Bale Bandung

“Pasar Kojengkang” Diantara Relokasi Pasar dan Terminal

×

“Pasar Kojengkang” Diantara Relokasi Pasar dan Terminal

Sebarkan artikel ini
Pasar Kojengkang Majalaya
Pasar Kojengkang Majalaya
Pasar Kojengkang Majalaya. by Denni Hamdani

MAJALAYA – “Pasar Kojengkang” adalah istilah untuk pasar liar yang tumpah ke jalan. Tekanan kondisi kehidupan mengakibatkan tingkat persaingan yang tidak sehat, para pedagang di “pasar” berprinsip “asal laku dan asal dapat untung”, sehingga berbagai cara berdagang dilakukan. Termasuk memindahkan jongko-jongko mereka ke trotoar jalan umum, lalu dipungut “retribusi formal”, maka pindahlah “pasar” itu di pinggir jalan.

Banyaknya “Pasar Kojengkang” ditambah dengan kerancuan lalu lintas dengan berbagai jenis angkutan yang aturan trayek serta penataan terminalnya yang tak jelas fungsinya. Karena “Pasar” sangat terkait erat dengan transportasi, maka sebanyak “Pasar Liar” berkembang sebanyak itu pula “Terminal Liar” tumbuh. Pangkalan delman atau keretek, pangkalan ojek, mobil mini bus angkutan kota yang mangkal di setiap persimpangan jalan dan ditambah hadirnya bus-bus angkutan karyawan pabrik yang bersasis panjang, semua itu menciptakan “kemacetan baku” di berbagai tempat.

Belum lagi ketidakseimbangan antara panjang dan lebar ruas jalan dengan jumlah kendaraan yang semakin banyak, maka sempurnalah sebuah kota menjadi “fenomena baku” dengan berbagai julukan yang “tak enak didengar”.

Kini saatnya falsafah “teu bobor sapanon, teu carang sapakan” menjadi tindak lanjut untuk menjadikan Majalaya yang “Najan sagoweng sapeser, tetep sareundeuk saigel, sabobot sarimbangan, saketek sapihanean“. by Denni Hamdani.

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bale Bandung

BALEBANDUNG.COM – Dalam naskah Kidung Sundayana, Bubat bukan sekadar perang. Ia adalah dakwaan berdarah terhadap mahapatih yang mengubah perkawinan menjadi penaklukan. Perang Bubat sering datang kepada kita dalam kalimat-kalimat pendek. Dalam Carita Parahyangan, ia hanya muncul sebagai jejak singkat: orang-orang berperang di Majapahit. Dalam Pararaton, ia dicatat lebih terang, tetapi tetap ringkas: ada peristiwa Pasunda […]

Bale Bandung

BALEBANDUNG.COM – Pangeran Wastu Kancana ditinggal wafat ayahnya, Prabu Maharaja Linggabuana, ketika ia berusia 9 tahun. Ayahnya meninggal dalam Perang Bubat tahun 1357 M. Karena Wastu masih terlalu muda untuk menjadi Raja Sunda, pemerintahan lalu dipegang oleh pamannya, Sang Bunisora, sebagai pejabat sementara raja. Perang Bubat bukan cuma tragedi gugurnya Prabu Linggabuana, Dyah Pitaloka, dan […]

Bale Bandung

BANDUNG, balebandung.com – Pusat Sumber Daya Komunitas atau PSDK DAS Citarum mendesak pemerintah mengevaluasi secara menyeluruh Peraturan Presiden Nomor 15 Tahun 2018 tentang Percepatan Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan DAS Citarum. Desakan itu disampaikan menjelang 10 Tahun Hari Citarum yang diperingati setiap 24 Mei. Ketua PSDK DAS Citarum Ahmad Gunawan mengatakan evaluasi diperlukan karena sejumlah program […]

Bale Bandung

PARARATON umumnya diartikan sebagai “Kitab Para Ratu”. Akar katanya adalah ratu. Dalam Jawa Kuno/Jawa Pertengahan, ratu tidak selalu berarti “ratu perempuan” seperti dalam bahasa Indonesia modern. Ratu bisa berarti penguasa, raja, raja perempuan, atau monark. Jadi lebih aman diterjemahkan sebagai penguasa kerajaan. Sumber ringkas juga menjelaskan Pararaton berasal dari “para ratu” yang berarti para penguasa, […]

Bale Bandung

balebandung.com – Tragedi Bubat tidak bisa terus-menerus dibaca sebagai kisah cinta yang gagal. Di balik rencana pernikahan Raja Majapahit, Hayam Wuruk, dengan putri Sunda, Dyah Pitaloka Citraresmi, ada perkara yang jauh lebih keras: kehormatan sebuah kerajaan yang dipaksa masuk ke dalam kalkulasi politik kekuasaan. Di titik itulah nama Gajah Mada tidak bisa dilepaskan. Ia bukan […]