Catatan Redaksi: Serial ini merupakan saduran prosa dari Kidung Sunda, karya sastra Jawa Pertengahan yang dikenal melalui tradisi manuskrip Bali/Jawa-Bali. Pengarangnya tidak diketahui secara pasti. Ada keterangan yang mengaitkan teks ini dengan kemungkinan pengarang berlatar Jawa yang pindah dan tinggal menetap di Bali karena bahasanya menggunakan Bahasa Bali/Jawa Kuno. Menariknya, meski bukan teks berbahasa Sunda, Kidung Sunda justru berpihak kuat kepada martabat Sunda dalam tragedi Bubat.
Di tengah kekacauan perang, Anepaken akhirnya melihat kereta Gajah Mada.
Mahapatih Majapahit itu berdiri tegak di atas kereta perang dengan wajah keras. Panji bergambar gajah mengamuk berkibar di atas kepalanya.
Anepaken langsung memacu kudanya.
“Nah!” serunya. “Sekarang kita bertemu, Gajah Mada!”
Suara perang seakan menjauh sesaat.
“Aku masih ingat penghinaanmu di paseban!” bentak Anepaken. “Sekarang mari kita ukur darah!”
Gajah Mada menatapnya dengan mata merah.
“Sudah waktunya,” jawabnya pendek.
Anepaken tertawa keras.
“Turunlah dari kereta itu kalau kau benar-benar jantan!”
Tanpa menunggu jawaban, Patih Sunda melompat dari kudanya menuju kereta Gajah Mada.
Tetapi pada saat itulah kusir kereta, Ken Enti, bergerak cepat.
Tombaknya menghunjam perut Anepaken.
Darah menyembur.
Namun Patih Sunda belum jatuh.
Dengan tubuh berlumuran darah ia masih berusaha memanjat kereta untuk meraih Gajah Mada.
Saat itulah Gajah Mada menusukkan tombaknya dengan bengis.
Anepaken terlempar jatuh.
Tubuhnya menghantam tanah.
Ia mencoba bangkit sekali lagi, tetapi tombak Gajah Mada kembali menghujam.
Patih Sunda roboh untuk selamanya.
Panglima terbesar Sunda gugur di tanah Bubat.
Gugurnya Raja Sunda
Kabar kematian Anepaken sampai kepada Prabu Sunda.
Raja itu terdiam sesaat.
Satu demi satu ponggawanya gugur. Pasukan semakin sedikit. Tetapi matanya justru makin tajam.
“Sekarang giliranku,” katanya pelan.
Ia naik ke atas gajah perang besar dengan pakaian kebesaran raja.
Dari kejauhan, Prabu Kahuripan dan Prabu Daha maju menghadangnya.
Dua raja melawan satu raja.
Namun Prabu Sunda tidak gentar.
Ia memandang Prabu Kahuripan sambil tersenyum tipis.
“Semula kita hendak bersaudara,” katanya. “Tetapi takdir berkata lain. Kalau benar ingin bersaudara, mari buktikan sekarang… sebagai satria.”
Mereka lalu bertarung.
Gajah-gajah perang saling menghantam dengan gading. Tombak beterbangan. Permata dari tameng dan tombak pecah berserakan di tanah.
Prabu Sunda bertarung luar biasa.
Tetapi jumlah lawannya terlalu banyak.
Prabu Daha dan Prabu Kahuripan menyerangnya bergantian.
Sebuah tombak menghantam dadanya.
Lalu tombak kedua menembus tubuhnya.
Prabu Sunda roboh di atas gajah perang.
Sang Raja wafat.
Saat itu juga langit berubah gelap.
Hujan turun rintik-rintik.
Guruh menggelegar.
Seolah alam ikut berkabung atas gugurnya raja terakhir Sunda yang memilih mati sebagai penguasa merdeka.
Dyah Pitaloka
Ketika kabar kematian Raja Sunda tiba di pesanggrahan, tangis langsung pecah.
Permaisuri menangis.
Para dayang menangis.
Tetapi Dyah Pitaloka justru duduk tenang.
Putri itu telah mengenakan pakaian putih. Rambutnya yang panjang terurai. Di pangkuannya terletak sebilah keris.
Permaisuri memeluknya.
“Neng,” katanya lirih, “lebih baik sekarang menyusul ayahanda.”
Dyah Pitaloka mengangguk pelan.
“Aku akan membela Rama,” jawabnya.
Ia mencabut keris itu.
Tak ada jerit.
Tak ada keraguan.
Dengan gerakan tenang, putri Sunda itu menusukkan keris ke dadanya sendiri.
Tubuhnya rebah perlahan.
Dyah Pitaloka wafat sebelum sempat menjadi permaisuri Majapahit.
Dan bersama dirinya, runtuh pula harapan perkawinan dua kerajaan besar.
Penyesalan Hayam Wuruk
Sesudah perang usai, Hayam Wuruk akhirnya memasuki pesanggrahan Sunda.
Ia datang dengan hati yang masih dipenuhi bayangan kecantikan Putri Sunda.
Tetapi yang ditemuinya hanyalah jenazah.
Dyah Pitaloka terbujur diam di bawah kain sutra hijau bersulam emas.
Hayam Wuruk membeku.
Perlahan ia membuka penutup jenazah itu.
Putri Sunda tampak seperti sedang tidur.
Bibirnya sedikit terbuka. Matanya nyaris terpejam. Wajahnya tetap cantik, seolah maut pun enggan merusaknya.
Hayam Wuruk jatuh terduduk.
Penyesalan menghantamnya terlambat.
Ia membelai wajah Dyah Pitaloka sambil menangis.
“Duhai buah hati…” bisiknya. “Andai aku datang lebih cepat… mungkin engkau masih hidup.”
Tetapi semuanya telah terlambat.
Bubat telah selesai.
Yang tersisa hanyalah mayat, abu, dan penyesalan.
Majapahit menang perang.
Tetapi di tanah Bubat itu, kemenangan terasa seperti kutukan.*** TAMAT






