Bale Bandung

“Dari Hal Kamus” 1948: Cara Intelektual Sunda Awal Republik Memandang Bahasa dan Kemajuan Rakyat

×

“Dari Hal Kamus” 1948: Cara Intelektual Sunda Awal Republik Memandang Bahasa dan Kemajuan Rakyat

Sebarkan artikel ini

balebandung.com – Pada masa awal Indonesia merdeka, bahasa dipandang bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga sarana memajukan rakyat. Hal itu tampak jelas dalam tulisan pengantar Kamus Basa Sunda karya R. Satjadibrata terbitan Balai Pustaka tahun 1948.

Tulisan berjudul “Dari Hal Kamus” ini menarik karena memperlihatkan bagaimana kaum intelektual Sunda ketika itu melihat hubungan antara bahasa Sunda, bahasa Indonesia, pendidikan rakyat, dan pembangunan negara baru Republik Indonesia.

Berikut ketik ulang ke ejaan modern untuk dokumentasi sejarah bahasa Sunda.


Dari Hal Kamus

Alangkah baiknya, jika perbuatan seorang warga negara dari suatu negara demokrasi ditujukan ke arah pembangunan rakyat, dan disiapkan untuk kemajuan rakyat.

Saya telah menyusun kamus-kamus, terutama yang menjadi hasrat saya, yaitu untuk keperluan rakyat, sebab rakyat yang tak kenal suatu bahasa resmi di negerinya, tidaklah mungkin tercapai segala cita-citanya.

Tiap-tiap pemerintah dari negara yang berbudaya, tidak bisa tidak mengusahakan rakyatnya agar cukup mengenal bahasa resminya. Saya percaya, bahwa pemerintah kita akan terus memperkuat usahanya mengembangkan pelajaran bahasa Indonesia di tiap-tiap daerah seluruh Indonesia.

Saya harap, mudah-mudahan pekerjaan saya yang amat lumayan ini menjadi sumbangan sedikit untuk usaha pemerintah yang maha besar itu.

Di samping buku-buku pelajaran bahasa Indonesia dan buku-buku lain untuk perkembangan bahasa itu, perlu benar adanya bermacam-macam kamus dan buku tata bahasa (gramatika).

Adapun usaha saya baru sampai penyusunan:

  • Kamus Leutik Indonesia–Sunda jeung Sunda–Indonesia,
  • Kamus Sunda–Indonesia,
  • dan Kamus Indonesia–Sunda.

Yang pertama dan yang kedua sudah diterbitkan oleh Balai Pustaka.

Guna kamus kecil itu terutama untuk membantu pelajaran di sekolah-sekolah dasar, supaya murid-murid tidak terpaksa harus mencatat kata-kata yang didengar gurunya pada sembarang kertas yang kadang-kadang hilang, dan mungkin catatannya pun salah atau kurang jelas.

Tetapi kamus itu boleh juga dipergunakan masyarakat yang mulai mempelajari bahasa Indonesia, apalagi jika nanti diadakan pelajaran istimewa di kalangan masyarakat.

Kamus Sunda–Indonesia yang isinya lebih lengkap daripada kamus kecil tersebut di atas, disediakan untuk orang yang ingin memperdalam pengetahuannya tentang bahasa Indonesia, dan terutama untuk pengertian aktif, sedangkan untuk pengertian pasif dapatlah orang mempergunakan Kamus Indonesia–Sunda.

Karena Tanah Pasundan termasuk dalam lingkungan negara Republik Indonesia Serikat, haruslah kita sadari akan kemungkinan banyaknya pegawai negeri yang berasal dari daerah lain, dan rasanya berguna juga Kamus Sunda–Indonesia ini untuk sekadar meringankan kewajiban pegawai negeri, umpamanya pegawai kepolisian dan pengadilan, lebih-lebih pegawai pamongpraja.

Bukanlah hanya para wedana saja dan para camat yang harus memiliki bahasa Indonesia sebagai bahasa sendiri, tetapi para lurah pun, bahkan semua anggota pengurus desa, jangan pula ketinggalan.

Dalam waktu yang telah lampau tak terdapat seorang kepala desa yang berkamus di kantornya. Sekarang sampai waktunya meja lurah dihiasi dengan macam-macam kamus dan buku-buku yang perlu untuk memajukan rakyat.

Di zaman hidup primitif, jika orang ingin tahu arti sesuatu kata terdapat di dalam sebuah buku atau surat kabar, maka ia pun bertanya kepada orang yang dianggapnya tahu.

Di zaman hidup modern, mungkin orang merasa malu bertanya seperti itu, karena itu orang yang ingin maju harus merasa berkepentingan menyimpan kamus.

Bangsa Indonesia umumnya terkenal sebagai bangsa yang gemar dan mudah mempelajari bahasa asing. Jadi orang-orang daerah yang masih berbahasa daerah semata-mata dapat diharapkan dalam waktu yang tak lama lagi akan cukup mengenal bahasa Indonesia dan membantu mempercepat tercapainya dengan nyata cita-cita yang amat murni “Bertanah air satu, berbangsa satu dan juga berbahasa satu.”

