Bale Bandung

Kidung Sunda (6): Duel Patih Anepaken dan Gajah Mada

×

Kidung Sunda (6): Duel Patih Anepaken dan Gajah Mada

Sebarkan artikel ini

Catatan Redaksi: Serial ini merupakan saduran prosa dari Kidung Sunda, karya sastra Jawa Pertengahan yang dikenal melalui tradisi manuskrip Bali/Jawa-Bali. Pengarangnya tidak diketahui secara pasti. Ada keterangan yang mengaitkan teks ini dengan kemungkinan pengarang berlatar Jawa yang pindah dan tinggal menetap di Bali karena bahasanya menggunakan Bahasa Bali/Jawa Kuno. Menariknya, meski bukan teks berbahasa Sunda, Kidung Sunda justru berpihak kuat kepada martabat Sunda dalam tragedi Bubat.

Di tengah kekacauan perang, Anepaken akhirnya melihat kereta Gajah Mada.

Mahapatih Majapahit itu berdiri tegak di atas kereta perang dengan wajah keras. Panji bergambar gajah mengamuk berkibar di atas kepalanya.

Anepaken langsung memacu kudanya.

“Nah!” serunya. “Sekarang kita bertemu, Gajah Mada!”

Suara perang seakan menjauh sesaat.

“Aku masih ingat penghinaanmu di paseban!” bentak Anepaken. “Sekarang mari kita ukur darah!”

Gajah Mada menatapnya dengan mata merah.

“Sudah waktunya,” jawabnya pendek.

Anepaken tertawa keras.

“Turunlah dari kereta itu kalau kau benar-benar jantan!”

Tanpa menunggu jawaban, Patih Sunda melompat dari kudanya menuju kereta Gajah Mada.

Tetapi pada saat itulah kusir kereta, Ken Enti, bergerak cepat.

Tombaknya menghunjam perut Anepaken.

Darah menyembur.

Namun Patih Sunda belum jatuh.

Dengan tubuh berlumuran darah ia masih berusaha memanjat kereta untuk meraih Gajah Mada.

Saat itulah Gajah Mada menusukkan tombaknya dengan bengis.

Anepaken terlempar jatuh.

Tubuhnya menghantam tanah.

Ia mencoba bangkit sekali lagi, tetapi tombak Gajah Mada kembali menghujam.

Patih Sunda roboh untuk selamanya.

Panglima terbesar Sunda gugur di tanah Bubat.

Gugurnya Raja Sunda

Kabar kematian Anepaken sampai kepada Prabu Sunda.

Raja itu terdiam sesaat.

Satu demi satu ponggawanya gugur. Pasukan semakin sedikit. Tetapi matanya justru makin tajam.

“Sekarang giliranku,” katanya pelan.

Ia naik ke atas gajah perang besar dengan pakaian kebesaran raja.

Dari kejauhan, Prabu Kahuripan dan Prabu Daha maju menghadangnya.

Dua raja melawan satu raja.

Namun Prabu Sunda tidak gentar.

Ia memandang Prabu Kahuripan sambil tersenyum tipis.

“Semula kita hendak bersaudara,” katanya. “Tetapi takdir berkata lain. Kalau benar ingin bersaudara, mari buktikan sekarang… sebagai satria.”

Mereka lalu bertarung.

Gajah-gajah perang saling menghantam dengan gading. Tombak beterbangan. Permata dari tameng dan tombak pecah berserakan di tanah.

Prabu Sunda bertarung luar biasa.

Tetapi jumlah lawannya terlalu banyak.

Prabu Daha dan Prabu Kahuripan menyerangnya bergantian.

Sebuah tombak menghantam dadanya.

Lalu tombak kedua menembus tubuhnya.

Prabu Sunda roboh di atas gajah perang.

Sang Raja wafat.

Saat itu juga langit berubah gelap.

Hujan turun rintik-rintik.

Guruh menggelegar.

Seolah alam ikut berkabung atas gugurnya raja terakhir Sunda yang memilih mati sebagai penguasa merdeka.

Dyah Pitaloka

Ketika kabar kematian Raja Sunda tiba di pesanggrahan, tangis langsung pecah.

Permaisuri menangis.

Para dayang menangis.

Tetapi Dyah Pitaloka justru duduk tenang.

Putri itu telah mengenakan pakaian putih. Rambutnya yang panjang terurai. Di pangkuannya terletak sebilah keris.

Permaisuri memeluknya.

“Neng,” katanya lirih, “lebih baik sekarang menyusul ayahanda.”

Dyah Pitaloka mengangguk pelan.

“Aku akan membela Rama,” jawabnya.

Ia mencabut keris itu.

Tak ada jerit.

Tak ada keraguan.

