RANCAEKEK, balebandung.com — Ketua Tanfidziyah MWC Nahdlatul Ulama (NU) Kecamatan Rancaekek KH Ending Jauharudin mengajak warga Nahdliyin, khususnya kader Fatayat NU, untuk memaknai hijrah sebagai proses perbaikan diri yang berkelanjutan, tidak hanya berpindah dari keburukan menuju kebaikan, tetapi juga terus meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan.
Pesan tersebut disampaikan KH Ending Jauharudin saat memberikan tausiyah pada pengajian rutin PAC Fatayat NU Kecamatan Rancaekek yang digelar PR Fatayat NU Desa Linggar di Masjid Besar Kaum Rancaekek, Kabupaten Bandung, Minggu 21 Juni 2026.
Menurutnya, fenomena hijrah yang berkembang di tengah masyarakat saat ini merupakan sesuatu yang positif. Namun makna hijrah tidak boleh dipersempit hanya sebatas meninggalkan kemaksiatan.
“Hijrah itu bukan hanya dari yang tidak baik menjadi baik. Orang yang sudah baik pun harus terus berhijrah, yaitu meningkatkan keimanan, ketakwaan, dan kualitas ibadah kepada Allah SWT,” kata KH Ending.
Ia menjelaskan, momentum Tahun Baru Islam 1448 Hijriah menjadi saat yang tepat untuk melakukan refleksi dan memperbaiki diri. Sebab, bulan Muharam memiliki kedudukan istimewa dalam sejarah Islam.
KH Ending menyebut banyak peristiwa penting yang terjadi pada bulan Muharam. Di antaranya hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah yang menjadi titik awal perkembangan peradaban Islam.
“Islam berkembang pesat setelah Rasulullah SAW hijrah ke Madinah. Karena itu, semangat hijrah harus menjadi inspirasi bagi umat Islam untuk terus memperbaiki diri dan kehidupan masyarakat,” ujarnya.
Selain peristiwa hijrah Rasulullah, ia juga mengingatkan sejumlah peristiwa bersejarah lainnya yang diyakini terjadi pada bulan Muharam, seperti Nabi Ibrahim AS yang diselamatkan dari bakaran api, Nabi Ayyub AS yang diangkat penyakitnya, serta Nabi Musa AS yang diselamatkan dari kejaran Firaun.
Menurutnya, berbagai peristiwa tersebut menunjukkan bahwa Muharam merupakan bulan penuh keberkahan dan pertolongan Allah SWT bagi umat-Nya.
“Ini bulan yang sangat istimewa. Karena itu mari kita manfaatkan Muharam untuk memperbanyak ibadah, memperkuat silaturahmi, dan meningkatkan kepedulian sosial kepada sesama,” katanya.
KH Ending juga mengingatkan tradisi kepedulian terhadap anak yatim yang selama ini identik dengan bulan Muharam, khususnya menjelang 10 Muharam yang dikenal luas sebagai momentum berbagi kepada anak yatim dan kaum dhuafa.

Pada kesempatan tersebut, ia turut menyosialisasikan pelaksanaan Pendidikan Dasar-Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PD-PKPNU) yang akan digelar di Pondok Pesantren Mardhotillah, Kecamatan Rancaekek pada Juli 2026.
Menurutnya, PD-PKPNU merupakan program kaderisasi dasar yang wajib diikuti para pengurus NU dan sangat dianjurkan bagi seluruh warga Nahdliyin.
“PD-PKPNU bukan sekadar pelatihan organisasi. Banyak manfaat yang didapat, mulai dari menambah ilmu, memperluas jejaring, meningkatkan ghirah perjuangan, hingga membentuk karakter penggerak NU di tengah masyarakat,” ujarnya.
Ia berharap kader Fatayat NU Rancaekek dapat mengambil bagian dalam program kaderisasi tersebut sebagai bekal untuk memperkuat peran perempuan Nahdlatul Ulama dalam bidang keagamaan, sosial, dan kemasyarakatan.
Pengajian rutin PAC Fatayat NU Kecamatan Rancaekek tersebut diikuti kader Fatayat dari berbagai desa di Kecamatan Rancaekek dan menjadi bagian dari upaya memperkuat pemahaman keagamaan sekaligus mempererat silaturahmi antaranggota Fatayat NU di tingkat kecamatan.***







