Bale Kab Bandung

Dipati Ukur, Pahlawan Anti-Kolonisasi Tanah Pasundan [7]: Tiga Orang Bertopeng

Sebuah Novel Menyambut Hari Jadi Kab Bandung ke-378

–Setelah jatuhnya Majapahit, ratusan tahun kemudian kerajaan-kerajaan taklukan di seluruh Nusantara bangkit memupuk kekuatan. Yang paling mencorong adalah Kerajaan Mataram, pengklaim pewaris kekuasaan Majapahit. Sementara kekuatan asing yakni Portugis, Belanda dan Inggris, mulai pula datang menancapkan kuku kekuasaan mereka. Masing-masing dengan kerakusan dan kekejamannya sendiri. Pada saat itu, di Tanah Sunda muncul kekuatan yang mencoba menolak penjajahan, dipimpin seorang bernama Dipati Ukur.–

Itulah yang membuat Si Weregu kian lama makin menghitam. Darah hitam ayam cemani yang dihisapnyalah yang membuatnya demikian.

Balebandung.com – Belum juga Ukur menyiapkan kepalan untuk menghantam siapa saja dari dua orang lawannya itu yang menyerangnya duluan, dari samping kanannya sebuah tendangan deras menuju lambungnya.

“Syaat!”

Ukur sempat menggerakkan tangan kanannya, menangkis tendangan itu. Hanya karena posisinya kurang menguntungkan untuk menahan serangan dari arah tersebut, tak urung ujung kaki penyerangnya sampai juga mengenai lambungnya.

“Duk!”

“Kurang ajar!” Ukur mendesis. Benar tendangan itu tidak membuatnya terluka dalam, tetapi tetap saja menerima tendangan bukanlah hal yang mengenakkan.

“Itu baru bayaran buat apa yang kau lakukan pada temanku. Sebentar lagi kau akan menerima banyak rentenya, Ukur!” Orang tadi berkata setelah sebelumnya mengekeh beberapa jenak. Bola matanya yang tak tertutup topeng berkilat jahat.

Sudah ada orang ketiga yang mengeroyoknya malam ini. Ukur sadar, dengan diserang bertiga dan sejak awal sudah bermain senjata, alhasil ketiga cecunguk ini benar-benar serius ingin menghabisinya. Dia tak bisa hanya mengelak serangan.

Sudah saatnya ia menyerang, bahkan dengan serangan serius yang mematikan. Tak ada salahnya kalau pun salah seorang dari mereka yang menyerangnya perlaya. Toh mereka pun tak tampak setengah hati untuk menghabisinya.

Pelan-pelan Ukur menarik tongkat kayu Weregu dari pinggangnya. Belum saatnya menghunus keris Panunggul Naga yang selalu membantunya membereskan masalah sejenis. Belum, cukup si Weregu Hideung itu saja yang akan ia gunakan untuk melawan golok dan parang para durjana ini.

Apalagi Ukur sadar, tongkat pendek sepanjang dua jengkal itu dengan gampang akan dipandang enteng siapa pun lawannya, akan membuat mereka jauh dari waspada. Wajar bila semua orang akan mempertanyakan apa keistimewaan tongkat Weregu yang telah menghitam dimakan usia itu?

Padahal, kalau saja mereka tahu betapa sulitnya syarat untuk menjaga si Weregu Hideung itu tetap di sampingnya, siapa pun tak akan bisa menganggap Weregu itu sekadar kayu biasa. Tak hanya mewiridkan Surat Al-Falaq sebanyak 99 kali di setiap malam Jumat sambil terus mengelus si Weregu, setiap Maulud Ukur juga harus memandikan Si Weregu dengan darah ayam cemani.

Tahukah apa itu ayam cemani? Ayam berbulu hitam, berdaging hitam dan berdarah juga kehitaman. Itulah yang membuat Si Weregu kian lama makin menghitam. Darah hitam ayam cemani yang dihisapnyalah yang membuatnya demikian. Konon, saat kayu yang mulai dibentuk oleh janggawareng alias buyut dari buyut itu diwariskan kakeknya kepada Ukur, kakeknya bilang untuk tidak memakainya sembarangan.

“Maneh nyaho saha ari Aria Brajadenta dina wayang golek?” tanya kakeknya. “Tahukah Kau, Cu, siapa Aria Brajadenta dalam jagat pewayangan?”

Ukur mengangguk. Setahu dia, Raden Gatutkaca memiliki beberapa paman yang menyurup dalam anggota tubuhnya. Mereka adalah para denawa alias jin raksasa yang gagah perkasa, sakti mandraguna bernama Brajamusti, Brajadenta, Brajawikalpa dan Brajalamatan.

“Nah, dalam kayu Weregu ini hidup jin sejenis Aria Brajadenta tadi. Maka hati-hatilah.”

Prosesi pewarisan Weregu Hideung itu sesederhana itu. Hanya setelah pemberian itu kakek memintanya melakukan shalat dua rakaat. Shalat hajat, memohon agar mampu menerima warisan itu dengan amanah.

“Ayo konco, jangan kepalang. Ini soal hidup dan mati kita. Pilihannya hanya Si Sunda ini yang mati, atau kita yang akan dihabisi junjungan kita karena gagal. Ingat pula hadiah yang akan kita terima kalau bisa menamatkan riwayat Si Sunda keparat ini,” salah seorang di antara orang-orang bertopeng itu berteriak, menyadarkan Ukur dari lamunan sekejapnya. [bersambung/gardanasional.id]

Dipati Ukur, Pahlawan Anti-Kolonisasi Tanah Pasundan [6]: Yang Mengendap-endap di Malam Gelap

Tags

Baca Juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close