Dengan gerakan tenang, putri Sunda itu menusukkan keris ke dadanya sendiri.

Tubuhnya rebah perlahan.

Dyah Pitaloka wafat sebelum sempat menjadi permaisuri Majapahit.

Dan bersama dirinya, runtuh pula harapan perkawinan dua kerajaan besar.

Penyesalan Hayam Wuruk

Sesudah perang usai, Hayam Wuruk akhirnya memasuki pesanggrahan Sunda.

Ia datang dengan hati yang masih dipenuhi bayangan kecantikan Putri Sunda.

Tetapi yang ditemuinya hanyalah jenazah.

Dyah Pitaloka terbujur diam di bawah kain sutra hijau bersulam emas.

Hayam Wuruk membeku.

Perlahan ia membuka penutup jenazah itu.

Putri Sunda tampak seperti sedang tidur.

Bibirnya sedikit terbuka. Matanya nyaris terpejam. Wajahnya tetap cantik, seolah maut pun enggan merusaknya.

Hayam Wuruk jatuh terduduk.

Penyesalan menghantamnya terlambat.

Ia membelai wajah Dyah Pitaloka sambil menangis.

“Duhai buah hati…” bisiknya. “Andai aku datang lebih cepat… mungkin engkau masih hidup.”

Tetapi semuanya telah terlambat.

Bubat telah selesai.

Yang tersisa hanyalah mayat, abu, dan penyesalan.

Majapahit menang perang.

Tetapi di tanah Bubat itu, kemenangan terasa seperti kutukan.*** TAMAT

 

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bale Bandung

SOREANG, balebandung.com – Bandung Bedas Run 2026 makin menunjukkan potensinya sebagai penggerak sport tourism di Kabupaten Bandung. Hingga Sabtu (8/8/2026), sebanyak 3.242 peserta telah mendaftar dan sekitar 20 persen di antaranya berasal dari luar Jawa Barat. Bupati Bandung Dadang Supriatna mengatakan tingginya peserta dari luar daerah menunjukkan Bandung Bedas Run yang bakal digelar 6 September […]

Bale Bandung

SOREANG, balebandung.com – Dandim 0624 Kabupaten Bandung Letkol Kav Samto Betah mengimbau masyarakat menghindari aktivitas di luar rumah pada malam hari jika tidak memiliki keperluan yang penting. Imbauan tersebut disampaikan sebagai bagian dari upaya bersama menjaga keamanan dan kenyamanan masyarakat Kabupaten Bandung. “Kalau tidak ada kepentingan yang terlalu penting, kalau bisa dihindari untuk keluar malam. […]

Bale Bandung

SOREANG, balebandung.com – Wakil Ketua DPRD Kabupaten Bandung M.A. Hailuki menilai Operasi Berkala Besar yang digelar aparat gabungan TNI-Polri bersama unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) merupakan bentuk responsivitas dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat, terutama di tengah maraknya aksi begal. “Operasi Berkala Besar yang dilaksanakan semalam adalah wujud responsivitas aparat keamanan bersama Forkopimda untuk […]

Bale Bandung

balebandung.com – Komitmen dalam memperkuat kerja sama internasional di bidang pendidikan, komunikasi, dan pemberdayaan masyarakat kembali diwujudkan melalui kegiatan Community Service International Collaborationyang melibatkan Forum Komunikasi Masyarakat Muslim Indonesia (FORKOMMI) Malaysia, Sanggar Bimbingan (SB) Broga, Negeri Sembilam, Malaysia serta Dosen FKS, Bandung, Telkom University, Indonesia. Kegiatan yang berlangsung pada Minggu, (2/8) diselenggarakan di Sanggar Bimbingan […]

Bale Bandung

BOJONGSOANG, balebandung.com – Bupati Bandung Dadang Supriatna menargetkan 172 Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) di Kabupaten Bandung dilengkapi mesin motah sehingga mampu mengolah sedikitnya 600 ton sampah per hari. Target tersebut disampaikan usai meresmikan TPS3R Tegalluar Lestari di Kampung Sapan, Desa Tegalluar, Kecamatan Bojongsoang, Jumat (7/8/2026). “Saat ini ada 172 TPS3R di Kabupaten […]

Bale Bandung

BOJONGSOANG, balebandung.com – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bandung terus memperkuat upaya penanganan banjir melalui program Pentahelix dengan melibatkan pemerintah pusat, pemerintah provinsi, pemerintah daerah, pemerintah desa, TNI-Polri, dunia usaha, hingga masyarakat. Salah satu lokasi yang menjadi perhatian adalah Sungai Cikeruh di Desa Tegalluar, Kecamatan Bojongsoang. Bupati Bandung Dadang Supriatna melakukan monitoring dan peninjauan langsung kegiatan normalisasi […]