Amin! Ya Rabbul’alamin!

Penjusun kamus ini.


Kamus dan Politik Bahasa Awal Republik

Tulisan Satjadibrata ini sangat menarik karena memperlihatkan suasana Indonesia pada akhir 1940-an. Bahasa Indonesia ketika itu masih terus diperkenalkan kepada rakyat di berbagai daerah.

Namun yang menarik, Satjadibrata tidak melihat bahasa Sunda sebagai penghalang persatuan. Justru kamus Sunda diposisikan sebagai jembatan agar masyarakat Pasundan lebih mudah mempelajari bahasa Indonesia.

Di sini terlihat semangat intelektual Sunda awal republik:

  • menjaga bahasa daerah,
  • tetapi sekaligus mendukung bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan.

Bahkan ada gagasan menarik bahwa kantor lurah seharusnya memiliki kamus sebagai alat memajukan rakyat. Ini menunjukkan bagaimana kamus dipandang sebagai simbol kemajuan dan modernitas.


Ketika Kamus Dipandang Sebagai Alat Pembangunan

Hari ini kita mungkin melihat kamus hanya sebagai buku biasa. Tetapi pada tahun 1948, kamus dipandang sebagai bagian dari pembangunan bangsa.

R. Satjadibrata melihat rakyat yang mengenal bahasa resmi negaranya sebagai syarat penting kemajuan sosial dan pendidikan.

Karena itu, karya seperti Kamus Basa Sunda bukan sekadar buku bahasa, melainkan bagian dari proyek besar:

  • pendidikan rakyat,
  • pembangunan Indonesia,
  • dan pembentukan identitas nasional pasca-kemerdekaan.

Itulah sebabnya karya-karya Balai Pustaka era awal republik menjadi dokumen sejarah yang sangat berharga bagi perkembangan bahasa Sunda maupun sejarah intelektual Indonesia.*** by iwa

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bale Bandung

SOREANG, balebandung.com – Bupati Bandung Dadang Supriatna menegaskan komitmennya memperkuat program Bisyarah Guru Ngaji sebagai bagian dari upaya membentuk generasi muda yang berkarakter dan berakhlakul karimah. Hal itu disampaikan KDS saat menghadiri Bimbingan Teknis (BIMTEK) Persatuan Guru Ngaji Indonesia (PGNI) Kabupaten Bandung, Senin (10/8/2026). Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari tersebut diikuti sekitar 200 peserta […]

Bale Bandung

SOREANG, balebandung.com – Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD) Kabupaten Bandung meluncurkan Kartu Kredit Indonesia (KKI) Pemerintah Kabupaten Bandung sebagai bagian dari upaya memperkuat digitalisasi transaksi belanja daerah sekaligus meningkatkan efektivitas, efisiensi, transparansi, dan akuntabilitas pengelolaan keuangan daerah. Peluncuran KKI dilakukan Bupati Bandung Dadang Supriatna di Grand Sunshine Soreang, Senin (10/8/2026). Peluncuran ini menjadi bagian […]

Bale Bandung

SOREANG, balebandung.com – Bupati Bandung Dadang Supriatna menegaskan komitmen Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bandung untuk menindak tegas tenaga kesehatan (nakes) yang diduga melakukan perundungan atau bullying terhadap pasien melalui media sosial. Bupati Kang Dadang Supriatna (KDS) menyatakan kecewa dan prihatin atas perilaku tersebut, terlebih terjadi sebelum pasien yang bersangkutan meninggal dunia. KDS pun meminta Badan Kepegawaian […]

Bale Bandung

SOREANG, balebandung.com – Bandung Bedas Run 2026 makin menunjukkan potensinya sebagai penggerak sport tourism di Kabupaten Bandung. Hingga Sabtu (8/8/2026), sebanyak 3.242 peserta telah mendaftar dan sekitar 20 persen di antaranya berasal dari luar Jawa Barat. Bupati Bandung Dadang Supriatna mengatakan tingginya peserta dari luar daerah menunjukkan Bandung Bedas Run yang bakal digelar 6 September […]

Bale Bandung

SOREANG, balebandung.com – Dandim 0624 Kabupaten Bandung Letkol Kav Samto Betah mengimbau masyarakat menghindari aktivitas di luar rumah pada malam hari jika tidak memiliki keperluan yang penting. Imbauan tersebut disampaikan sebagai bagian dari upaya bersama menjaga keamanan dan kenyamanan masyarakat Kabupaten Bandung. “Kalau tidak ada kepentingan yang terlalu penting, kalau bisa dihindari untuk keluar malam. […]

Bale Bandung

SOREANG, balebandung.com – Wakil Ketua DPRD Kabupaten Bandung M.A. Hailuki menilai Operasi Berkala Besar yang digelar aparat gabungan TNI-Polri bersama unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) merupakan bentuk responsivitas dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat, terutama di tengah maraknya aksi begal. “Operasi Berkala Besar yang dilaksanakan semalam adalah wujud responsivitas aparat keamanan bersama Forkopimda untuk […]