Catatan Redaksi: Serial ini merupakan saduran prosa dari Kidung Sunda, karya sastra Jawa Pertengahan yang dikenal melalui tradisi manuskrip Bali/Jawa-Bali. Pengarangnya tidak diketahui secara pasti. Ada keterangan yang mengaitkan teks ini dengan kemungkinan pengarang berlatar Jawa yang pindah dan tinggal menetap di Bali karena bahasanya menggunakan Bahasa Bali/Jawa Kuno. Menariknya, meski bukan teks berbahasa Sunda, Kidung Sunda justru berpihak kuat kepada martabat Sunda dalam tragedi Bubat.
Sesampainya di Bubat, Ki Anepaken dan rombongan langsung menghadap Prabu Sunda.
Di pesanggrahan, para ponggawa dan mantri telah duduk berjejer. Prajurit tersebar di bawah beringin. Semua menunggu kabar.
Ki Anepaken menyembah.
“Ampun beribu ampun, Tuanku. Hamba telah mencari keterangan. Hamba telah menemui Patih Majapahit yang bernama Gajah Mada. Benarlah warta yang sampai kepada Tuanku. Ia menaruh curiga. Ia menuduh kedatangan Gusti bukan untuk mempertemukan Putri dengan Prabu, melainkan menyembunyikan maksud politik.”
Ia melanjutkan dengan hati berat.
“Sri Nalendra Majapahit telah terpikat oleh niat Gajah Mada. Kegembiraan yang sejak awal kita bawa dari keraton, musnah tak berbekas. Semua jalan menuju pesta telah buntu. Bahkan hamba masih beruntung dapat kembali menghadap Tuanku. Semula kami hampir mengamuk dan mempertaruhkan nyawa, sebab dihina oleh Patih Agung.”
Lalu ia menceritakan semuanya.
Tidak ada yang dilewatkan.
Prabu Sunda diam.
Wajahnya merah padam. Matanya menyala. Tetapi ia tidak segera meledak. Ia menahan murka di dalam dada. Tangannya gemetar, tetapi suaranya tetap tertata.
“Kalau begitu,” katanya pelan, “jelas kita ditipu. Dielus, dibujuk, lalu hendak direndahkan.”
Ia memandang para ponggawa.
“Bagus benar akal orang Majapahit. Ingin senang memakai tipu. Ingin kaya memakai akal. Setelah kita tertarik, kita hendak diborgol.”
Hening.
Lalu Prabu Sunda berkata lebih keras.
“Hai, semua ponggawa. Katakan terus terang. Bagaimana sekarang?”
Ia tidak memaksa siapa pun.
“Siapa yang takut mati, jangan paksakan diri. Lebih baik lekas pulang. Bawa semua wanita. Hibur mereka. Tetapi kami tidak ragu-ragu. Kami akan membela negara. Kami tidak akan menghitung musuh. Lebih baik gugur dalam perang daripada dicerca dan dihina.”
Kata-kata itu mengubah udara di pesanggrahan.
Para mantri serempak menjawab.
Mereka akan ikut bertempur habis-habisan. Tidak akan berpisah dari Gusti. Bagi mereka, mati di medan perang demi membela bangsa dan negara adalah kemuliaan. Anak cucu Sunda kelak akan menyanyikan keberanian para satria yang gugur di Bubat.
Prabu Sunda memperoleh semangat baru.
Wajahnya kembali tegak.
“Jika begitu,” katanya, “lekas sambut kedatangan musuh. Tekad kami bulat. Kami ingin mati tanpa sesal, membuang nyawa di Majapahit demi kehormatan Sunda.”
Setelah musyawarah selesai, para ponggawa mundur.
Prabu Sunda masuk menemui Permaisuri dan Putri.
Di dalam pesanggrahan, Permaisuri dan Rajaputri duduk di bangku indah. Ketika melihat ayahnya datang, Putri disambut dengan pelukan dan belaian.
“Wahai, anakku sayang,” kata Prabu Sunda. “Jantung hati dan jiwa ayah. Tak ayah duga takdir membawa kita pada kegagalan. Niat mengawinkanmu terhalang godaan besar. Rupanya tidak ada jodoh antara engkau dan Maha Ratu Majapahit. Yang Widi tidak memperkenankan.”
Putri terdiam.
Prabu Sunda melanjutkan dengan suara yang makin berat.
“Raja Majapahit telah berubah sikap. Ia ingkar dari janji. Ayah diminta bersujud dan membaktikanmu, seakan-akan Sunda adalah bawahan yang telah takluk. Engkau hendak dijadikan upeti. Ayah tidak sampai hati.”
Ia menahan napas.
“Daripada hina, lebih baik ayah membuang nyawa. Agaknya Sunda harus bertarung dengan Majapahit. Ayah tidak akan mundur. Ayah akan memenuhi darma satria.”
Lalu ia meminta Putri pulang ke Tanah Sunda bersama ibunya dan semua wanita.
