi lebih aman diterjemahkan sebagai penguasa kerajaan. Sumber ringkas juga menjelaskan Pararaton berasal dari “para ratu” yang berarti para penguasa, […]

Bale Bandung

balebandung.com – Tragedi Bubat tidak bisa terus-menerus dibaca sebagai kisah cinta yang gagal. Di balik rencana pernikahan Raja Majapahit, Hayam Wuruk, dengan putri Sunda, Dyah Pitaloka Citraresmi, ada perkara yang jauh lebih keras: kehormatan sebuah kerajaan yang dipaksa masuk ke dalam kalkulasi politik kekuasaan. Di titik itulah nama Gajah Mada tidak bisa dilepaskan. Ia bukan […]