balebandung.com – Bandung tidak lagi sama seperti ketika Oto pertama kali datang sebagai pelajar. Kota itu tumbuh cepat. Gedung-gedung baru bermunculan. Jalan-jalan mulai ramai oleh kendaraan. Surat kabar terbit hampir setiap hari membawa kabar dari berbagai penjuru Hindia Belanda. Di warung kopi, kantor organisasi, hingga beranda rumah para aktivis, orang-orang membicarakan hal yang sama: perubahan.
Oto merasakan perubahan itu secara langsung.
Hampir setiap minggu ia menghadiri rapat, diskusi, atau pertemuan organisasi. Kadang berlangsung di Bandung, kadang di luar kota. Lingkaran pergaulannya semakin luas. Ia mulai mengenal wartawan, guru, aktivis, hingga tokoh-tokoh pergerakan dari berbagai daerah.
Banyak di antara mereka memiliki latar belakang berbeda. Ada yang berasal dari kalangan bangsawan, ada yang tumbuh dari keluarga sederhana. Ada yang bergerak melalui pendidikan, ada yang memilih jalur politik. Namun mereka dipertemukan oleh kegelisahan yang sama: mengapa bumiputra selalu berada di posisi paling bawah di negeri sendiri?
Di tengah suasana seperti itu, kemampuan Oto berbicara menjadi semakin terasah.
Ia bukan tipe orator yang suka menggelegar. Ia juga bukan tokoh yang gemar menggunakan kata-kata rumit. Kekuatan Oto justru terletak pada kemampuannya menyampaikan persoalan dengan bahasa yang mudah dipahami.
Orang-orang mulai menunggu ketika ia berdiri untuk berbicara.
Di berbagai forum, Oto sering mengangkat persoalan pendidikan. Menurutnya, kemajuan masyarakat tidak mungkin dicapai jika rakyat terus dibiarkan tertinggal. Sekolah bukan hanya tempat mencari pekerjaan, tetapi tempat membangun harga diri.
Pandangan itu mendapat sambutan luas, terutama di kalangan generasi muda Sunda.
Pada masa yang sama, surat kabar bumiputra berkembang pesat. Tulisan-tulisan tentang pendidikan, politik, dan masa depan Hindia Belanda semakin sering muncul. Nama Oto mulai beberapa kali disebut dalam pemberitaan organisasi dan pergerakan.
Tanpa disadarinya, lingkaran pengaruhnya semakin besar.
Bagi sebagian orang, ia adalah guru. Bagi yang lain, ia adalah aktivis organisasi. Namun bagi banyak anak muda Sunda, Oto mulai dilihat sebagai contoh bahwa kaum bumiputra bisa berbicara setara dengan siapa pun.
Semakin besar pengaruhnya, semakin sering pula pemerintah kolonial memperhatikan gerak-geriknya. Namun Oto tidak terlalu memikirkan itu.
Perhatiannya tertuju pada satu hal: bagaimana membuat masyarakatnya lebih percaya pada kemampuan mereka sendiri.
Di tengah Bandung yang sedang mendidih oleh gagasan-gagasan baru, Oto perlahan menemukan tempatnya. Ia bukan lagi sekadar guru. Ia mulai berubah menjadi pemimpin.***bersambung