“Biarlah engkau tenteram di negeri sendiri,” katanya. “Jangan khawatir memikirkan yang berperang. Kewajiban raja adalah memenuhi darma satria.”
Kemudian Prabu Sunda berpaling kepada Permaisuri.
“Istriku, penghibur hati. Pendampingku siang malam. Hari ini cobaan kita tiba. Mungkin ini hari penghabisan kasih dan rindu. Jika kakang sampai ajal, tabahlah. Rawatlah Neng Galuh. Esok engkau mesti pulang ke Tanah Sunda bersama Putri dan semua wanita.”
Permaisuri menunduk.
Lalu ia bangkit, menyembah, dan berkata dengan suara tegas.
“Wahai, Sinuhun Sunda. Hamba enggan berpisah. Mengapa hamba harus pulang ke Tanah Sunda dan meninggalkan Gusti? Bukankah semua ini terjadi karena hamba dan putri yang hendak dibela?”
Ia memandang suaminya.
“Jika Gusti hamba tinggalkan, hamba hina. Hamba berdosa. Ayah dan ibu adalah wakil Yang Widi yang membuat hamba lahir. Jika hamba takut mati, sama saja hamba tak beriman.”
Lalu ia menyatakan niatnya.
“Semoga Rama berkenan. Hamba akan menanti. Jika nanti Ayah tidak beruntung dan gugur di medan perang, maka ibu dan hamba akan labuh geni mengikuti Ayah.”
Prabu Sunda menunduk mendengar ucapan itu.
Hatinya kian berani.
Di luar pesanggrahan, tangis para sahaya mulai terdengar. Bubat yang semula menjadi tempat menanti pesta, kini berubah menjadi halaman terakhir sebelum darah tertumpah.
Dan malam itu, di bawah pohon beringin, Sunda telah mengambil keputusan.
Lebih baik mati sebagai kerajaan merdeka, daripada hidup sebagai negeri yang dipaksa tunduk.
Bubat: Saat Kehormatan Memilih Darah
Di bawah pohon beringin besar di pesanggrahan Bubat, para ponggawa Sunda telah berkumpul.
Mereka duduk berderet menurut martabat dan kedudukannya. Para senapati, patih, tumenggung, dan mantri memenuhi halaman. Wajah-wajah yang dulu datang dengan harapan pesta perkawinan kini berubah keras oleh tekad perang.
Ki Jagatsaya duduk tertunduk di hadapan raja. Demikian pula Jatiguru, Demang Makara, Rangga Caho, Panji Melong, Tumenggung Penghulu Borang, Anepaken Patih, Patih Pitar, dan para panglima lainnya. Semua hadir. Semua menunggu sabda terakhir dari rajanya.
Prabu Sunda memandang mereka satu per satu.
Matanya letih, tetapi belum kehilangan nyala.
“Wahai ponggawa dan mantri,” sabdanya perlahan, “pahlawan tanah Sunda… kalian tentu telah mengerti mengapa kita dipanggil berkumpul.”
Tak ada yang menjawab.
Angin bergerak pelan di antara panji-panji perang.
“Kita mesti waspada,” lanjut sang raja. “Jika musuh datang, kita maju bersama dan mempertaruhkan jiwa. Jangan menghitung jumlah mereka. Jangan memikirkan untung rugi. Ingatlah kewajiban satria.”
Suaranya mulai meninggi.
“Gugur di medan perang demi bangsa dan negara adalah mati mulia.”
Kata-kata itu jatuh seperti bara ke dada para panglima.
Mereka serentak menyembah.
“Daulat, Gusti!” sahut mereka. “Prajurit Galuh akan mati bersama Tuanku!”
Tidak ada ketakutan di wajah mereka. Yang ada hanya kepastian bahwa jalan pulang hampir tertutup.
Mendengar sumpah setia itu, Prabu Sunda memerintahkan seluruh emas dan pakaian pusaka kerajaan dibagikan kepada para panglima dan prajurit. Semua benda indah yang tadinya dibawa untuk pesta pernikahan dikeluarkan dari peti-peti kerajaan.
Permata, kain agung, pakaian kebesaran, semua dibagi rata.
Tak ada lagi gunanya menyimpan kemewahan bila maut sudah menunggu di depan mata.
Sunda telah berubah.
Yang tadinya datang sebagai rombongan pengantin kini menjelma pasukan yang siap mati.
Majapahit Bergerak
Di Majapahit, genderang perang mulai dipukul.
Gajah Mada berdiri di tengah keramaian pasukan yang berhimpun dari segala penjuru negeri. Dari Daha, Kahuripan, dan wilayah-wilayah bawahan lain, balatentara datang memenuhi kota.
Canang pusaka Basantaka ditabuh.
Suara logamnya mengguncang udara.
