Balebandung.com – Esoknya pagi-pagi sekali, usai menjalankan shalat Subuh Ukur telah berada di punggung kuda. Di sebelahnya Rangga Gempol duduk di kuda yang lain, terkantuk-kantuk mencoba tegak. Tadi, Ukur cukup lama menunggu menak itu bangun sendiri, tapi ternyata tak bisa diharap. Dibangunkannya setengah paksa, sambil minta maaf dirinya tak bisa menunggu. Sontak menak kebluk[1] itu […]
Tag: Dipati Ukur
Dipati Ukur; Pahlawan Anti-Kolonisasi Tanah Pasundan [12] : Di Tengah Kerakusan Penghuni Istana
Ingin rasanya ia beradu kekuatan mata dengan raja Mataram itu. Tak cukup banyak rasa hormat yang bisa membuatnya menghargai raja Balebandung.com – Kini Sultan Agung sudah duduk di singgasananya. Sebelum berbicara, ia layangkan pandangannya menyapu seluruh ruangan. Pas giliran pandangannya tertumbuk pada Ukur dan Pangeran Aria Suradiwangsa, ia berhenti agak lama. Ukur sempat bertatap mata dengan […]
Dipati Ukur; Pahlawan Anti-Kolonisasi Tanah Pasundan [11]: Raja Mataram yang Melipat Waktu
Balebandung.com – Esok harinya, usai shalat subuh Ukur tak melakukan aktivitas rutinnya, yakni melancarkan gerakan, mengolah dan melentur tubuh dengan berlatih bela diri. Ia malah mencari daun lamtoro dan merang padi. Dibakarnya merang padi hingga menjadi abu. Abu panas merah padi itu kemudian dimasukkannya ke dalam mangkok gerabah. Disiramnya abu dalam gerabah itu dengan air hingga […]
Dipati Ukur , Pahlawan Anti-Kolonisasi Tanah Pasundan [10] : Kumeok Memeh Dipacok
Begitu mudah ksatria Sumedang Larang itu menyatakan takluk tanpa berjuang mempertahankan kehormatan karuhun, leluhur mereka terlebih dulu Balebandung.com – Ukur tak punya banyak pilihan kecuali berlutut satu kaki, sementara posisi kaki yang lain lebih tinggi. Kepalanya ia tundukkan dengan khidmat, sementara kedua tangannya terbuka rata, bertemu satu jemari kiri dengan jemari lain yang serupa di tangan […]
Dipati Ukur, Pahlawan Anti-Kolonisasi Tanah Pasundan [9] : Senapati dari Kesatuan Brajanata
Balebandung.com – Tetapi memang orang itu layak menjadi pemimpin kelompok kecil para durjana itu. Hanya dalam hitungan detik, setelah menggeleng-gelengkan kepala dan memperbaiki letak dagunya, orang itu kembali berdiri. Matanya sudah menunjukkan bahwa ia tak punya harapan. Namun tak punya harapan sama sekali membuat orang tak pernah berhitung lagi mau apa yang terjadi sedetik nanti. Orang […]
Dipati Ukur, Pahlawan Anti-Kolonisasi Tanah Pasundan [6]: Yang Mengendap-endap di Malam Gelap
Balebandung.com – Tangan Ukur meraih tumpukan nasi, mengambilnya secomot sebelum nasi itu dibulat-bulatkannya dalam genggamannya. Nasi yang bagus, pikirnya. Sangat pulen dan tak tercerai berai dalam genggaman. Dicarinya apakah ada sambal terasi atau sejenisnya di bungkusan itu, ternyata tak ada. Sempat terbersit sedikit rasa kecewa di hati Ukur. Baginya, dan nyaris semua perjaka Sunda saat itu, […]
Dipati Ukur; Pahlawan Anti-Kolonisasi Tanah Pasundan [5]; Rumah Senapati
Balebandung.com – Tidak lebih dari tiga hari Ukur menginap di rumah Senapati Ronggonoto. Benar-benar sementara. Selain karena merasa tidak kerasan dengan suasana yang diciptakan empunya rumah, atasannya sendiri itu, keraton pun sudah menemukan sebuah rumah yang layak untuk seorang bekel seperti dirinya. Letaknya hampir di sudut benteng, dekat dengan istal kuda dan lapangan tempat para prajurit […]
Dipati Ukur; Pahlawan Anti-Kolonisasi Tanah Pasundan [4]
– Setelah jatuhnya Majapahit, ratusan tahun kemudian kerajaan-kerajaan taklukan di seluruh Nusantara bangkit memupuk kekuatan. Yang paling mencorong adalah Kerajaan Mataram, pengklaim pewaris kekuasaan Majapahit. Sementara kekuatan asing yakni Portugis, Belanda dan Inggris, mulai pula datang menancapkan kuku kekuasaan mereka. Masing-masing dengan kerakusan dan kekejamannya sendiri. Pada saat itu, di Tanah Sunda muncul kekuatan yang […]
Dipati Ukur; Pahlawan Anti-Kolonisasi Tanah Pasundan [3]
-Setelah jatuhnya Majapahit, ratusan tahun kemudian kerajaan-kerajaan taklukan di seluruh Nusantara bangkit memupuk kekuatan. Yang paling mencorong adalah Kerajaan Mataram, pengklaim pewaris kekuasaan Majapahit. Sementara kekuatan asing yakni Portugis, Belanda dan Inggris, mulai pula datang menancapkan kuku kekuasaan mereka. Masing-masing dengan kerakusan dan kekejamannya sendiri. Pada saat itu, di Tanah Sunda muncul kekuatan yang mencoba […]
Tidak Ada Postingan Lagi.
Tidak ada lagi halaman untuk dimuat.
