balebandung.com – Pagi itu ruang kelas sudah penuh ketika Oto berdiri di depan murid-muridnya. Sebagian masih anak-anak, sebagian lagi remaja yang usianya tidak terpaut jauh darinya. Di tangan kirinya terdapat beberapa lembar catatan pelajaran. Di tangan kanannya sebatang kapur.
Menjadi guru adalah pekerjaan yang dihormati pada masa itu. Tidak banyak bumiputra memperoleh kesempatan pendidikan yang cukup untuk mengajar. Bagi sebagian orang, menjadi guru berarti masa depan yang aman dan terhormat.
Namun setelah beberapa tahun menjalani profesi itu, Oto mulai merasakan kegelisahan yang sulit dijelaskan.
Ia menyukai dunia pendidikan. Ia percaya sekolah dapat mengubah kehidupan seseorang. Tetapi setiap hari ia juga melihat kenyataan yang sama. Banyak muridnya berasal dari keluarga sederhana. Mereka belajar dengan tekun, tetapi peluang yang tersedia bagi bumiputra tetap terbatas.
Di luar sekolah, kehidupan berjalan seperti biasa. Pemerintah kolonial tetap mengatur hampir seluruh aspek kehidupan masyarakat. Orang-orang pribumi bekerja, membayar pajak, dan menerima keadaan sebagai sesuatu yang tidak dapat diubah.
Oto mulai bertanya pada dirinya sendiri. Apakah tugas seorang guru hanya mengajar membaca dan menulis? Ataukah ada sesuatu yang lebih besar yang harus dilakukan?
Pertanyaan itu semakin sering muncul ketika ia bertemu orang-orang dari berbagai organisasi yang mulai tumbuh di Bandung. Kota itu berubah cepat. Diskusi politik mulai bermunculan. Surat kabar bumiputra berkembang. Kaum terdidik mulai memperbincangkan masa depan masyarakat mereka.
Untuk pertama kalinya Oto merasa menemukan lingkungan yang memiliki kegelisahan yang sama.
Di ruang-ruang pertemuan sederhana, ia mendengar pembicaraan tentang pendidikan, kemajuan masyarakat, dan harga diri bangsa. Banyak gagasan masih terdengar samar. Tetapi satu hal mulai jelas baginya: perubahan tidak akan datang dengan sendirinya. Perubahan harus diusahakan.
Dan untuk pertama kalinya sejak menjadi guru, Oto merasa bahwa ruang kelas mungkin terlalu sempit untuk semua gagasan yang mulai memenuhi pikirannya.*** bersambung