Orang-orang di pasar berhenti berbicara. Anak-anak berhenti bermain. Para perempuan memandang jalan dengan cemas. Semua tahu suara itu berarti satu hal: perang besar akan dimulai.
Kereta perang berdatangan.
Kuda-kuda meringkik.
Gajah-gajah menjerit.
Para mantri dan senapati berdiri dalam pakaian kebesaran mereka yang berkilau di bawah matahari.
Di tengah semua itu, Gajah Mada tampak paling menonjol.
Panji bergambar gajah mengamuk berkibar di depan keretanya. Benang emas pada sulaman panji memantulkan cahaya seperti kilat. Wajah sang mahapatih keras dan tegang. Ia tidak lagi tampak sebagai negarawan, melainkan panglima yang sudah menaruh seluruh kehormatan Majapahit di ujung tombak.
Di belakangnya, Hayam Wuruk muncul menaiki gajah besar.
Prabu muda itu tampak agung, tampan, dan bercahaya. Pakaiannya dari wol putih. Kalung teratai manikam menggantung di dadanya. Semua yang memandangnya akan mengira ia sedang menuju pesta kemenangan.
Tetapi di balik ketampanan itu, ada kegelisahan yang belum padam.
Di dalam hati kecilnya, bayangan Dyah Pitaloka masih hidup.
Ia datang ke medan perang sambil membawa rindu yang belum sempat menjadi kenyataan.
Utusan Terakhir
Sebelum perang dimulai, Gajah Mada mengirim utusan terakhir ke Bubat.
Mereka datang membawa seratus prajurit, mendekati pesanggrahan Sunda tanpa rasa hormat.
Saat itu orang-orang Sunda sedang berpesta untuk terakhir kali.
Gong dipukul siang malam. Orang makan, minum, tertawa, dan menyanyi. Tetapi kegembiraan itu bukan kegembiraan orang yang akan menikah.
Itu kegembiraan orang yang telah memutuskan mati.
Mereka berpesta karena tahu esok mungkin tak ada lagi matahari untuk mereka.
Utusan Majapahit maju ke depan Prabu Sunda.
“Hai, Ratu Sunda,” katanya pongah, “jika takut mati, lekas bersujud kepada Sri Nalendra. Serahkan Putri sekarang juga.”
Suasana pesanggrahan langsung menegang.
Prabu Sunda memandang utusan itu dengan mata dingin.
“Aku tidak berniat bersujud,” jawabnya tenang. “Aku pun tidak berniat menyerahkan anakku sebagai tanda takluk.”
Ia berdiri perlahan.
“Perihal perang… siang berani, malam berani. Orang Sunda tidak takut membuang nyawa.”
Jawaban itu seperti petir.
Anepaken Patih langsung berdiri dengan wajah merah padam. Tumenggung Penghulu Borang mondar-mandir sambil menggenggam gagang senjata.
“Hai, utusan kampungan!” bentaknya. “Cepat jemput kawan-kawanmu! Besok kami ingin melihat wajah senapatimu!”
Utusan Majapahit mundur sambil mengancam.
“Besok semua orang Sunda dibasmi!”
Tetapi orang-orang Sunda tidak gentar.
Malam itu mereka tetap tertawa, minum, dan memukul gong hingga pagi.
Seolah-olah mereka sedang berpamitan kepada hidup.
Pagi Berdarah di Bubat
Keesokan harinya matahari terbit dengan cahaya merah.
Dari arah timur, barat, dan selatan, balatentara Majapahit bergerak mengepung Bubat.
Tombak merah tampak seperti hutan.
Bedil berderet-deret.
Debu beterbangan di bawah kaki pasukan yang jumlahnya bagai laut tanpa tepi.
Orang Sunda telah siap.
Di kapal-kapal mereka, meriam dipasang menghadap daratan. Para prajurit berdiri dalam pakaian perang terbaik. Tidak satu pun tampak hendak mundur.
Lalu perang pecah.
Dentuman bedil mengguncang bumi.
Meriam kapal Sunda menyalak dari sungai, memuntahkan peluru seperti hujan besi. Asap hitam memenuhi udara. Pepohonan tumbang. Jerit manusia bercampur bunyi canang dan sorak perang.
Orang Sunda bertempur seperti orang yang sudah melepaskan hidupnya.
Mereka tidak lagi memikirkan kemenangan.
Yang mereka jaga hanyalah kehormatan.
Anepaken Patih memimpin serangan dengan gagah. Pedangnya diputar-putar di atas kepala. Kudanya yang hitam, Si Gagak Mayura, menerjang maju di tengah hujan panah.
Di sampingnya, Larangagung mengamuk seperti banteng terluka.
Pasukan Majapahit yang semula rapat mulai pecah. Banyak prajurit lari tunggang-langgang. Tetapi jumlah mereka terlalu besar.
Gelombang demi gelombang terus datang.
Mayat mulai menumpuk.
Tanah Bubat berubah merah.*** bersambung






